Mengantuk yang Sopan, Idealisme yang Sopan

 

 

 

….

Saya mengikuti Diklat Prajabatan golongan III dikementerian tempat saya bekerja saat ini, Balai Diklat Kementrian Agama Banjarbaru, yang membawahi provinsi Kalimantan selatan, Kalimantan tengah dan Kalimantan Timur.

 

Mengikuti sebuah kegiatan Diklat sejujurnya sangat menyenangkan, kita seperti diberi waktu libur dari lusuhnya hari-hari kita di kantor, memberi ruang bagi kita untuk merefleksikan segala sesuatu yang terjadi dalam pekerjaan selama ini, mendapatkan hasrat kembali untuk berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai daerah dengan latar belakang dan permasalahan yang berbeda, selebihnya kita juga diberi ilmu-ilmu baru yang bermanfaat dalam arahan-arahan yang diberikan dalam perkuliahan.

 

Peserta yang berasal dari seluruh kabupaten di Kalimantan selatan Kalimantan tengah dan Kalimantan timur, dari berbagai profesi di berbagai instansi yang bernaung dibawah Kementrian Agama,  Ada calon dosen dari berbagai perguruan tinggi islam, Kristen dan hindu, calon Guru, calon Pegawai structural dan calon pegawai fungsional, seperti penghulu dan penyuluh agama dari berbagai agama, dari jenjang pendidikan yang bukan hanya S1, bahkan S2 dan S3 sebagai Kandidat Doktor, peserta pun berasal dari berbagai agama dan suku bangsa dari luasnya geografi pulau Kalimantan ini, Diklat Kementrian Agama adalah sebuah pertemuan yang berdinamika dan pluralis dari seluruh balai diklat lainnya, dan Diklat Kementerian Agama di banjarbaru adalah salah salah satu yang paling dinamis di Indonesia.

 

Dalam perkuliahan ini ada saja hal-hal menarik yang terjadi, memberi kita inspirasi atau bahkan memunculkan ide-ide brilian yang tak disangka-sangka muncul dalam ungkapan logika yang betul-betul menyenangkan bagi kita semua.

 

Suatu siang yang melelahkan, seluruh kelas kelihatan mengantuk, lelah lelah karena kegiatan dalam sepuluh hari lebih ditempat ini yang menyita hampir empat belas jam untuk sebuah kegiatan, dua belas jam pelajaran dilakukan dalam kelas, duduk yang melelahkan, kadang membosankan. Rindu kepada keluarga adalah siksaan tersendiri, dan sudah dimaklumi bagi yang berkeluarga ada kebutuhan yang harus ditunda. Di lain sisi, bagi yang belum berkeluarga diklat ini adalah sarana pencarian pasangan yang ditunggu-tunggu.

 

Disebuah kegiatan kelas, dosen fasilitator kami yang baik dan ceria tanpa lelah dengan sabar memberi materi. Beliau adalah seorang wanita paruh baya yang kuat dalam memegang prinsip, beliau mengajar kami dengan sangat baik, sebuah materi tentang komunikasi yang efektive, komunikasi yang memelurkan sebuah  sopan santun, ibu dosen kami dengan terus terang memahami lelah yang kami rasakan disiang itu, lelah yang kami rasakan rasanya tak terbendung lagi, Dan kami seperti terus tidak dapat melawan kantuk kami.

 

Teman saya, seorang yang saya hormati, mempunyai banyak pengalaman dalam perjalanan menuntut ilmunya dinegeri orang, telah juga terkantuk-kantuk, dan saya sama seperti dia terkantuk-kantuk dengan kesulitan tersendiri, saya melihat keseluruh kelas yang berjumlah empat puluh orang, hanya beberapa orang yang tidak terkantuk-kantuk.

 

Sebuah sesi Tanya jawab rupanya dibuka, hal yang ditunggu-tunggu oleh semua peserta, dan beberapa pertanyaan telah mulai di utarakan, kantuk kami mulai hilang karena memperhatikan sesi Tanya jawab yang selalu menarik, kadang kami tertawa dengan berbagai gaya dan bentuk pertanyaan yang unik dan lucu.

 

Akhirnya teman saya itu dengan tiba-tiba mengangkat tangan, tanda bahwa dia ingin mengutakan sesuatu di forum Tanya jawab ini. Ibu fasilitator kami dengan tanggap dan senyum yang manis mempersilahkan kepada teman saya untuk berbicara.

 

Teman saya memulainya dengan uraian datar, bahwa ada banyak sopan santun yang harus kita lakukan dalam hidup ini, termasuk juga sopan santun khusus dalam kegiatan atau acara tertentu, dalam banyak hal sudah ada etika atau sopan santun baku dalam pergaulan international yang menjadi referinsi kita semua. sopan santun adalah bagian dari komunikasi yang sangat krusial dalam keberhasilan komunikasi tersebut. Diklat ini adalah salah satu contohnya, seperti terlihat, hampir semua peserta kelihatan mengantuk, dan kelihatan juga bahwa para peserta untuk menghargai acara ini berusaha sekuat tenaga untuk tetap menahan kantuk, meski sebagian yang lain malah sudah larut dalam tidur dengan gaya masing-masing, ketika melakukan pertanyaan ini pun kita memulainya dengan sopan santun, mengungkapkan pertanyaanpun harus dengan kata-kata yang sopan dan santun. Maka seperti kasus dikelas ini, kantuk adalah hal manusiawi dan sangat wajar terjadi ketika tubuh fisik kita mulai terasa lelah, sesuatu yang kita akui bersama sangat sulit dihindari oleh siapapun orang itu, pertanyaannya adalah apakah dalam acara formal seperti ini sudah ada sopan santun standar untuk mengantuk, dengan lain kata bagaimana kah cara mengantuk yang sopan itu?

 

Kelas pun menjadi heboh dengan tawa, semua orang terbangun dari tidurnya, ini adalah pertanyaan unik, dengan logika sederhana yang sejujurnya memberikan kita inpsirasi dalam banyak hal dalam memberikan solusi di permasalahan lainnya.

 

Ibu dosen fasilitator pun tertawa dengan senang dan mengapresiasinya, pertanyaan unik ini adalah kejutan,, kejutan bagi kita semua.

Diklat, sekali lagi adalah ajang kita untuk dididik dan dipersiapkan menjadi pegawai negeri sipil yang paripurna, tempat kita dipangcing untuk berpikir kritis, agar kita siap menghadapi tantangan ke depan sebagai pelayan publik yang berkwalitas, kritis bukan hanya kritik tapi juga pujian serta apresiasi yang diungkapkan bagi sesuatu hal yang dikritisi tersebut. Kritis  dalam defenisi yang saya pahami adalah seperti itu, kritis bukan hanya kritik, kritik adalah bagian dari kritis, kita mengkritik bila hal kita anggap ada yang salah dan kita memujinya bila hal itu adalah sebuah kebenaran dan prestasi yang baik, kritis adalah cara mengungkap dan pemberian nilai yang seimbang, kritis adalah salah satu bagian terpenting dalam membentuk pola pikir kompentensi yang baik untuk kemajuan bangsa ini dan khususnya untuk  aparatur Negara kita tercinta ini. Meski untuk sebagian yang lain, kritis adalah salah satu hal yang paling menakutkan untuk didengarkan. Kita harus mengubah pemahaman kita tentang defenisi kritis ini.

 

Idealism adalah momok yang menjadi dilema, idealisme dipandang sarana prinsipil yang paling krusial dalam memperbaiki keadaan saat ini, idealism oleh sebagian orang telah dianggap mati dan bukan lah hal yang berguna dalam pragmatism kultur dunia kerja aparatur Negara saat ini. Disisi lain idealime tetap dianggap senjata moral paling ampuh untuk  keadaan saat ini, pertarungan kedua cara pandang ini seperti pertempuran hebat yang keras dan memakan korban. Dan Idealism tetap menjadi harapan satu-satunya yang terus didengungkan tanpa henti.

 

Mengantuk yang sopan kembali memberi saya sebuah inspirasi, seolah-olah logika dari pernyataan ini menjadi embrio untuk memberikan sintesa baru, saya memimpikan dapat menghadirkan sebuah jalan tengah, sebuah solusi cerdik yang menyenangkan, sehingga orang-orang menjadi lebih tertantang untuk berani menampilkan idealismenya.

 

Ibu dosen fasilitator yang baik hati itu di kemudian hari, dipertemuan selanjutnya, sempat bercanda dengan menyebut kalimat “marah yang sopan”, ini menarik bukan?…kita akan terbayang dengan gaya sindiran lembut dan kata-kata ungkapan kemarahan yang manis dari para bangsawan inggris, haaa itu lah dia…saya menawarkan konsep teknis “idelisme yang sopan”.

Idealisme yang sopan, iya, saya teringat seorang atasan saya, seorang yang dulu sangat idealis dalam memegang prinsip, dia keras dan kaku, dan itu membuat dia tersingkir. Dalam sebuah pembicaraan informal akhirnya dia menyadari bahwa idealisme itu rupanya memerlukan sebuah etika, “idealisme memelurkan etika”, dan untuk aplikasi sebuah idealism yang penuh tantangan ini kita harus bermain dengan sopan, idealism yang sopan adalah anak kandung dari mengantuk yang sopan.

 

Seorang pegawai di Balai Diklat pernah memberi sebuah pendapat bahwa golongan III adalah para sarjana terpilih, yang mana daya kritisnya harus terus dipertahankan dan harus bisa mengaplikasikan idealismenya untuk bisa menghadapi tantangan jaman dan menjadi aparat yang bisa berkompentensi lebih baik untuk kemajuan bangsa kita tercinta ini. Saya jadi teringat sebuah adigum umum dimasyarakat, jika kita ingin mengkritik maka harus kritik yang membangun, sebenarnya kita juga harus mengubah pola pikir seperti ini, saya sudah mendengar adigum ini sedari kecil dan selama itu juga tidak banyak berguna dalam memperbaiki keadaan, kritik yang membangun adalah kata lain dari sebuah pujian, dan pujian tentu tidak banyak berguna untuk memperbaiki keadaan saat ini kecuali hanya kesenangan atas pujian itu sendiri.

 

Diklat ini telah berhasil menjadikan kami menjadi lebih optimis menghadapi tantangan kedepan, pluraritas peserta yang ada dikelas, baik dari pengalaman bekerja sebelum menjadi CPNS dan pendidikan yang pernah diperoleh, serta dinamika diskusi yang egaliter dengan kultur akademik yang memadai menjadikan inspirasi datang dengan cerahnya. Saya harus mengakui secara subyektive bahwa Diklat kementrian Agama adalah salah satu yang terbaik di Negara kita ini, dan pantas di contoh oleh Diklat Kementrian lainnya. Diklat Kementrian Agama sedang mempersiapkan regenerasi aparaturnya menjadi salah satu yang terbaik untuk membawa negeri ini menjadi lebih baik.

 

Sekali lagi idealisme yang sopan adalah anak kandung dari mengantuk yang sopan. Saya tidak akan mengupas idealisme yang sopan secara lebih dalam saat ini, tapi nanti, ketika kantuk saya sudah hilang, saya akan menuliskan dengan baik akan hal ini.

Jodoh Terkekang Status Sosial

 

panganten banjar, kalsel,publicnature.blogspot.com

panganten banjar, kalsel,publicnature.blogspot.com

ini sebah cerita nyata, saya mendapatkan undangan perkawinan dari mantan kepala sekolah saya diwaktu saya mengajar dahulu. teman saya yang bernama samaran Amat Gandut meminta saya untuk menjemputnya agar pergi bersama-sama ke undangan tersebut. Sesampainya dirumahnya, maka terjadilah sebuah pembicaraan tentang pernikahan yang direncanakan amat gandut untuk dirinya sendiri.

Amat gandut bercerita dengan sungguh-sungguh bahwa dia ingin sekali menikah di tahun depan, dan saat ini dia gencar ingin mencari calon yang tepat buat dia. Tapi ada satu masalah, dia terkendala status sosialnya. Sebagai seorang yang mempunyai gelar kesejarnaan strata satu, maka dia juga menginginkan seorang pendamping yang minimal selevel dengan dirinya, pertimbangannya adalah untuk tidak ditertawakan teman-temannya nanti, karena istri merupakan sesuatu yang harus dibanggakan. Teman-temannya tidak akan menanyakan apakah dia mencintai istrinya, atau apakah istrinya cantik atau tidak, tapi yang pasti akan ditanyakan adalah dimana istrinya bekerja sebagai apa dan dimana. Hal ini lah yang membuat dirinya sangat pusing, mengingat jika salah memilih istri maka dia akan ditertawakan dan tidak dihargai oleh teman-temannya, itu akan menghancurkan harga dirinya.

Saat mendengarkan amat gandut ini berbicara, saya sedang terkena selesma, ingus cair terus saja mengalir di hidung saya, mata saya berair memerah, dan tubuh saya terasa demam, namun saya tetap tertarik mendengarkan teman saya ini bercerita. Dan sambil menggaruk-garuk kepalanya, teman saya itu berbisik kepada saya, bahwa sebenarnya dia saat ini sedang jatuh hati dengan seorang gadis penjaga toko alat tulis diperempatan kota.

Saya menyela, mengapa dia tidak mengambil gadis penjaga toko tersebut sebagai calon istrinya, dan dia kemudian dengan tegas mengatakan disana lah masalahnya, apakah gadis penjaga toko itu pantas dan cocok dengan dia?..matanya memandang saya seolah ingin mendapatkan jawaban dari saya, saya merasa tidak nyaman jika diminta jawaban seperti ini, tapi secara singkat saya berceletus kepadanya bahwa saya tidak akan mengijinkan teman-teman saya yang mengatur masalah kebahagian hati saya.

Dan dengan murung amat gandut saya itu mengatakan ini lah susahnya jika jodoh terkekang status sosial. Mendengar kata-kata Amat Gandut seperti itu saya langsug saja tertawa terbahak-bahak, dan ingus cair saya keluar dari hidung saya tanpa saya sadari lagi.

Akhirnya saya bertanya kepada amat gandut, wanita seperti apa yang dia inginkan untuk menjadi istrinya, amat gandut memilih wanita yang berprofesi sebagan PNS (pegawai Negeri Sipil), dia berargumentasi bahwa PNS adalah pekerjaan paling prestius saat ini, didaerah kami ini, di provinsi kami ini. Teman-temannya sekali lagi tidak akan peduli apakah istrinya cantik atau tidak, kaya atau tidak, atau mencintai istrinya atau tidak, tapi teman-temannya akan memujinya dan tidak akan merendahkannya ketika dia mendapatkan istri yang bekerja sebagai seorang PNS. Dan juga masyarakat pun akan menghormatinya karena berhasil mendapatkan istri seorang PNS, statusnya sebagai sarjana akan tetap jaya.

Amat gandut sebenarnya seorang yang kritis, lulusan sebuah universitas ternama di provinsi ini pada jurusan khusus dengan beasiswa penuh dari universitas, tapi dengan sadar diri dia mengakui bahwa dia tidak mampu menahan atau melawan arus pola pikir umum dimasyarakat saat ini.

Untuk itu, saya mengatakan kepada amat gandut, bahwa saya tidak akan mengejeknya jika dia mempunyai istri yang bukan PNS, saya akan mendukungnya sebagai teman yang baik. Amat gandut cenderung bingung dengan perkataan saya, amat gandut tahu bahwa saya adalah lulusan sebuah universitas ternama di pulau jawa, tapi dalam hal ini dia tetap menyarankan kepada saya agar tidak melawan arus masyarakat, dia kawatir masyarakat akan tidak menghormati saya jika saya salah memilih istri.

Saya mengatakan kepada amat gandut jika saya tidak pernah mengejek teman karena profesi istrinya, sebagai laki-laki, pundak tanggung jawab keluarga sebenarnya ada dipundak kita, dan kebahagian adalah hak kita sendiri dalam mendapatkan dan menjalaninya. Dalam pertemanan saya, sepertinya tabu dan tanda sebuah ketidaksopanan mempertanyakan status istri, kita harus menghormati pilihan seseorang selama itu adalah sebuah kebaikan, kebebasan dalam hal ini merupakan penghargaan yang sangat manusiawi. Benar sekali kita mendapati sebuah analisis dari Nabi dalam hadistnya bahwa pernikahan seseorang itu biasanya cenderung berdasarkan empat hal yaitu karena kecantikannya, karena keturunannya, karena hartanya dan karena agamanya. Dalam tradisi pun kita mendapati sebuah adigum bibit bobot yang ketat untuk memilih calon pasangan. Saya hanya ingin mengatakan kepada amat gandut bahwa ada sebuah pandangan lain terhadap permasalah memilih pasangan ini, dan dia tidak harus terlalu kawatir dengan perkataan teman-temannya dan penilaian masyarakat, tentu saja masyarakat selalu bisa menilai namun dalam permasalahan rumah tangga, kita sendiri yang menjalani dan merasakannya.

Amat gandut sedikit berpikir, terlihat dari gaya duduknya yang serius, dan saya kawatir jika teman saya ini menjadi tersinggung akan perkataan saya diatas, saya lalu mengatakan dalam memilih pasangan ini rupanya tidak hanya satu konsep, ada konsep bahwa pasangan harus bisa menghalau ejekan teman dan mendapatkan pujian, ada juga konsep bahwa pasangan adalah hak priogative kita sendiri, itu salah satu kebahagiaan kita sendiri, dan kemungkinan untuk konsep lain juga ada, untuk semua itu kita bebas memilihnya yang mana kita rasa suka dari konsep-konsep itu.

Kepala saya menjadi pusing membicarakan hal ini, apalagi ketika sadar bahwa kami berdua masih sama-sama bujangan. Saya tahu, amat gandut gelisah karena melihat orang lain menikah dia juga ingin menikah. Saya pun juga merasakan hal yang sama sebenarnya.

Tidak lama kemudian kami berangkat menuju undangan, amat gandut makan banyak di undangan tersebut, saya merasa tubuhnya akan bertambah gendut lagi.

………………….

 

Novel-novel yang paling saya sukai

dari google wiyek.blogspot.com

wiyek.blogspot.com

………

Saya masih ingat nasehat salah satu dosen saya, dosen muda yang kebetulan satu alumni sekolah menengah atas dengan saya, saya mengeluh karena saya merasa sangat bosan dengan kuliah-kuliah saya, dosen saya itu lalu tertawa, dan menyarankan agar saya lebih banyak membaca novel, “kamu memang perlu pacar baru” demikian kesimpulan nasehat dosen saya itu, maksud pacar baru itu adalah kesenangan yang baru, sesuatu yang baru dan menyenangkan untuk dibaca.

Seperti juga teman-teman saya dikampus, kami mempunyai masalah yang sama, yaitu biaya hidup dan kuliah yang pas-pasan, tapi beruntungnya kota ini, yogyakarta, mempunyai sarana yang sangat memadai untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar, bukan hanya iklim belajar yang nyaman, tapi juga harga buku-buku yang murah dan perpusatakaan besar yang banyak.

Saya beruntung mempunyai teman-teman dekat yang bisa menasehati saya tentang buku-buku terbaik untuk dibaca, akhirnya saya belajar menikmati sastra, musik dan film dengan mengikuti kebiasaan mereka. Ini dunia baru yang sebelumnya tidak saya kenal sama sekali. Seterusnya mau tidak mau kita harus memenuhi rasa penasaran dengan memperluas wawasan dalam sejarah, seni dan budaya, dan tentu saja filsafar. Untuk itu yogyakarta menyediakan buku-buku yang murah dan bervariasi, dan bagi yang tidak mampu secara financial maka tersedia perpustakaan-perpustakaan besar dan kecil untuk mendapatkan buku-buku terbaik itu.

Sejujurnya saya bukan lah pembaca active yang baik, maksud saya, saya bukan lah seorang kutu buku yang keterlaluan, apalagi terhadap novel, tapi saya sama seperti orang-orang lain juga bahwa membaca novel itu adalah sesuatu yang menyenangkan.

Berikut adalah beberapa novel yang sangat saya sukai yang terkadang masih saya baca kembali:

1. Yusuf dan Zulaikha karya Hakim Nuruddin Abdurahman Jami

“Tuhan, Biarkanlah sekuncup mawar harapan mekar dari taman-taman abadi, untuk merahmati taman saya dengan senyum dan harumnya yang membawa perasaan saya kepada kebahagiaan”
In adalah kalimat pembuka untuk novel ini, kalimat munajat nan indah dari Jami atas karyanya ini.

Novel yang berdasarkan dari cerita romantis lama Yahudi tentang nabi Yusuf dan istrinya zulaikha, dan Al-Quran menyebutnya sebagai sebaik-baik kisah dan kemudian mengabadiakannya dalam sebuah surah panjang didalamnya. Dalam novel ini anda akan mendapati gaya bercerita yang akan membuat anda seolah-olah merasa terbang, kata-kta yang dirangkai Jami sangat lah indah. Saya membeli buku ini pertama kali juga sewaktu Sekolah menengah Atas, saya membelinya dari seorang teman.

2. Sang Nabi, karya Kahlil Gibran

“Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kautempuh keras dan terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu”

Karya utama dari Kahlil Gibran ini sangat mengagumkan, Ini adalah novel pertama yang saya beli sewaktu masih kelas dua sekolah menengah atas, anda yang pernah membaca buku ini tentu akan mengerti mengapa novel pendek ini akan selalu menarik dibaca berulang-ulang.

3. Bumi manusia, karya Pramodya Atanta Toer
“Pekerjaan pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. Kalau seorang murid di luar sekolah telah menjadi pribadi berkemanusiaan seperti Minke, sebagaimana dibuktikan dalam tulisan-tulisannya terakhir, kemanusiaan sebagai faham, sebagai sikap, semestinya kita berterimakasih dan bersyukur, sekali pun saham kita terlalu amat kecil dalam pembentukan itu. Pribadi luarbiasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-syarat luarbiasa seperti halnya pada Minke. Maka usulku: hendaknya dia diterima kembali sebagai siswa untuk dapat memberikan padanya dasar yang lebih kuat bagi perkembangannya di masa-masa mendatang.”

saya menyukai seluruh karya Pramodya Atanta Toer. Empat jilid dari Tirtalogi Bumi manusia,serta novel yang berlatar belakang jawa Klasik Aroek Dedes, dan Arus balik, sebuah buku tebal hampair 800 halaman yang menceritakan masa-masa akhir dari kejayaan majapahit, adalah novel-novel utama yang saya baca, novel-novel hebat yang pernah dibaca oleh anak bangsa. Saya menganggap novel-novel ini wajib dibaca.

4. Mrs. Dalloway karya Virgiana wolf

“I feel certain that I am going mad again. I feel we can’t go through another of those terrible times. And I shan’t recover this time. I begin to hear voices, and I can’t concentrate. So I am doing what seems the best thing to do. You have given me the greatest possible happiness. You have been in every way all that anyone could be. I don’t think two people could have been happier ’til this terrible disease came. I can’t fight any longer. I know that I am spoiling your life, that without me you could work. And you will I know. You see I can’t even write this properly. I can’t read. What I want to say is I owe all the happiness of my life to you. You have been entirely patient with me and incredibly good. I want to say that — everybody knows it. If anybody could have saved me it would have been you. Everything has gone from me but the certainty of your goodness. I can’t go on spoiling your life any longer. I don’t think two people could have been happier than we have been.”
Ini adalah surat yang ditulis virgiana wolf untuk suaminya sebelum virgiana wolf bunuh diri, menjadi pembuka dalam novel ini.

Saya mendapatkan novel ini dari sebuah lemari yang pemiliknya telah pulang kampung, saya menyimpan bukunya dan mulai membacanya, saya membutuhkan waktu enam bulan untuk menyelesaikan seratus halaman lebih sedikit dari novel ini, saya begitu kesusahan membaca novel ini karena sebelumnya saya tidak pernah membaca gaya penceritaan seperti dalam novel ini, Virgiana adalah perintis awal dalam gaya penceritaan seperti ini, meskipun novel yang dibaca adalah versi terjemahan, saya jatuh cinta dengan novel klasik inggris ini. Orang-orang mengatakan novel ini adalah yang terbaik untuk bisa memasuki karya-karya besar Wolf yang lainnya.

5. Hari Terbunuhnya sang Presiden, karya Naguib Mahfoudz

‘saya adalah putera dua peradaban; Fira’aun dan Islam dan peutera perkawinan keduanya yang telah menjadi makmur dengan keadilan, keimanan dan ilmu pengetahuan”

Ini adalah sebuah kalimat yang diambil dari pidato Naguib Mahfoudz dalam acara penghargaan Nobel sastra untuk dirinya.

Dari sekian banyak karya Naguib Mahfoudz, Hari Terbunuhnya Sang Presiden adalah salah satu yang paling saya suka, berlatar belakang kehidupan masyarakat mesir diakhir-akhir masa kekuasaan presiden Anwar Sadat, membaca novel ini terasa kentara dengan kehidupan masyarakat indonesia saat ini yang penuh kesusahan dan ketidakpastian.

6. Timur leng, karya Harodl lamb

‘Lima ratus tahun yang lalu seorang laki-laki telah mencoba untuk mengangkat dirinya menjadi penguasa dunia. Ia berhasil dalam apa saja yang ia coba, orang ini kini kita sebut Timurleng’
Itu lah kalimat pembukaan dari novel ini. Yang ditermahkan oleh Asrul Sani dengan apik.

Ketika orang tahu bahwa ayah saya bekerja sebagai polisi, hampir semuanya bertanya kenapa saya tidak menjadi polisi, saya hanya tersenyum dan tidak menjawab, sebenarnya sebagian dari keluarga besar saya yang tua bekerja sebagai angkatan bersenjata baik di Indonesia maupun Malaysia, meski dikalangan muda tradisi itu tidak dilanjutkan lagi. Saya sudah dididik dengan sedikit rasa militer sedari kecil dan sewaktu sekolah menengah atas pun kami dididik dengan disiplin ketat, ini yang membuat saya memberontak, saya tidak senang lagi dengan hal-hal yang kaku, itu membosankan. Militer itu bukan hanya masalah fisik, militer itu juga adalah masalah ideologis, saya merasa sampai sekarang pikiran saya masih sedikit militerism, beberapa teman saya mengkritisi dengan keras perilaku saya yang seperti itu. intinya begini, dalam masa damai seperti ini saya tidak ingin menjadi militer, tapi jika terjadi perang maka saya akan dengan sukarela menjadi militer. Saya ingin menikmati kebebasan ini.

Nah novel ini seperti sebuah biografi salah satu Penakluk dunia terbesar terakhir dari Tanah Asia , seorang keturunan jengis khan yang beragama Islam, seorang yang berasal dari kepala suku kecil, seorang penakluk palik menakjubkan. Saya selalu menyukai hal-hal berbau perang, membuat hati saya menjadi dingin.

7. Desersi. karya M.T.H. Perelaer

‘ Tapi masih ada utang darah lain diantara kita. Ketika saya menyerang rombonganmu, saya bermaksud mengambil kepala-kepala kalian. Selama permuluan itu salah saeorang aggotamu mati terbunuh, beberapa orangku sendiri lenyap—darah dibalas darah”

Novel yang diterbitkan pertama kali ditahun 1861 ini merupakan sebuah novel paling menarik dari borneo, berlatar belakang perang Banjar, perang banjar sendiri merupakan perang paling panjang terhadap belanda di Nusantara ini. Novel ini bisa jadi pembuka bagi anda yang ingin memahami pulau Kalimantan. Tentu saja disini diceritakan beberapa bentuk keji pemenggalan kepala. Novel ini sangat menarik dan memberikan kita gambaran Kalimantan jaman dulu yang tidak banyak kita ketahui, novel ini bisa jadi salah satu novel paling tua yang bisa kita temukan mengenai nusantara.

Buku-buku diatas adalah buku yang secara pribadi sangat saya sukai dan sedikit banyak mempengaruhi saya sampai saat ini, buku-buku itu kebanyakan terjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia, sebenarnya masih banyak buku yang saya baca, tapi saya tidak akan menceritakannya disini, mungkin lain waktu.

Anda juga pasti mempunyai buku-buku yang anda sukai dan mempengaruhi anda bukan?..berbagi lah, buat lah saya tertarik agar saya juga membacanya.

Saya berharapa saya akan menyukai beberapa buku lagi, saya berharap, saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan buku-buku itu suatu hari nanti.

cerita tentang Nenek

Tadi saya membayar dengan cicil hutang saya kepada nenek, setelah beberapa bulan tidak saya bayar, karena tidak punya uang.

Nenek saya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hasil  beberapa pohon  kelapa dibelakang rumah. Ada seorang laki-laki setengah baya yang nenek saya sering meminta tolong kepadanya untuk mengambilkan buah kelapa, dan di beri upah secukupnya, beberapa ribu rupiah per-pohon. Dan hampir setahun yang lalu lelaki itu mati setelah terkena penyakit, penyakit yang sebenarnya bisa sembuh jika dia punya sedikit uang dan kemauan untuk tetap dirumah sakit selama beberapa hari lagi, tapi waktu itu pemerintah daerah terkena kemelut politik yang berdampak tidak cairnya uang jaminan kesehatan daerah, maka matilah lelaki setengah baya itu, lelaki miskin yang pendiam, rajin kemesjid setiap magrib dengan pakaian rapi, lelaki setengah baya yang badannya masih kekar dan bugar itu meninggalkan istrinya dan anak-anaknya yang masih sangat kecil, lelaki itu adalah keluarga jauh kami. Dan nenek saya kehilangan teman bicaranya dalam masalah kelapa yang biasanya setiap beberapa hari ada saja yang diambil buahnya.

Saat ini nenek saya sedang sakit, dan ketika sakit pun beliau masih suka berjalan ke rumah anak-anaknya, melihat cucu dan buyut-buyutnya, susahnya beliau ditegur untuk istirahat. Umur yang sudah lebih dari 90 tahun adalah masa kesepian, tidak ada lagi teman sebaya untuk diajak bicara, bahkan teman-teman dibawah beliau pun sudah banyak yang pulang kerumah-Nya. Kami mengerti kesepian yang membosankan bagi beliau, kadang disiang hari beliau masih suka meluangkan waktu untuk mengaji, suara beliau yang bagus dengan lagu bacaan mengaji yang khas orang jaman dulu, yang saya saja tidak bisa menirunya.

Panjangnya umur nenek saya dan masih segarnya ingatan beliau adalah berkah tersendiri bagi kami, dan saya biasanya masih senang mendengarkan cerita-cerita beliau dalam menjalani hidup dalam tahun-tahun yang panjang.

Nenek saya selalu meringis seperti ingin menangis, bila bercerita bahwa beliau tidak pernah bertemu dengan ayah kandungnya, ketika orang tua bercerai diwaktu beliau masih bayi, walau pernah beberapa kali kakek buyut saya ingin menemui nenek saya tapi selalu saja salah waktu dan tempat, ketika kakek buyut saya dengan sengaja datang ke kampung nenek saya, nenek saya malah sedang pergi kesuatu tempat, nenek saya bercerita bahwa kakek buyut saya selalu sangat sedih dan menangis ketika tidak berhasil menemui anak gadisnya.

Ini adalah cerita tentang kasih sayang orang jaman dulu, yang menurut saya penuh dengan cerita-cerita yang mengharukan dan ketulusan, meski kadang dilihat dari kacamata orang jaman sekarang akan sangat mengerutkan dahi.

Nenek buyut saya, ibu dari nenek saya adalah salah seorang gadis yang paling cantik di kampung dijaman itu, anak dari seorang haji, dari keluarga yang terhormat dikampung ini.

Nenek buyut saya menikah dengan seorang saudagar kaya, seorang lelaki bertubuh kecil pedagang kain dari kampung didekat pegunungan meratus, lelaki itu adalah seorang haji, keturunan dari salah satu keluarga ulama paling besar di tanah banjar, sayangnya lelaki kecil itu sangat suka kawin, jarang kurang dari empat, nenek buyut saya itu entah istri yang keberapa, nenak saya pernah mengatakan bahwa diwaktu kecil beliau pernah diberitahu nenek beliau dari pihak ayahnya bahwa beliau mempunyai sekitar dua puluh dua orang saudara seayah, yang tersebar banyak dimana-mana, dan kemungkinan masih ada anak yang lain lagi itu masih ada.

Nenek buyut saya bercerai dengan kakek buyut saya untuk kedua kalinya ketika kakek buyut saya pamit ingin merantau berdagang bersama istri mudanya, membuat nenek buyut saya melemparkan air ke muka kakek buyut saya karena sakit hati akan ditinggalkan pergi, sedang waktu itu nenek saya baru lahir sebagai buah hati pernikahan kedua mereka setelah rujuk. kakak perempuan nenek saya yang seibu seayah dibawa ikut merantau yang sesekali pulang kekampung untuk menemui nenek buyut saya.

Kata nenek saya jaman dulu tidak ada istilah pacaran, karena itu terlarang, pacaran bisa membuat nyawa melayang, sangat aib bagi sebuah keluarga jika perempuan mereka sampai diganggu laki-laki, maka biasanya akan ada salah satu anggota keluarga yang akan turun untuk membunuh lelaki pengganggu itu, tapi jika mau menikahi, maka akan disambut dengan tangan sangat terbuka, itu juga akhirnya biasanya laki-laki dan perempuan akan menikah muda, dan apabila bercerai, itu dengan baik-baik pula, nenek saya saja punya tiga orang suami hehe,, ada sebuah tempat ditengah sawah yang ditumbuhi sebuah pohon lurus, tempat itu sangat terkenal sebagai pohon berdarah, karena disana tempat tewasnya dua laki-laki anak beranak ketika berkelahi dengan seorang lelaki pengganggu perempuan keluarga mereka.

Nenek saya tinggal dirumah yang keluarga saya tempati saat ini,dulu ini rumah banjar besar, tapi sekarang hanya tinggal seperempat saja lagi, nenek saya dipelihara oleh buyut perempuan beliau yang sudah sangat tua, nenek saya bercerita bahwa nenek buyutnya jika berjalan akan bungkuk karena sudah tua, sedangkan nenek dari nenek saya sudah lebih dulu meninggal, dan ibu dari nenek saya sedang mengikuti suami barunya dikampung lain bersama adik-adik nenek saya yang seibu .

my own pic

Mariaban

Ini tidak biasa, ketika orang-orang sudah mulai menjadi rebut, sebagian berlari ketakutan,

‘kukunya keluar memanjang, taringnya keluar” kata Ahmad tergesa-gesa keluar dari rumah

Aku langsung menjadi gugup, ini siang hari, tidak mungkin keluar disiang hari…

Acara mengkafani mayat itu pun jadi tertunda, Haji Sayuti kepala desa kami bergegas masuk ke dalam ingin melihatnya, aku pun ikut dibelakangnya.

Dikamar itu hanya tinggal beberapa orang saja, orang-orang tua yang tadi memandikan mayat itu, dan sekarang mereka hanya duduk saja disekitar mayat itu, sambil mengisap rokok mereka masing-masing dengan santai.

Haji sayuti meminta agar penutup mayat itu dibuka, agar dia bisa melihatnya, ternyata benar, kukunya memanjang, berwarna hitam, bulu-bulu keluar disekitar lenganya, dan sepasang gigi taring muncul dimulutnya.

“Mariaban” kata haji sayuti lemah dan gugup..

Orang tua disekitar yang berada disekitar mayat itu mengiyakan, mereka hanya tersenyumm tenang,seolah itu bukan masalah, mungkin meeka sudah sering menemui keganjilan seperti ini.

Haji sayuti membisiku agar cepat-cepat menjemput Tuan Guru Haji Muhammad Ilmi dikampung sebelah, sedang dia tetap disana menjaga mayat itu.

Segera aku keluar dari rumah itu, aku panggil ahmad untuk menemaniku, kami berangkat dengan gugup.
++++

kami tidak menyangka, junaidi yang pendiam itu menjadi seperti itu setelah dia meninggal, junaidi meninggal karena sakit, bukan karena berkelahi atau apa, ahmad yang aku bonceng dibelakang sepeda motor hanya terdiam, ahmad adalah keluarga junaidi, dia pasti merasa malu dengan kejadian ini.
++++

Mariaban, siapa yang tidak bergetar nama itu, semua orang takut, sedari kecil aku sudah mendengarnya, hantu yang paling ditakuti ditanah banjar hulu sungai, bahkan seorang yang menelan bulu hantu mariaban itu sudah menjadi hantu ketika dia masih hidup, apalagi sampai terbawa mati, ah aku takut membayangkannya…

Jalan terasa sunyi, awan telihat mendung, dan angin berhembus semakin teasa lebih kencang, ini semakin membuat kami gugup, sebentar lagi waktu ashar tiba, kami juga takut acara sembahyang mayat dan penguburan menjadi terlambat.

Dalam sepeuluh menit kami sampai ke rumah tuan guru Muhammad ilmi, Ahmad masih diam gugup, aku meletakkan sepeda motorku di pinggir jalan didepan rumah tuan guru, langsung saja aku mengetuk rumah itu,

“Assalamualaikum”…aku memberi salam, pintu rumah itu sudah terbuka, rumah yang tepat luas, diseberangnya sungai besar dengan air bewarna kuning mengalir tenang.

“Waalaikum salam”..sahut amat yusuf, anak tuan guru yang masih muda
‘Tuan Guru ada dirumah?”..kataku ku langsung saja tanpa basa basi…

“ada,’..kata amat bingung melihatku, “ naik dulu kerumah, sebentar ulun panggilkan abah”

Amat setengah berlari ke dalam, sedang kami hanya menunggu diluar, tidak lama tuan guru keluar, hanya memakai sarung dan kaos omblong putih,

“ ada apa kusasi? naik lah dulu”
“tidak usah guru, junaidi guru, junaidi”..

Aku seolah tidak sabar ingin segera memberitahukannya kepada tuan guru itu, aku masih gugup, ahmad masih diam tak bersuara dan pucat.

“Iya ada apa” tuan guru menjadi bingung..

“Mariaban guru”

“Astagfirullah” tuan guru itu terkejut, tanpa banyak bicara tuan guru menyuruh anaknya mempersiapkan sepeda motornya, beliau pergi berlari kedalam kamarnya, mengambil pakaian dan tasnya, tidak lama kemudian kami berangkat.
+++++

Junaidi adalah orang yang baik, pendiam, tidak pernah membuat masalah, dia masih bujangan berumur dua puluh lima tahun, bekerja serabutan sebagai buruh bangunan saja, dia sebenarnya baru saja pulang ke kampung setelah beberapa tahun merantau sebagai penebang kayu dipedalaman Muara Teweh kalimantan tengah. Setelah sakit, dia kembali ke kampung, tapi kami tak menyangka dia akan seperti ini, tak menyangka.

Tuan Guru Haji Muhammad Ilmi langsung saja naik kerumah mayat, Haji sayuti menyambutnya dan membisikan sesuatu yang tidak kami dengar apa, dengan cepat Haji Sayuti menuntun Tuan guru Muhammad Ilmi melihat mayat Junaidi, Mayat itu semakin menghitam.

Tuan guru Haji Muhammad ilmi sangat menyayangkan kenapa tidak sedari hidup dulu bulu mariaban yang ditelan Junaidi itu dibuang, tidak adakah seseorang yang memberi dia peringatan sedari awal.

Para perempuan dengan khusu masih membacakan surah yasin di rumah sebelah, terdengar riuh, sebagian dari mereka menyaman daun kelapa tua untuk diletakkan diatas kubur.

Tuan guru Haji Muhammad Ilmi meminta kami menyediakan sebaskom air putih, kemudian beliau mengeluarkan sebuah jarum besar dari tasnya, jarum emas kukira, sejenak tuan guru Muhammad ilmi membaca doa, meniupkan ke air baskom dan kemudian memercikkannya keatas mayat itu. Kami terdiam dan tegang melihat itu.

Sambil membaca doa tuan Guru Haji Muhammad Ilmi menangangkat tangan tangannya diatas mayat junaidi dari kepala sampai kaki, beberapa kali beliau melakukannya bulak-balik,tangan beliau selalu bergetar ketika tepat berada diatas kaki kiri mayat junaidi, kemudian beliau membuka penutup kaki mayat Junaidi.

Tuan guru Haji Muhammad ilmi memandangi kami,

“Tolong Bantu aku, bendanya ada terselib diantara jari-jarinya ”
“Iya guru, tapi bagaimana?” sahut Haji Sayuti
“Haji sayuti. ikam pegang kakinya nanti, pakai kain sebagai sarung tanganmu, yang lainnya ambil beberapa bilah kayu atau papan diatas badannya, untuk menahan badannya, jika mayat ini bergerak nanti, mudahan-mudahan tidak bergerak, ayu cepat”

Kayu sudah diletakkan diatas badan mayat, dan haji sayuti mulai bersiap diatas kaki untuk memegangnya.

Sambil membaca doa dan menggunakan jarum emas besar, tuan guru meletakkan jarum itu diatas ibu jari kaki kiri dan telunjuk jari kaki, Dibantu Haji sayuti.
“Kakinya panas guru” kata haji sayuti
“diam dulu haji” sahut tuan guru Muhammad Ilmi.

Sejenak kemudian Tuan Guru haji Sayuti mencoba menarik sesuatu dari sela jari kaki itu, tapi beliau terlihat sangat berusaha menariknya, mayat junaidi menjadi gemetar, dan tiba-tiba ingin bangkit, kami menjadi gugup dan masing-masing membaca Allahu Akbar, untuk papan kayu kami bisa menahannya.

Tuan guru Haji Muhammad ilmi berhasil mencabut sesuatu dari jari kaki mayat junaidi, mayat langsung terdiam lagi, tuan guru Muhammad Ilmu meletakkan benda itu dalam baskom, benda itu hitam kecil, sepeti bungkusan kulit kering biasa.

“Lihat dalam bungkusan itu ada bulu yang dibungkus, bulu mariaban” kata tuan guru haji Haji Muhammad ilmi.

Tuan guru Haji Muhammad Ilmi langsung saja menyuruh mengambil perapian kecil dan segera membakar benda itu sampai habis tak tersisa.

Mayat junaidi yang semula menghitam segera menjadi kuning layu kembali, taring dan kuku panjang nya menghilang,kami menjadi tenang kembali.

Orang tua yang tadi terlihat santai dengan cepat mengkafani mayat itu, dan tidak lama kemudian sembahyang jenazah diselenggarakan, mayat dikuburkan sesuai rencana awal.
+++

Saya membonceng tuan guru Haji Muhammad ilmi dalam perjalan pulang, beliau terlihat masih tegang. Sedang ahmad bersama anak Tuan guru.

“untung kita cepat kusasi, jika terlambat, akan menjadi bencana”kata Tuan guru Haji Muhammad Ilmi.

Beliau menceritakan bahwa dahulu, disuatu kampung, seseorang yang menelan bulu hantu mariaban meninggal dan tidak sempat dicabut, mayatnya jadi hidup, membunuh kedua orang tuanya yang ada dirumah, dan beberapa orang lainnya, mayat itu baru bisa dilumpuhkan setelah dijerat oleh orang kampung disebuah pohon dan dibakar.

Saya bertanya dari mana bulu hantu mariaban itu didapatkan, Tuan Guru Haji Muhammad ilmi mengatakan bahwa bulu yang tumbuh ketika mayat Junaidi tadi masih menghitam itu lah yang diambil. Itu dilakukan orang-orang yang ingin mengambil cara kiri dalam mengisi badan. Dari mana asal pertama kali hantu mariaban itu berasal tuan guru haji Muhammad ilmi mengatakan dia tak tahu.

“Tidurlah cepat malam ini Kusasi” pesan Tuan guru haji kusasi sesampainya didepan rumah beliau.
Aku dan Ahmad pamit, dan langsung saja menuju pulang
“Ibu junaidi menangis keras” kata ahmad
‘Mungkin tidak menyangka anaknya akan seperti itu, menjadi hantu dan masuk neraka” gumam ahmad
“ayahnya hanya diam, hanya diam tidak berbunyi” ahmad terus saja bergumam.

Acara tahlilan junaidi diminta untuk dipercepat sehabis magrib saja, dan setelah isya keadaan kampung menjadi sunyi tidak seperti biasanya. Orang tua junaidi mengungsi kerumah Ahmad tepat disamping rumahku, dan rumah junaidi dibiarkan kosong. Orang-orang kampung hanya berdiam dirumah masing-masing, Rumahku tepat berada diseberang rumah junaidi dan dibalik kaca rumah aku memandangi rumah junaidi yang terasa gelap meski lampu berpijar terang, rumahnya tersendiri, terhalangi sawah kecil dan pepohonan dari rumah tetangganya dari kiri dan kanan.
Hujan rintik rupanya turun pelahan, tidak berapa lama semakin lebat, dan jam masih menunjukkan pukul sembilan malam.
Istriku mengatakan bahwa anak-anak ingin minta ikut tidur bersama kami malam ini dikamar depan, aku pun sangat setuju.
Hujan semakin lebat, dan kami terlelap dengan cepat..

“Tuk..tuk..tuk”…
Aku terbangun mendengar suara tidak biasa diluar, hujan telah berhenti rupanya, rasanya begitu dingin, suara itu bukan suara tetesan air dari atap, aku melihat jam yang telah berjalan setengah dua malam.

Aku penasaran dan takut, tapi aku ingin tetap ingin tahu, setelah lama berpikir, perlahan aku bangun agar anak-anak dan istriku tidak terbangun, aku melihat keluar rumah dari sebuah lubang yang aku buat dekat jendela depan dikamarku yang langsung menghadap jalan dan rumah junaidi.
Aku tekejut melihat seseorang berdiri dipinggir jalan tepat didepan rumah junaidi, aku tak bisa melihatnya dengan jelas, dia membawa sebuah kapak kecil, dan memukul-mukulkannya kebatang pohon. Aku menjadi merinding dan takut, aku langsung pergi keranjang dan menutup telingaku, dan aku tertidur dengan cepat dalam takut.

++++
Pagi-pagi sekali, seperti biasanya aku pergi kewarung untuk minum. Dari kejauhan aku melihat banyak orang-orang kampung berkumpul didepan warung.

“Kusasi, tunggu” Haji sayuti memanggilku dari belakang, datang dengan tersenyum-senyum.
“Kenapa banyak orang berkumpul diwarung?”..tanyaku

‘km sudah bisa menebak, orang-orang banyak melihatnya malam tadi” Haji Sayuti masih juga tersenyum.

Aku jadi gugup..
“Aku juga melihatnya malam tadi” kataku

“Semua orang melihatnya, dari sehabis magrib orang-orang sudah melihatnya diberbagai tempat” Haji sayuti terlihat tenang.

“Tapi orang-orang belum melihat ini” haji sayuti menyahut lagi
“Melihat apa ji? “
“Ini dia” haji sayuti memperlihatkan bungkusan kertas putih kecil ditangannya
“bulu junaidi, kucabut sebelum tuan Guru haji Muhammad Ilmi datang, Bulu mariaban” Haji Sayuti menambahi.
Aku terkejut dan memandang haji Sayuti sekali lagi.
“Ini akan jadi rahasia kita, kusasi”.

,

Ketika Saya Sakit

Saat ini saya sedang sakit, dan saya tidak punya uang cukup untuk pergi ke dokter praktek. Dalam menggigil saya akhirnya ingat bahwa saya telah menjadi anggota sebuah perusahaan Asuransi untuk kesehatan sejak bulan lalu, saya mempunyai kartu anggota asuransi atas nama diri saya sendiri, hebat kan?..gaji saya dipotong beberapa puluh ribu rupiah untuk asuransi ini. saya mengambil keputusan untuk pergi ke dokter rekanan asuransi tersebut. Ini adalah kali pertama saya selama hidup saya pergi ke dokter Asuransi.

 

Setelah magrib tadi, dengan dibonceng oleh adik saya, sambil makin menggigil karena terkena angin malam, dengan sedikit gugup kami sampai disebuah apotek yang dibelakangnya juga ada praktek dokter yang berlambangkan Asuransi yang saya ikuti, tanda bahwa dokter ini adalah rekanan perusahaan asuransi tersebut.

 

Setelah saya masuk, saya disambut oleh seorang wanita, dan saya menunjukkan kartu Anggota asuransi saya, namun sayang dengan tersenyum ringan wanita tersebut mengatakan bahwa untuk pelayanan khusus asuransi telah tutup.

“Saya lagi sakit mba, mungkin dokternya bisa mememeriksa saya?”

“Oh tidak bisa, jamnya sudah tutup untuk anggota asuransi, silahkan datang hari senin”

Ahh saya jadi malu jadinya, dan wanita itu terus saja tersenyum ringan, seperti merasa menang, sepertinya juga tatapan matanya ingin mengusir saya.

 

.Saya akan menceritakan tiga kali pengalaman saya dalam berobat dengan dokter.

 

Ketika saya pertama kali sakit gigi dalam 18 tahun ini, saya pergi ke dokter di rumah Sakit daerah dikampung halaman saya, setelah diperiksa sebentar saya diberi resep obat dan beberapa hari lagi disuruh kembali kesana, dengan tenang hati saya berterima kasih, dan tanpa pikir panjang saya pergi ke apotik rumah sakit. Tapi aduhh malu-nya saya, rupanya bukan apotek rumah sakit yang direferinsikan oleh dokter itu, tapi apotek swasta diseberang rumah sakit, saya jadi takut pergi kesana dengan uang dikantong saya yang tidak sampai lima puluh ribu, maka saya hanya bertanya ke petugas apotek diseberang rumah sakit itu berapa kira-kira harga obat sakit gigi saya itu, dengan cepat petugas cantik itu menghitung dan memberikan catatan harga yang berkisar tiga ratus  sampai empat ratus ribu, saya jadi tertawa sendiri, untung saja waktu itu saya sedikit cerdik, saya pergi ke puskesmas dan gigi saya tidak pernah sakit lagi sampai sekarang.

 

Coba pikirkan jika adalah orang yang tidak cerdik dan gundah karena sakit, pasti ratusan ribu yang keluar untuk obat itu, saya membayangkan orang-orang kampung yang polos.

 

Saya juga pernah kena ambien, karena kesukaan saya naik motor dalam perjalanan jauh dijalan-jalan rusak, saya pergi berobat ke Rumah sakit daerah itu lagi, seorang dokter wanita dengan dandanan menor sedikit bergaya punk, dia melayani saya dengan biasa, tidak tersenyum, setelah menanyakan keluhan saya, dia jugamemberikan risep obat, kembali saya dianjurkan ke apotek swasta diseberang rumah sakit, saya tertawa lagi disini, apa guna apotek rumah sakit itu jika pasien dianjurkan ke apotek swasta diluar yang mahalnya selangit?…hehe

Saya akhirnya lari ke Puskesmas lagi, dan pantat saya tidak sakit lagi,,hahaha

 

Pengalaman saya paling meyenangkan dengan dokter adalah ketika kuliah di jogjakarta, saat itu saya mengalamai gangguan ditelinga saya, karena kotoran yang banyak ditelinga saya tidak bisa keluar dan menghalangi pendengaran saya. seorang teman mengatakan bahwa dia kemarin kerumah sakit swasta terkenal dijogja untuk membersihkan telinganya dengan biayanya ratusan ribu, saya tahu dia hanya menyombongkan diri, karena biaya dia membersihkan telinga itu sama dengan jatah kiriman satu bulan saya dari kampung.

 

Saya tertahan untuk berobat selama beberapa hari karena celotehan teman saya itu, namun karena tidak tahan lagi dengan telinga saya yang semakin tuli, saya memberanikan diri pergi ke rumah umum daerah Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, dengan berhutang uang puluhan ribu saja saya pergi kesana. Rupanya saya dilayani oleh seorang dokter cantik yang sangat baik hati, dengan lemah lembut dan tersenyum dia melayani saya, waktu itu ada banyak dokter muda yang lagi praktek, ada sekitar lima orang mahasiswa kedokteran atau dokter koas, empat dokter muda wanita dan seorang dokter muda laki-laki. Seketika saya sadar saya akan jadi bahan percobaan.

 

Saya dengan ringan hati duduk di sebuah kursi, saya hanya tersenyum tanpa memandang kepada dokter lainnya, saya hanya memandang lurus tajam kedepan dan berbicara seadanya dengan sesekali tersenyum saja. Dokter senior yang cantik itu sangat baik hati, menanyai saya dengan lembut dan perhatian. Karena rupanya kotoran telinga saya terlalu keras dan banyak, akhirnya dilakukannya penyedotan besar-besaran terhadap kotoran itu. tentu saja saya sangat malu dengan itu, para dokter muda wanita tertawa cekikikan malu-malu sambil memandangi saya,memandangi telinga saya yang penuh kotoran.Akhirnya dokter senior yang cantik itu memberikan kepada dokter muda laki-laki untuk meneruskan pekerjaannya mengambil kotoran dari telinga saya. dokter muda laki-laki ini menanyakan dengnan suara nyaring kepada saya apakah saya mau dia membungkus kotoran telinga saya agar bisa saya bawa pulang, sebagai kenang-kenangan. Saya sadar dia sedang mengejek saya, dan sambil tersenyum saya menjawab terima kasih, saya tidak akan membawa pulang kotoran itu. dan para dokter muda wanita terus saja tertawa cekikikan malu-malu lagi. Saya tahu dokter muda laki-laki itu tidak senang dengan saya, saya pikir meski dia dokter dia juga mungkin sadar bahwa saya lebih cakep dari dia dan dia tampak tidak senang ketika saya sedikit mencuri perhatian teman-temannya, meski kotoran telinga saya banyak sekali. Haaaaaa dokter juga manusia rupaya.

 

Tapi yang penting ketika saya berobat ke Rumah sakit sardjito saya hanya dikenakan biaya tidak sampai tiga puluh ribu rupiah. Saya bebas.

 

Kembali ke permasalahan utama diatas, yang ingin saya ungkapkan adalah masalah ketulusan dalam melayani. Pengalaman pertama saya dengan dokter asuransi diatas mengecewakan, tentu sangat tidak menyenangkan. dalam hati saya bergumam, jika sampai hari senin saya menunggu berobat kesini saya bisa mati, dan wanita resepsionis di dokter itu enteng sekali menolak saya. iya, saya tahu, bahwa saya memang terlambat datang sehingga jam atau jabwalnya sudah tutup, tapi tidak ada salahnya jika dokter itu memeriksa saya, tuh tidak banyak pasien waktu itu. saya pasti akan sangat senang dan menghargainya dengan sepenuh hati jika dia mau memeriksa saya. dokter kan diangkat untuk melayani..gumanan hati saya geram dan membuat saya menjadi berpikir negative.

 

Saya tahu menjadi dokter tidak mudah, butuh biaya besar dalam sekolah yang lama dan harus selalu update dalam pendidikan lanjutannya, semua itu membutuhkan biaya tidak sedikit, semua itu menjadi buah simalakama bagi semua dokter.

 

Saya juga seorang pelayan publik, kantor saya juga penting, sempat terpikir untuk membalas perilaku dokter tersebut, jika dia atau keluarganya nanti berurusan dengan kantor saya, maka saya akan mempersulitnya juga sampai dia sakit perut sendiri, saya akan membalasnya.

 

Salah satu yang membuat bangsa kita terpuruk itu adalah masalah pelayanan public yang buruk, kita sering sekali menghadapi perilaku tidak menyenangkan, tidak tulus, tidak bertanggung jawab. Yang akhirnya membuat kita saling curiga, saling membalas dendam, orang biasa berusaha apa saja untuk bisa menjadikan salah satu anggota keluarganya untuk menjadi anggota birokrat agar jika suatu hari ada masalah mereka ada pegangan,ini seperti lingkaran setan, yang menjadi korban tentu rakyat kecil.

 

Di kantor saya sendiri, pelayanannya juga masih biasa-biasanya saja, kami anak-anak muda masih berusaha sedikit demi sedikit ingin merubah kultur buruk dari pelayanan publik itu. jika kita membayangkan disuatu kantor ada dua puluh orang pegawai. Dari dua puluh orang pegawai itu tiga orang pegawainya idealis sedangkan sisanya tujuh belas orang tidak suka idealis, maka apa yang akan terjadi?..tiga orang yang idealis tersebut pasti akan ditendang dan ditertawakan. Namun jika sebaliknya, dikantor itu ada tujuh belas orang yang idealis dan tiga orang yang tidak idealis, maka sudah tentu idealis yang menang, mereka mungkin bisa membawa perubahan.

 

Indonesia akan lebih baik jika orang-orang idealis dan pintar berani untuk turun tangan beradu di lapangan, berani berkorban, bukan hanya berbicara disamping dinding, masa depan Negara ini ada ditangan kita, jika kita memberikan masa depan kita pada orang-orang bodoh di sana itu, maka jangan protes lagi jika banyak masalah, karena itu salah kita sendiri membiarkan mereka memegang kendali.Kita harus merebut posisi untuk melakukan perubahan.

 

Aduhhh saya jadi berapi-api gitu ya..heheh

Buat-buat temen-temen yang profesinya dokter, tulisan ini sedikit kritis ya, ngga papa kan?..

 

Akhirnya, setelah membawa kesal dihati karena tidak bisa berobat ke dokter asuransi, saya kembali pulang ke rumah dengan raut muka murung. Ahhh saya ingat, saya ini juga dokter lo,,saya dididik dan diangkat menjadi dokter kecil waktu SD, dan status dokter saya belum dicabut.Dengan sedikit pengalaman dan keberanian saya akhirnya meramu obat sendiri, tak peduli apabila keracunan, saya tak takut mati…..mau gimana lagi?….hehehe

 

Kijang Rawa di Hutan Tua

perkenalkan nama saya alfigenk        

http://pixabay.com/static/uploads/photo/2010/12/13/10/17/africa-2603_640.jpg

http://pixabay.com/static/uploads/photo/2010/12/13/10/17/africa-2603_640.jpg

saya seorang biasa,,

Suatu hari kemarin saya ikut orang-orang sekampung menangkap ikan ditengah rawa-rawa antara Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Barabai) dan Kabupaten Hulu Sungai Utara (Amuntai)…Kalimantan Selatan

 

 

 

karena saya tidak terbiasa ditengah panas dan tidak berbakat dalam menangkap ikan, maka saya tidak banyak mendapatkan hasil..

 Untuk mengusir kekesalan hati, saya malah duduk sekedar mengobrol dengan orang kampung dari dekat rawa tersebut..sebuah rawa yang sangat luas yang apabila dimusim hujan akan digenangi air selama beberapa bulan…

 Tentu saja rawa ini yang sudah sangat sering saya lewati melalu jalan Negara di sebelah selatan sana, membelah rawa ini dari timur kebarat menghubungkan dua kabupaten terdekat dan menjadi jalan lintas tran kalimantan,,,

Pemandangan akan pegunungan meratus yang indah, kemudian jika dumusim hujan rawa-rawa ini seperti lautan saja, memandangi matahari terbenam adalah keasyikan tersendiri…dan berjuta-juta nyamuk akan menemani kita…sekedar untuk shalat pun kita harus memakai kelambu..

Rawa itu begitu luas,,memanjang hampir diseluruh sisi barat pegunungan meratus dari utara sampai keselatan menembus laut jawa, rawa yang ada didaerah saya ini seolah tidak mungkin akan terhuni manusia, itu pikiran saya semula,,namun akhirnya saya tahu bahwa ditengah-tengah rawa-rawa yang sangat panas dan lembab ini malah banyak dihuni manusia dengan rumah-rumah terapung mereka,,,,aduhhh tentu saja saya tidak bisa membayangkan hidup disana ditengah rawa yang panas dan penuh nyamuk yang bebas…

Pekerjaan orang-orang disana adalah nelayan ikan air tawar dan apabila rawa mengering mereka akan bertanam padi atau berkebun…

Sayangnya daerah rawa ini sudah diincar oleh para pengembang kelapa sawit, khususnya didaerah Kabupaten Hulu Sungai Utara (amuntai) yang sudah beroperasi selama beberapa tahun ini..

Yang ingin saya laporkan disini adalah mengenai pembicaraan saya dengan penduduk kampung diatas..


Mereka bercerita tentang sebuah Hutan Tua yang lebat, hampir tak terlihat matahari ditengah-tengah hutan tersebut,,berbagai macam binatang liar ada disana,,beberapa jenis kera dan burung, yang terpenting adalah babi hutan dan kijang atau menjangan  rawa yang bobotnya bisa mencapai seratus kilogram dengan tanduk mencapat tujuh ruas..sejujurnya saya seolah tidak percaya ditengah rawa ini ada hutan,,,saya saja tidak melihat ada hutan seluas mata memandang, saya tetap berpikir disini hanya ada rawa, yang ada hanya ikan dan nyamuk…bagaimana mungkin hutan itu ada..

Orang kampung itu yang sudah berumur hampir 60 tahun mengatakan bahwa orang-orang kampung biasanya pergi selama beberapa hari dimusim kemarau untuk berburu kijang itu, ditahun kemarin mereka memperoleh hampir 50 ekor…mereka mengatakan bahwa kijang rawa lebih besar dua kali lipat daripada kijang gunung. kemungkinan kijang itu hanya ditemukan di daerah itu,,,terisolasi didalam rawa, tidak bisa bergerak ke daerah lain..orang kampung itu juga mengatakan ketika musim hujan yang menyebabkan banjir, kijang itu akan hidup diatas-atas kayu pohon yang mati, dan memakan pucuk-pucuk tumbuhan…

sayangnya, hutan terisolasi tersebut akan di hancurkan oleh perusahaan sawit, satu-satunya hutan tua di tengah rawa di daerah hulu sungai yang diperkirakan luasnya hampir 500 hektar kemungkinan akan hilang, dan menjangan rawa yang saya pikir adalah menjangan langka akan segera punah dengan cepatnya…jujur saja, meski daerah itu hanya berjarak puluhan kilometer dari kampung halaman saya, baru kali ini saja saya mendengar tentang hutan itu dan kijang rawa yang spesisnya pun mungkin belum banyak orang yang tahu..

saya tidak tahu apakah ada penelitian di daerah ini sebelumnya..

Beberapa waktu yang lalu aktivis lingkungan hidup memang ada melakukan protes dengan pengembangan perusahaan sawit, tetapi tidak sedikitpun menyinggung tentang kijang dan satwa liar yang ada disitu…kebanyakan orang dan juga mungkin pemerintah tidak mengetahui dengan jelas tentang kijang ini,,karena seperti saya juga sebagai orang pribumi sama sekali tidak menyangkan bahwa didaerah rawa itu terdapat hutan tua yang memiliki hewan-hewan besar,,, 

saya siap membantu setiap tindakan yang akan dilakukan oleh siapapun untuk menyelamatkan hewan ini, dan saya juga berharap ada tindakan segera dari mengingat musim kemarau telah tiba dimana masyarakat sekitar telah bersiap berburu dan perusahaan sawit akan mulai mengobrak-ngrik kembali rawa itu…

Genk

Genk: seorang playboy yang gagah, tampan, kaya, murah senyum, and sangat ramah pada siapa saja, sehingga banyak cewek-cewek baik didalam dan luar negeri yang naksir berat dengan Genk

 

Dikarenakan Genk yang playboy sadar bahwa mempermainkan cewek-cewek adalah dosa, ia pun bertobat.

 

Hingga disuatu masa Genk memutuskan hubungan tali cintanya pada cewek-cewek tersebut dan membuat hati cewek-cewek tersebut hanur lebur.

 

Tapi, mantan pacar Genk tak ada yang tak sukses, bermodal sakit hati dan kecewa, mereka melantunkan lagu dan nada yang berirama love dan brokren heart,  katakan saja seperti Britney spears, Agnes Monica, Audie, Dian sastro dan masih banyak lagi.

 

Mereka lah mantan pacar sang genk yang ditolak dan diputus olehnya, hingga sakit hati mereka diwujudkan menjadi artis..ck…ck..ck…memang, Genk sangat gagah dan tampan..

 

 

** Genk yang dilahirkan 9-9-9999 di sembilan Benua disaat gerhana matahari. Ketika berusia 6 bulan ia di asuh bidadari dari nirwana, pada saat itu ia sudah pandai fisika dan matematika, sampai-sampai istri Batara Wisnu pun kewalahan meladeninya. Pada waktu umurnya menginjak sepuluh tahun, ia pernah menjelajahi berbagai universitas di dunia, dan semua gelar ia sabet dengan mudahnya. Tapi…..ia tidak mau sombong untuk menampakkan ilmunya walaupun ditanya, ia pura-pura tidak bisa.

 

 

di ambil dari Manuskrip Kitab Al-Muhafakki, dikarang oleh Syeck Muhammad Wiwin Ramadhani al-Tanjungi…disekumpul, Martapura, tahun 2000 M… (tidak diketahui dimana keberadaan kitab ini saat ini, kemungkinan besar masih disimpan oleh pengarangnya, kitab ini sangat fenomenal, kitab ini telah memakan korban hampair seluruh kelas MAPK angkatan 11, dimana hapafakan yang ada melekat keseluruh pribadi angkatan 11, kecuali sipengarang itu sendiri, saat si pengarang bekerja di Rumah Sakit Jiwa Sambang lihum Banjarmasin) 
berikut adalah fhoto Syeck Muhammad Wiwin Ramadhani al-Tanjungi…

 

Celoteh Keluarga Akibat Nonton Perkawinan Will dan Kate

adadadgaga

Nenek saya mendekat, ikut menonton televisi, jalannya pernikahan pangeran William dan Kate, nenek saya tersenyum dan sedikit tertawa, “ahh..Pangeran jar” celoteh khas banjar, saya hanya tersenyum sambil tetap diam dan tak pertanya.

Nenek tahun ini berumur 94 tahun, hanya ada 3 orang yang tersisa dikampung saya wanita yang berumur diatas 90-tahun. Dan nenek saya adalah yang paling bugar dan sehat,beliau masih sering jalan-jalan, mengurus kebun kepala dibelakang rumah, masih bisa mengaji (artinya nenek saya tidak buta huruf hehe, kadang jika tak ada uang saya masih minta duit dengan beliau, biasanya masih diberi satu atau dua ribu, cukup lah membeli rokok hehe. Nenek saya tinggal bersama kami, beliau mewariskan rumah untuk mama saya. bibi dari nenek saya baru saja meninggal dengan umur 126 tahun.

saya juga masih punya kakek, ayah dari abah saya, umurnya tahun ini 94 tahun, laki-laki tertua dikampungnya, masih bugar, tapi sudah agak tuli, jalannya sempoyongan, dan matanya telah kabur, sebenarnya beliau masih ingat, tapi karena pendengarannya tidak begitu baik, makany komunikasi kami tidak begitu lancer. ‘aku sudah tuli” kata kakek saya suatu ketika sambil ketawa ketiwi heheh…sepupu beliau yang perempuan juga masih hidup, umurnya 99 tahun ditahun 2011 ini.

Saya sering mendenger cerita nenek tentang jaman Belanda, sepertinya jaman itu tenang  aman dan stabil. Beliau juga pernah menyebut nama Ratu Belanda. Saya juga pernah mendengar cerita kakek yang beberapa kali berlayar pulang pergi ke Malaya dan Tumasik (Singapura) di jaman belanda. Malaya dan Singapure adalah jajahan inggris.

Abah saya berkomentar pendek, bahwa Negara-negara bekas jajahan inggris rata-rata maju, sambil terus menonton televisi tentang perkawinan Will dan Kate. Saya juga tersenyum dan tidak berkomentar.

 

Saat saya menulis ini saya juga tersenyum, otak saya masih terasa beku akibat capek hari ini. menonton pernikahan Kill dan Kate seperti memperlihatkan kerinduan atas sebuah keindahan dalam hidup yang sepertinya tidak kita miliki lagi dalam Negara ini. Kakek nenek saya yang tentu tidak berpendidikan, mereka berceloteh biasa tetapi itu mempunyai arti bahwa mereka pernah merasakan sesuatu yang lebih baik dari sekarang. Ini bukan masalah nasionaliesme atau apa, tapi ini adalah masalah tentang hidup yang didapat. Ayah saya juga berceloteh biasa, tanda ada rasa iri dihatinya tentang sebuah Negara maju, sejahtera dan menyenangkan, tak seperti yang dirasakannya saat ini. Tak ada ketenangan tak ada kebanggaan nyata yang didapat.

Hmmmm….saya juga hanya dapat tersenyum lagi, dan tidak mau berpikir terlalu mendalam tentang hal ini.