Posted by: alfigenk | June 22, 2009

HULU SUNGAI

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke kecamatan Juai dan Halong, dua kecamatan terakhir di Kabupaten Balangan yang belum pernah saya jelajahi, sudah sejak lama saya ingin menjelajahi daerah-daerah Hulu Sungai. Saya memang asli orang hulu sungai namun karena berbagai hal saya tidak pernah mempunyai kesempatan untuk bisa menjelajahinya. Saya hanya mendengarnya dari cerita-cerita, membacanya di surat kabar atau melihatnya di peta.

Entah mengapa, setelah saya memulai penelitian skripsi setahun yang lalu, saya mulai tertarik dengan daerah hulu sungai, tentang budayanya, masyarakatnya dan juga alamnya. Suatu wilayah yang dekat dengan jantung pulau Kalimantan yang telah melahirkan suatu kebudaya besar namun sekarang seperti mulai hilang ditelan oleh kemajuan jaman. Tidak banyak referinsi yang dapat kita temui tentang daerah ini, dengan kata lain dapat juga disebut dengan daerah gelap. saya berpendapat daerah ini sunyi dari perhatian akademik dan kebudayaannya tenggelam dalam dirinya sendiri.

Sebuah kerajaan dayak yang besar pernah berdiri disini, dan setelah terjadi interaksi dengan dunia luar maka muncul lah kerajaan bercorak agama didaerah ini. Majapahit pun telah menyebutnya sebagai daerah taklukannya. Dari daerah ini lah kebudayaan banjar dilahirkan.

Wilayah hulu sungai terlatak ±100 km diutara Banjarmasin, mencakup daerah barat pegunungan meratus sampai ke sungai barito, wilayahnya terdiri dari dataran tinggi pegunungan, rawa-rawa serta sungai-sungai besar. Secara histories disebut dengan hulu sungai karena wilayah ini terdapat banyak anak sungai sungai dari sungai Negara yang menjadi anak sungai Barito. Terdiri dari lima kabupaten yaitu Hulu Sungai Selatan dengan ibukota Kandangan, Hulu sungai Tengah dengan ibukota Barabai, Hulu Sungai utara dengan ibukota Amuntai, Balangan dengan ibukota Paringin dan Tabalong dengan ibukota Tanjung. Diwilayah ini terdapat beberapa suku yang mendiaminya yaitu suku banjar hulu, suku maayan, suku bukit. Bahasa yang digunakan umumnya bahasa banjar hulu, selain itu juga bahasa maayan dan bahasa bukit. masing-masing kabupaten ini meskipun sangat berdekatan namun mempunyai dialek bahasa yang berbeda sehingga kita mudah mengenalinya. Didesa saya dibarabai antar RT (rukun tetangga) pun mempunyai dialek yang berbeda.

Setelah perang perebutan kekuasaan antara Pangeran Samudra dan pamannya di kerajaan daha (sungai Negara) yang berakhir dengan kemenangan pangeran Samudra maka seluruh perangkat kerajaan dipindahkan ke muara sungai Barito di banjarmasin yang didiami oleh suku dayak ngaju dan desa-desa melayu, maka berdirilah kerajaan banjar, dan setelah itu maka wilayah selatan kalimantan ini disebut dengan nama daerah banjar. Paman pangeran samudra yang mengakui kekalahan pindah ke daerah sungai Batang Alai di dekat barabai, Alai artinya bukit. Ini lah saat dimana penyebaran islam ditanah banjar secara besar-besaran dimulai.

Meskipun pusat kerajaan pindah ke muara barito namun wilayah hulu sungai tetaplah wilayah yang ramai dengan penduduknya yang banyak. Wilayah ini tetap di pertahankan sebagai wilayah kerajaan banjar satu-satunya sebelum kerajaan banjar di hapus paksa dalam perang banjar atau perang barito antara antasari dan belanda, meski anak antasari tetap mendirikan kerajaan banjar di daerah beras kuning di puruk cahu diujung sungai barito dikalimantan tengah saat ini. sebelumnya wilayah Kalimantan tengah (wilayah dayak besar dan dayak kecil), Kalimantan barat, Kalimantan tenggara( pelaihari, kota baru, tanah bumbu), Kalimantan Timur (pasir, Kutai dan bulungan) di berikan kepada Belanda sebagai hadiah atau imbalan atas bantuan belanda oleh penguasa banjar. Dalam perang kemerdekaan wilayah hulu sungai merupakan adalah pusat perlawanan.

Dahulu orang banjar adalah pelaut ulung dan suka merantau, orang hulu sungai sampai sekarang masih suka merantau, kita bisa menemukan orang hulu sungai di seluruh Kalimantan, di kepulauan Sumatra dan semenanjung Malaya, kakek saya lahir di Malaysia dan sering bulak balik ke tumasik (singapure). Ketika terjadi perang biasanya orang-orang banjar akan mengalami masa-masa sulit dan akhirnya memutuskan untuk merantau.

Saya meninggalkan kampung halaman saya selama kurang lebih 8 tahun, masa remaja saya tidak saya lalui di hulu sungai. Namun saya merasakan masa kecil saya dengan sangat menyenangkan dikampung saya. saya merasa menjadi benar-benar anak kampung yang sempurna, menjalani semua tradisi dan permainan tradisional yang sekarang sulit untuk kita temui. Setelah saya sekolah ke kota saya mulai mempelajari hal-hal baru yang menemui situasi baru dan mengalami perubahan masyarakat setelah era Reformasi di Indonesia, globalisasi yang tak bisa ditahan. Pengaruhnya sampai dikampung saya dan juga kampung-kampung lain di Hulu Sungai.

Penelitian skripsi tentang al-Quran dalam sastra lisan banjar. Hal ini sangat mengasyikkan, saya mempelajari sejarah banjar dan budayanya, dan saya menemui hal-hal yang berbeda dari gambaran awal saya, gambaran awal yang saya dapatkan semenjak saya masih kecil dulu. Hanya sedikit referinsi tentang sejarah banjar yang saya dapatkan. Dan penelitian terbaru justru sulit didapatkan. Apalagi tentang sastra banjar, hanya buku-buku standar yang dapat kita baca, tidak ada buku-buku spesifik terbaru yang dapat kita temukan. Dan tentang sejarah Islam banjar,? saya menyarankan agar ada orang yang mau meneliti tentang Islam di hulu sungai.

Advertisements

Responses

  1. Aq sangat mendukung penelitian anda good luck


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: