Posted by: alfigenk | June 19, 2010

kapitalism dalam kampung

Saya tidak mau untuk kita menunggu sepuluh atau dua puluh tahun lagi untuk berbuat sesuatu, kenapa tidak dari sekarang saja, akan membosankan menunggu puluhan tahun lagi, atau bisa jadi akan menyedihkan dan menyusahkan, saya takut untuk menjadi merana dan ibarat kanker itu akan sangat terlambat untuk dijinakkan. Menunggu orang lain untuk memulainya? Mungkin itu hanya mimpi, mimpi ketika kita duduk dibawah pohon rambutan, menunggu orang lain akan membuat diri kita jadi tidak enak badan, tidak enak di kepala, dan kejatuhan buah rambutan yang sudah diberlubang karena dimakan kekelawar tadi malam, apakah hal kecil saja kita tidak mampu memulai?…. Kita mampu jika kita mau, “ Jangan menunggu orang lain untuk memulai perubahan” itu kata om Obama,,karena perubahan itu adalah untuk kita sendiri. Kita tidak akan berpikir untuk sempurna, tapi paling tidak kita berusaha membuat keadaan menjadi lebih baik dari keadaan sekarang, lebih baik dari sekarang. Kita bisa melihat contoh massif dari keadaan sekitar kita, atau malah dari diri kita sendiri, sesuatu yang tidak kita sadari kan. Kemenangan kapitalisme dalam perang dingin dua puluh tahun yang lalu telah kita rasakan dampaknya sampai ke diri kita sendiri, dan sialnya kita tidak menyadarinya, jika kita bisa menyadarinya setidaknya kita mempunyai pilihan yang bisa kita pilih dan ubah kapanpun juga dan semau kita,berharap bisa mengontrol diri kita sendiri, tapi ini tidak, kita tidak menyadarinya, kita sungguh-sungguh sial, kita terkena guna-guna kapitaliesm. Jadi bagaimana dengan orang lain ya?…orang lain sudah mabuk, dan terus mabuk lagi mabuk lagi hehe..mabuk itu menyenangkan dan memberi candu.. Saya tidak ingin membuat hal ini terlalu rumit, tapi menjadikan hal ini mudah juga hal yang sulit, ambil contoh, kadang kita tidak memahami ketika tetangga kita membeli sesuatu barang baru, kita juga menginginkan hal barang yang baru, kapitalisme itu sungguh keterlaluan dan sangat tidak manusiawi, (walaupun disisi lain komunisme itu juga tidak mampu menjadi manusiawi dan tidak masuk akal) menguras habis apa yang kita punya, teman yang dulu baik, sekarang lebih jaga image dan menjaga jarak, orang-orang saling menilai bukan dengan nilai lagi tapi denga harta, tapi kini semua menjadi lebih pragmantis dan menjurus ke hedoism, dulu saya tidak mengerti ketika teman saya pertama kali membeli handphone dia langsung jarang menyapa saya, hanya gara-gara saya tidak punya handphone, atau para gadis sekarang lebih jatuh cinta dengan motor atau mobil baru dari pada laki-lakinya itu sendiri, ini menggelikan, hehe.. tidak kah ini diluar akal yang baik,,dan masih banyak lagi kasus yang lain…ini kadang terlihat lucu dan kita selalu berinteraksi dengan hal ini setiap harinya ..kita adalah pasar, pasar yang sangat besar bagi para pemodal,,berdampak sangat luas dan massif, lihat saja pejabat kita banyak korupsi hanya untuk membeli barang-barang,, para pemuda-pemudi, meski tiap hari nonton film romantis tuh mereka tidak pernah jujur dan tulus dalam cinta, lebih banyak mengartikan cinta mereka dengan gersang dalam harta dan seksualitas, nyaris tanpa makna, semu tiada bekas, ahhh mereka tidak tahu keromantisan itu, kita bisa menilai dari lagu-lagu cinta yang sering mereka dengar dengan lirik-lirik yang tanpa puitis, dalam hal cinta pun mereka pragmatis…hal ini sungguh tak indah..tak elok…mungkin saya, kamu, atau kalian atau mungkin kita semua juga ikut-ikutan seperti itu tanpa kita sadari..setiap hari kita disuguhi iklan-iklan saja.bahkan agamapun dijadikan pasar oleh mereka. Pernyataan sederhananya adalah bahwa kita tidak lepas dari pengaruh atau bahkan bisa dikatakan kita dalam pengaruh yang disengaja oleh kekuatan-kekuatan besar capitalism pasar dunia…dikampung kecil saya, dikota kecil saya ini saja,dalam sepuluh tahun ini saya bisa merasakan dampaknya begitu dasyat,, coba anda bayangkan sampai kekampung saya yang didalam peta saja orang-orang susah mencarinya, jauh di bawah gunung-gunung meratus yang sebagian orang luar pulau masih berpersepsi bahwa kami adalah orang-orang yang berbahaya. Untuk mengubah system besar yang ada sepertinya terlihat tidak mungkin, itu ibarat perputaran roda-roda bergigi tajam dalam kecepatan stabilnya, jika kita menyetuhnya dengan tangan kita, maka mungkin akan terluka, mencoba menghantapnya maka kita pasti akan terpental, tapi menyerahpun juga adalah sebuah kematian dan memalukan, kita tidak ingin melihat diri kita, keluarga kita, anak-cucu kita hidup dalam kebingungan seperti ini. Tapi saya mempunyai sedikit jalan kecil, kita hanya perlu menyadari bahwa ada system yang sedang berjalan dan kita adalah pasar yang bodoh bagi mereka, tidak kah akan menyenangkan bila kita berusaha menjadi sedikit lebih pintar agar kita bisa membuat ruang dalam diri kita dan masyarakat kita untuk dapat menikmati hidup dalam sebenarnya hidup dengan nilai-nilai yang seharusnya memang harus kita miliki dan rasakan. Kita tidak boleh menunggu orang lain, kita juga tidak bisa sendirian, saya tak mampu sendiri, orang-orang akan menertawakan saya, kita harus bersama dalam kesadaran yang sama, kita bisa memulainya dalam diskusi kecil kita, diskusi kecil kita pasti akan menyenangkan,,kita tidak akan bisa mengharapkan masyarakat luas untuk berubah jika orang-orang yang mempunyai kapasitas keilmuan tidak mau duduk bersama. Kita akan berbincang dalam wacana dan sedikit bermain dalam uji coba praktis, kita tidak harus berpikir memaki, mengeluh, berdemo, reformasi, atau revolusi, tapi kita harus mampu memberi kesadaran dalam skala kecil ini, mari lah kita mulai dari diri kita bersama, dan membuat suasanya menjadi menyenangkan… Saya bermimpi punya kota kampung halaman yang menyenangkan, saya ingin naik sepeda lagi seperti dulu lagi, tapi jalan-jalan begitu panas dan berdebu dan pohon-pohon begitu banyak ditebang, saya ingin bertegur sapa dengan teman-teman lama dan baru yang saya temui tanpa harus melihat siapa saya dan siapa mereka, saya ingin kerumah sakit dan dilayani dengan baik, bukannya dikasari dan dilayani dengan buruk yang menjadikan saya berpikir kenapa dulu saya tidak menerima saja tawaran cinta dari seorang dokter cantik. Tidak perlu ada saling balas dendam dari perilaku yang pernah dilakukan. Pada intinya kita menginginkan keramah tamahan dan nilai-nilai itu kembali hadir seperti waktu dulu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: