Posted by: alfigenk | April 13, 2011

perpustakaan mungil dan buku

Ada perpustakaan baru di daerah saya, perpustakaan percontohan milik pemerintah daerah tetangga, cukup dekat dengan naik motor dari kampung saya. hanya 20 km.

 

Saya sudah beberapa kali ke perpustakaan itu, mendaftar jadi anggota dan meminjam beberapa buku, banyak buku-buku baru yang saya senangi. Perpustakaan ini adalah perpustakaan percontohan, dibangun di ibukota Kecamatan Batu Mandi, kabupaten Balangan Kalimantan selatan, bangunannya kurang lebih berukuran 4×6 meter, cukup mungil bukan, ada sekitar empat rak buku, disertai 2 meja baca, satu meja pegawai, dua buah lemari Kabinet, satu lemari buku, satu lemari lemari pajangan Koran dan majalah, satu kamar pegawai, dan satu kamar mandi, dan dua orang pegawai honoer, halamannya masih dengan tanah kuning berlumpur apabila hujan dan berdebu apabila kering.

 

Perpustakaan ini bagi saya sangat menyegarkan, meski lumayan dekat, hanya 20 km, saya tetap pergi kesana untuk meminjam buku, buku-buku baru, yang tidak begitu banyak tetapi tetap saya tergoda. Terkadang saya bertemu beberapa anak kecil yang juga senang membaca dan meminjam buku, tidak pernah saya bertemu remaja, pelajar SMA atau SMP atau mahasiswa daerah.

 

Sebenarnya ada sebuah perpustakaan didekat kampung saya, perpustakaan milik daerah di Barabai, ibukota kabupaten Hulu Sungai Tengah, hanya dua kilometer dari rumah saya, bangunannya lebih besar tiga kali lipat dari perpustakaan Batumandi, dengan hampir delapan rak buku dan satu buah lemari buah lemari buku, tapi saya tidak suka kesana, karena referinsi buku-bukunya tidak banyak, sudah tua-tua, dan juga sering ribut, bukan pengunjung perpustakaan yang ribut, tapi pegawai perpustakaan yang sering sekali rebut. Di perpustakaan ini lumayan banyak pengunjung, biasanya para mahasiswa daerah yang sering berebut meminjam buku untuk mata kuliah mereka.

 

Ahh..coba bayangkan jika ada perpustakaan besar di dekat kampung saya, bukunya ratusan ribu, buku lama, buku baru, bisa pintar-pintar jadinya penduduk daerah saya.

Kita semua pasti sepakat, yang sangat berperan dalam kemajuan bangsa adalah pendidikan, dan pendidikan urat nadinya adalah buku.

 

Sebenarnya jika kita mau, kita bisa mengerutkan dahi bersama, kenapa harus membuat perpustakaan mungil?..mengapa tidak perpustakan besar saja sekalian?…saya tak habis pikir dibuatnya, tapi saya tetap berusaha untuk tidak peduli.

 

Banyak teman-teman dkampung saya yang tidak mampu bersekolah ke sekolah formal, mereka akhirnya memilih sekolah ke pesantren, tapi hampir rata-rata dari mereka berhenti ditengah jalan, Karena rupanya mereka tidak mampu membeli kitab-kitab berbahasa arab yang semakin mahal, biaya dipesantren kadang lebih mahal dari sekolah formal biasa.

 

Saya pasti tidak berharap pada perpustakan mungil itu untuk dapat terus menemukan buku-buku baru lagi, namanya juga mungil pasti tak muat lagi membuat satu rak buku.

 

Membeli buku juga akan menjadi pilihan sulit, ditengah ekonomi saya yang macet ini, lagian dimana juga toko buku dikota kecil ini?..

 

Buku adalah jendela, jendela untuk menjelajah dunia, buku lebih baik dari pada internet, yang pasti mudah dibaca, buku adalah bahan bakar, bahan bakar yang akan menerangi dunia.

 

Di kampung saya, ditengah-tengah pulau Kalimantan ini, begitu susah mendapatkan bahan bakar itu. jadi wajar saja ketika kebanyakan orang tidak tertarik dengan buku, karena susah didapat.

 

Dan akhirnya, perpustakan mungil itu akan selalu menjadi perpustakaan mungil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: