Posted by: alfigenk | April 24, 2011

Tenggelamnya Kerajaan Lembu Garang

Di sebuah wilayah kuno yang dikenal dengan nama daerah Ujung Tanah, sebuah wilayah perairan air tawar yang maha luas dikalimantan selatan, berbatas laut di ujung selatan dan membentang ratusan kilometer menuju ke utara, dan melebar ratusan kilometer pula dari timur ke barat .

Tersebutlah dalam legenda masyarakat Banjar bahwa di ujung utara peraian tersebut sebuah Kerajaan yang diberi nama sesuai dengan nama rajanya yaitu Kerajaan lembu Garang, kerajaan ini diperkirakan berada di Kabupaten Tabalong saat ini.

Raja lembu Garang pemimpin Kerajaan tersebut adalah raja yang kejam, dan rakus terhadap rakyat. Rakyat kerajaan di bebani pajak yang begitu tinggi, Raja lembu Garang mewajibkan separuh hasil panen rakyatnya adalah untuknya, mereka juga disuruh menambang emas dan mengambil hasil-hasil hutan untuknya, sehingga kerajaan dan singgasananya dipenuhi emas dan harta yang melimpah.

Selain kekejamannya itu raja Lembu Garang juga terkenal sebagaiseorang raja yang gila terhadap perempuan, dia selalu mengambil perempuan-perempuan yang disukainya untuk menjadi selirnyanya, dia telah mempunyai seorang permaisuri yang sangat cantik yang bernama permaisuri Singkap Siang, namun hal itu tidak menghilangkan kegemarannya akan wanita-wanita lainnya, dia telah megnambil gadis perawan, para janda,bahkan istri orang yang disukainya, tak ada rakyat biasa yang berani melawannya, karena melawan berarti nyawa yang melayang.

Kekejaman Raja lembu Garang membuat rakyat membencinya meski tetap tidak bisa melawannya.

Seperti kebiasaan para raja jaman dahulu, Raja lembu Garang juga sangat gemar berburu, dia sangat suka berburu kijang, dia mempunyai jabwal setiap bulan berkeliling ke hutan-hutan di dalam kerajaannya untuk berburu. Dari hutan yang satu ke hutan yang lainnya.

Dalam setiap perjalanan berburu itu, Lembu Garang dan pasukannya selalu melewati desa-desa dan dusun-dusun, serta rumah-rumah yang terpencil dipedalaman, hal ini dipergunakan lembu Garang dan pasukannya untuk memasang mata melihat-lihat wanita-wanita yang ada dikerajaannya, jika raja menyukainya, maka wanita-wanita itu akan dibawa ke istana untuk dijadikan selirnya, tidak tidak bisa secara halus maka dia akan memakasa dengan cara kekerasan, Lembu Garang tak peduli meskipun wanita itu adalah istri orang, jka sang suami melawan atau sang istri menolak maka nyawa adalah taruhannya salah satu darinya akan dicabut. Sampai saat itu lembu garang telah mempunyai empat puluh wanita sebagai selirnya.

Suatu hari raja lembu garang dalam perjalanannya berburu melewati hutan Harung. Disana ada sebuah desa. Disanalah dia meliaht seorang wanita yang sangat cantik, yang mana kecantikannya melebihi semua selirnya dan bahkan permaisurinya. Karena itu maka terbesitlah dihatinya keinginan mengambil wanita cantik itu sebagai selirnya yang ke empat puluh satu. tapi kali ini dia kena batunya, karena wanita yang diinginnya itu adalah istri dari tokoh desa Harung yang bernama Datu Magat.

Datu magat sendiri adalah tokoh terkemuka dari desa Harung, dia masih muda, terkenal sangat pemberani, mempunyai kesaktian yang tinggi, hingga dia ditakuti dan dikagumi. Datu Magat sangat ahli dalam masalah bertani dan dia mempunyai sawah dan ladang yang luas. Karean itulah Raja lembu Garang menaruh hormat padanya dan takut berbuat masalah yang tidak pantas kepadanya. Namun nafsu Raja Lembu Garang untuk mengambil istri Datu magat yang bernama diang Sasar tersebut tetap tak hilang.

Datu magat tinggal bersama istrinya yang cantik jelita bernama Diang Sasar dan adik iparnya yang juga sangat cantik bernama Diang Wangi.

Disuatu hari terjadilah sebuah kejadian aneh yang menimpa keluarga Datu Magat di desa Harung, ketika itu Diang wangi ternyata telah hamil, dia telah dihamili oleh seorang lelaki misterius, yang menurut Diang Wangi lelaki itu datang pada malam-malam tertentu untuk menggauili dirinya, bahkan Diang Wangi sendiri pun tidak mengetahui siapa lelaki misterius tersebut.

Diang wangi mengatakan kepada kakanya Diang Sasar bahwa dia sudah beberapa bulan ini tidak kedatangan tamu bulanan, hal ini membuat Datu mangat sangat marah karena lelaki misterius telah menghamili adik iparnya tanpa ikatan pernikahan.

Kemarahan Datu Mangat tidak dapat tersalurkan karena Diang Wangi sendiri tidak mengetahui dan tidak mengenal siapa lelaki itu, dia hanya dapat mengingat bahwa pada malam-malam tertentu,di dalam keadaan gelap gulita dan setengah sadar, dia merasa ada lelaki yang menggauilinya,dan ketika kesadaraannya kembali pulih lelaki tersebut tidak tampak batang hidungnya, begitu lah yang terjadi berulang-ulang.

Datu Magat terdiam memikirkan dan mencari cara akal bagaimana menangkap lelaki misterus tersebut. Lalu setelah agak lama, dia mengambil tanaman bambam sebanyak-banyaknya, diambil kulitnya sedikit demi sedikit dankecil-kecil lalu disambung-sambung menjadi tali yang sangat panjang. Pada malam tertentu yang telah diperkiaraan lelaki misterius itu datang maka Datu Magat berjaga ditempat yang tidak diketahui didekat rumahnya.

Benar saja, pada malam itu munculnya kabut yang sangat tebal, Datu Magat mengira kabut itu adalah kumpulan embun yang mulai turun di subuh hari, namun ternyata kabut itu semakin tebal saja dan berwarna kehihatam dalam cahaya lampu , Datu Magat merasa cepat mengantuk, beberapa kali kali Datu Magat mengosek-ngocek matanya agar tidak tertidur, akhirnya dia sadar bahwa kabut itu adalah kiriman ilmu dari lelaki misterius itu, cepat-cepat lah Datu Magat duduk bersila dan kemudian membaca mantra-mantra, seketika cahaya kuning keluar dari tubuhnya dan mengusir perlahan-lahan kabut tersebut.

Ketika kabut itu mulai menghilang, munculnya bayangan seorang lelaki tinggi besar, bertelanjang dada dengan hanya memakai cawat menutupi auratnya. Dia langsung menuju ke kamar diang wangi dengan cepatnya dan tak bersuara, namun ketika memasuki kamar Dian Wangi lelaki itu mendengar suara gemerisik diluar, gemerisik yang dilakukan secara tidak sengaja oleh Datu Magat yang mengintipnya diluar, dan dia menyadari bahwa kabut yang dibuatnya menjadi menghilang seketika. Saat itu juga ayam sudah mulai berkokok tanda fajar sebentar lagi tiba, lelaki misterius itu segera pergi dari rumah diang wangi, saat lelaki itu keluar dari rumah, Datu magat berhasil melemparkan tali kecil dari daun bamban kecawat pria misterius.

Kesesokan harinya Datu Magat mengikuti tali bamban yang dikaitkan ke cawat lelaki misterius tersebut. Dengan mudahnya Datu Magat berhasil menemukan lelaki tersebut tertidur dibawah pohon besar ditengah hutan, lelaki tersebut begitu tinggi dan besar seperti raksasa, tentu saja tidak seperti Datu Magat yang ukuran tubuhnya seperti manusia biasa. sebagai seorang lelaki sejati yang tidak mau dikatakan pengecut, Datu Magat tidak mau membunuh lelaki misterius tersebut ketika dia sedang tertidur.

Datu Magat berusaha membangunkan lelaki itu, dia berteriak dengan keras namun lelaki itu tidak juga terbangun, lekaki yang besar tersebut seolah tidak terganggu dengan teriakan Datu Magat yang berulang-ulang, Datu Magat tidak habis akal, karena lelaki itu besar, dia mempunyai bulu dan rambut yang panjang ditubuhnya, maka dengan sekuat tenaga Datu Magat mencabut salah satu bulu di tubuh raksasa tersebut, dan dia berhasil mencabut salah satu bulu tersebut, lalu lelaki raksasa tersebut seketiak terbangun karena kaget.

Melihat keberadaan Datu Magat, maka lelaki misterius yang mirip dengan raksasa tersebut akhirnya mengakui kesalahannya dan minta dinikahkan dengan diang wangi. Ternyata datu magat mau memaafkan lelaki misterius itu, dan mengawinkannya dengan Diang Wangi, lelaki yang bernama Ipra itu rupanya berasal dari golongan jin. Dia akhirnya dipanggil dengan nama Ipra maruwai.

Karena kagum dengan kebaikan Datu Magat, Ipra Miruwai berjanji akan membantu Datu Magat jika diperlukan, Datu magat cukup menyebut namanya tiga kali, maka dia akan langsung datang.

Sementara itu, Raja Lembu Garang yang telah terpesona dengan Diang Sasar istri dari Datu Magat terus mencari cara agar bisa mendapatkannya, Raja Lembu Garang tahu bahwa Datu Magat bukanlah orang sembarangan, dia mempunyai pengaruh dan karisma yang kuat ditengah-tengah masyarakat harung dan juga rakyat kerajaan lainnya, pasti tidak mudah membunuh atau melawannya tanpa alasan yang kuat, karena rakyat pasti akan mendukung datu Magat.

Akal licik pun berjalan, Raja Lembu Garang akhirnya meminta Datu Magat untuk menjadi Patih Baras di Kerajaan, karena Raja Mengagumi keahlihan datu Magat dalam hal bertani. Hal ini adalah akal bulus Raja Lembu Garang belaka agar bisa mengambil hati Datu Magat dan menjadikan datu Magat harus tinggal di lingkungan istana, dengan itu Raja Lembu Garang bisa semakin dekat dengan diang Sasar istri dari Datu Magat.

Untuk merayakan diangkat datu magat menjadi Patih baras kerajaan, maka diadakanlah pesta selama tujuh hari tujuh malam oleh Raja Lembu Garang. Rakyat kerajaan pun diundang untuk menghadiri pesta tersebut, mereka dengan suka cita datang ke pesta, mereka senang Raja Lembu Garang yang selama ini dikenal kejam dan sering memeras mereka berubah menjadi sangat dermawan seiring diangkatnya Datu Magat menjadi Patih Baras kerajaan lembu Garang. Makan dan minum gratis dan segala pertunjukan diadakan disetiap malamnya, hal ini sungguh memeriahkan hati rakyat kerajaan.

Dalam kemerian pesta tersebut pada hari yang ke enam dari pesta itu, Raja lembu Garang tiba-tiba ingin meminum madu lebah, dia memanggil Datu Magat untuk menemaninya mencari sarang lebah di hari itu juga. Maka berangkat lah mereka ke hutan disertai beberapa pengawal.

Hutan itu rupanya lumayan jauh dari istana raja, namun sayang sarang lebah rupanya sudah tidak ada lagi, padahal sebelumnya disana begitu banyak sarang lebah, kecuali yang tertinggal diatas sebuah pohong paling besar dan tinggi dihutan itu. tidak mungkin memanjat pohon itu secara biasa, maka dibuat lah sebuah tangga untuk menaiki pohon itu sampai pada bagian batang pohon yang dapat di panjat.

Senja telah datang dan hari sudah mulai gelap, seperti kebiasaan masyarakat sana untuk mengambil lebah madu pada hari gelap, maka naiklah Datu Magat ketangga itu hingga dia sampai pada bagian batang pohon untuk kemudian naik dengan memanjat biasa sampai ke atas. Di antara puncak pohon itu lah datu Magat mulai mengambil madu-madu ditemani cahaya obor dan bubuk dari buah kepayang yang bisa membuat lebah-lebah itu jatuh pingsan tapi tidak membunuhnya.

.

Sementara itu dibawah pohon, Raja Lembu Garang segera menjalankan akal liciknya, dia memerintahkan prajuritnya segera menghancurkan tangga yang ada dipohon itu dan pada malam itu juga mereka langsung meninggalkan Datu magat diatas pohon menuju istana tanpa disadari Datu Magat yang masih mengambil madu diatas pohon yang sangat tinggi itu.

Setelah menjalankan siasat busuk ini, Raja lembu Garang dapat tersenyum senang, bahwa harapannya untuk menjadikan Diang Sasar sebagai gundik yang ke empat puluh satu sudah berada ditangannya. dia berpikir, tidak mungkin Datu Magat bisa turun dari pohon tersebut, pohon yang begitu besar dan tinggi dan berada ditengah-tengah hutan, tidak akan ada yang menolong, bahkan ketika siang hari tiba, dia akan diserang habis-habisan oleh lebah-lebah yang banyak bersarang di pohon itu, jika pun mampu bertahan maka tak lebih dari beberapa hari saja tanpa makan dan minum.

Kepada Diang Sasar di beritahukan bahwa Datu Magat telah menemui ajalnya ditengah hutan karena terjatuh dari pohon dan menghilang dalam jurang. Raja Lembu Ganga kemudia meminta kesediaan Diang Sasar untuk menjadi selirnya yang ke empat puluh satu. Diang sasar merasa terkejut dan berduka mendengar berita itu, dan memohon kepada Raja Lembu Garang untuk memberinya waktu berkabung, Diang Sasar tahu bahwa tidak mungkin menolak permintaan dari Raja Lembu Garang yang kejam tersebut, tapi hatinya sangat bersedih, dan untungnya Raja Lembu garang mau memberinya waktu beberapa hari untuk masa berkabung bagi Diang Sasar.

Raja Lembu Garang berdiri dengan angkuhnya ditengah-tengah pesta malam itu, dia mengumumkan kematian Datu Magat, dan juga tentang akan segera Raja Lembu Garang menjadikan Diang Sasar selirnya yang ke empat puluh satu. Dan pesta pun dilanjutkan untuk menghormati kebahagiaan Raja Lembu Garang yang akan mempunyai selir yang cantik itu tanpa peduli lagi akan Datu Magat yang dikiranya sebentar lagi akan mati.

Ditengah hutan, diatas pohon tinggi itu, setelah selesai mengambil madu dari beberapa sarang lebah, Datu Magat mencoba turun pohon tapi dia tidak mendapati tangga kecil dari pohon bambu tempat dia naik tadi, dia mencoba memanggil-manggil orang dibawah pohon namun tidak jawaban dari bawah, dari atas dia tidak melihat sedikitpun cahaya lampu dibawah, dan obornya yang ada ditangannya pun sudah semakin mengecil akibat minyak yang semakin habis dan hembusan angin yang besar ketika berada di tingginya pohon, setelah lama menunggu, akhirnya Datu Magat sadar bahwa dia telah diperdaya oleh Raja Lembu Garang, dia teringat akan istrinya Diang Sasar di istana raja, dan dia menjadi begitu kegelisahan dengan keadaan ini dan mengkawatirkan keadaan istrinya si Diang Sasar. Malam itu Datu Magat bermalam diatas pohon dengan kedinginan disebuah cekukan besar di antara batang pohon dan ranting-rantingnya yang tidak akan membuatnya terjatuh. Dia berharap lebah-lebah dipohon itu tidak menyerangnya esok hari.

Datu magat berhasil menjalani malamnya diatas pohon tinggi tersebut, dan beruntungnya lebah-lebah diatas pohon tersebut tidak menyerangnya, Datu Magat berteriak mencari pertolongan, berharap ada seseorang yang lewat dibawah sana, namun hampir seharian dia menunggu tak ada orang yang datang, dan dia tidak dapat terlalu banyak bergerak karena takut lebah-lebah akan menyerangnya.

Datu magat termenung lama mencari cara agar bisa turun dari pohon itu, kemudian dia teringat akan suami dari adik iparnya yang akan berjanji akan menolongnya jika diperlukan. Datu magat langsung duduk bersila diatas pohon itu dan berkonsentrasi, dia memanggil nama suami dari iparnya itu Ipra Maruwai sebanyak tiga kali.

Beberapa saat kemudian, Ipra maruwai memanggil Datu Magat dari bawah pohon dan memberi salam. dengan tubuhnya yang besar bagai raksasa maka dengan mudahlah dia menaiki pohon besar itu dan menurunkan Datu Magat dengan mudahnya.

Sesudah sampai dibawah, Datu Magat menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya kepada Ipra Maruwai, dan dengan sedih datu Magat memikirkan istrinya Dian Sasar. Menurut Ipra MAruwai kekuasaan raja lembu garang harus diakhiri. Ipra maruwai kemudia memberikan tiga butir buah limpasu kepada datu Magat, dan memberi pesan untuk melemparkan buah tersebut satu persatu ke tengah-tengah pesta di israna, dan apabila terdengar ledakan segeralah berlari dengan cepat sejauh mungkin.

Malam itu juga Datu Magat langsung pergi ke istana, dia menyamar sebagai rakyat biasa yang ingin menikmati pesta, pesta telah sampai pada puncaknya dimana orang-orang terus bersorak-sorai dalam kegembiraan yang membuat para pengawal istana juga terhanyut dalam keramaian dan itu membuat mereka lengah. Pertama-tama Datu Magat pergi mengendap-ngendap ke kamar Diang Sasar, ketika dia berhasil menemui Diang Sasar didalam ruangan, Diang Sasar terkejut dan mengaganggap itu adalah Roh Datu magat yang baru meninggal, tetapi Datu magat langsung menutup mulut Diang Sasar dengan tangannya dan menceritakan apa yang telah terjadi, datu Magat menyuruh Diang Sasar agar pergi keluar istana secara diam-diam lewat jalan belakang dan menuggu dirinya disuatu tempat yang ditentukan.

Datu magat kembali ke tengah pesta dimana orang-orang begitu ramainya berpesta, Raja Lembu Garang berada di singgasananya yang bertahta emas ditemani para selirnya. Dalam keramaian itu lah Datu Magat mengambil tiga butir buah limpasu pemberian Ipra Maruwai dari kantongnya, dia melemparkan satu butir buah limpasu ke tengah-tengah pesta tersebut, tapi tidak terjadi apa-apa, kemudian Datu Magat kembali melembar butir kedua dari buah limpasu itu, juga tidak terjadi apa-apa. Dan dengan perasaan ragu-ragu Datu Magat melempar butir terakhir dari buah limpasu yang ada ditangannya, saat itu lah terjadi sebuah ledakan yang muncul dari dalam tanah, yang membuat tanah jadi bergoyang hebat , seketika Datu Magat berlari meninggalkan istana dan menjemput istrinya Diang Sasar di tempat yang telah dijanjikan, mereka berdua berlari kencang kesuatu tempat yang agak tinggi, dari sana mereka menyaksikan sebuah kejadian yang mengerikan, istana raja tersebut beserta desa-desa disekitar istana menjadi tenggelam tak tersisa ditelan laut air tawar di negeri Ujung Tanah tersebut. Raja Lembu galang beserta seluruh peserta pesta ikut tenggelam. Itu akhir riwayat dari kerajaan Lembu garang.

Datu magat dan istrinya Diang Sasar kembali ke desa di hutang Harung dan hidup bahagia disana bersama Diang Wangi dan suaminya Ipra Maruawai.

juga di tulis di :kompasnia.com/alfigenk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: