Posted by: alfigenk | April 30, 2011

Celoteh Keluarga Akibat Nonton Perkawinan Will dan Kate

adadadgaga

Nenek saya mendekat, ikut menonton televisi, jalannya pernikahan pangeran William dan Kate, nenek saya tersenyum dan sedikit tertawa, “ahh..Pangeran jar” celoteh khas banjar, saya hanya tersenyum sambil tetap diam dan tak pertanya.

Nenek tahun ini berumur 94 tahun, hanya ada 3 orang yang tersisa dikampung saya wanita yang berumur diatas 90-tahun. Dan nenek saya adalah yang paling bugar dan sehat,beliau masih sering jalan-jalan, mengurus kebun kepala dibelakang rumah, masih bisa mengaji (artinya nenek saya tidak buta huruf hehe, kadang jika tak ada uang saya masih minta duit dengan beliau, biasanya masih diberi satu atau dua ribu, cukup lah membeli rokok hehe. Nenek saya tinggal bersama kami, beliau mewariskan rumah untuk mama saya. bibi dari nenek saya baru saja meninggal dengan umur 126 tahun.

saya juga masih punya kakek, ayah dari abah saya, umurnya tahun ini 94 tahun, laki-laki tertua dikampungnya, masih bugar, tapi sudah agak tuli, jalannya sempoyongan, dan matanya telah kabur, sebenarnya beliau masih ingat, tapi karena pendengarannya tidak begitu baik, makany komunikasi kami tidak begitu lancer. ‘aku sudah tuli” kata kakek saya suatu ketika sambil ketawa ketiwi heheh…sepupu beliau yang perempuan juga masih hidup, umurnya 99 tahun ditahun 2011 ini.

Saya sering mendenger cerita nenek tentang jaman Belanda, sepertinya jaman itu tenang  aman dan stabil. Beliau juga pernah menyebut nama Ratu Belanda. Saya juga pernah mendengar cerita kakek yang beberapa kali berlayar pulang pergi ke Malaya dan Tumasik (Singapura) di jaman belanda. Malaya dan Singapure adalah jajahan inggris.

Abah saya berkomentar pendek, bahwa Negara-negara bekas jajahan inggris rata-rata maju, sambil terus menonton televisi tentang perkawinan Will dan Kate. Saya juga tersenyum dan tidak berkomentar.

 

Saat saya menulis ini saya juga tersenyum, otak saya masih terasa beku akibat capek hari ini. menonton pernikahan Kill dan Kate seperti memperlihatkan kerinduan atas sebuah keindahan dalam hidup yang sepertinya tidak kita miliki lagi dalam Negara ini. Kakek nenek saya yang tentu tidak berpendidikan, mereka berceloteh biasa tetapi itu mempunyai arti bahwa mereka pernah merasakan sesuatu yang lebih baik dari sekarang. Ini bukan masalah nasionaliesme atau apa, tapi ini adalah masalah tentang hidup yang didapat. Ayah saya juga berceloteh biasa, tanda ada rasa iri dihatinya tentang sebuah Negara maju, sejahtera dan menyenangkan, tak seperti yang dirasakannya saat ini. Tak ada ketenangan tak ada kebanggaan nyata yang didapat.

Hmmmm….saya juga hanya dapat tersenyum lagi, dan tidak mau berpikir terlalu mendalam tentang hal ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: