Posted by: alfigenk | July 9, 2011

Ketika Saya Sakit

Saat ini saya sedang sakit, dan saya tidak punya uang cukup untuk pergi ke dokter praktek. Dalam menggigil saya akhirnya ingat bahwa saya telah menjadi anggota sebuah perusahaan Asuransi untuk kesehatan sejak bulan lalu, saya mempunyai kartu anggota asuransi atas nama diri saya sendiri, hebat kan?..gaji saya dipotong beberapa puluh ribu rupiah untuk asuransi ini. saya mengambil keputusan untuk pergi ke dokter rekanan asuransi tersebut. Ini adalah kali pertama saya selama hidup saya pergi ke dokter Asuransi.

 

Setelah magrib tadi, dengan dibonceng oleh adik saya, sambil makin menggigil karena terkena angin malam, dengan sedikit gugup kami sampai disebuah apotek yang dibelakangnya juga ada praktek dokter yang berlambangkan Asuransi yang saya ikuti, tanda bahwa dokter ini adalah rekanan perusahaan asuransi tersebut.

 

Setelah saya masuk, saya disambut oleh seorang wanita, dan saya menunjukkan kartu Anggota asuransi saya, namun sayang dengan tersenyum ringan wanita tersebut mengatakan bahwa untuk pelayanan khusus asuransi telah tutup.

“Saya lagi sakit mba, mungkin dokternya bisa mememeriksa saya?”

“Oh tidak bisa, jamnya sudah tutup untuk anggota asuransi, silahkan datang hari senin”

Ahh saya jadi malu jadinya, dan wanita itu terus saja tersenyum ringan, seperti merasa menang, sepertinya juga tatapan matanya ingin mengusir saya.

 

.Saya akan menceritakan tiga kali pengalaman saya dalam berobat dengan dokter.

 

Ketika saya pertama kali sakit gigi dalam 18 tahun ini, saya pergi ke dokter di rumah Sakit daerah dikampung halaman saya, setelah diperiksa sebentar saya diberi resep obat dan beberapa hari lagi disuruh kembali kesana, dengan tenang hati saya berterima kasih, dan tanpa pikir panjang saya pergi ke apotik rumah sakit. Tapi aduhh malu-nya saya, rupanya bukan apotek rumah sakit yang direferinsikan oleh dokter itu, tapi apotek swasta diseberang rumah sakit, saya jadi takut pergi kesana dengan uang dikantong saya yang tidak sampai lima puluh ribu, maka saya hanya bertanya ke petugas apotek diseberang rumah sakit itu berapa kira-kira harga obat sakit gigi saya itu, dengan cepat petugas cantik itu menghitung dan memberikan catatan harga yang berkisar tiga ratus  sampai empat ratus ribu, saya jadi tertawa sendiri, untung saja waktu itu saya sedikit cerdik, saya pergi ke puskesmas dan gigi saya tidak pernah sakit lagi sampai sekarang.

 

Coba pikirkan jika adalah orang yang tidak cerdik dan gundah karena sakit, pasti ratusan ribu yang keluar untuk obat itu, saya membayangkan orang-orang kampung yang polos.

 

Saya juga pernah kena ambien, karena kesukaan saya naik motor dalam perjalanan jauh dijalan-jalan rusak, saya pergi berobat ke Rumah sakit daerah itu lagi, seorang dokter wanita dengan dandanan menor sedikit bergaya punk, dia melayani saya dengan biasa, tidak tersenyum, setelah menanyakan keluhan saya, dia jugamemberikan risep obat, kembali saya dianjurkan ke apotek swasta diseberang rumah sakit, saya tertawa lagi disini, apa guna apotek rumah sakit itu jika pasien dianjurkan ke apotek swasta diluar yang mahalnya selangit?…hehe

Saya akhirnya lari ke Puskesmas lagi, dan pantat saya tidak sakit lagi,,hahaha

 

Pengalaman saya paling meyenangkan dengan dokter adalah ketika kuliah di jogjakarta, saat itu saya mengalamai gangguan ditelinga saya, karena kotoran yang banyak ditelinga saya tidak bisa keluar dan menghalangi pendengaran saya. seorang teman mengatakan bahwa dia kemarin kerumah sakit swasta terkenal dijogja untuk membersihkan telinganya dengan biayanya ratusan ribu, saya tahu dia hanya menyombongkan diri, karena biaya dia membersihkan telinga itu sama dengan jatah kiriman satu bulan saya dari kampung.

 

Saya tertahan untuk berobat selama beberapa hari karena celotehan teman saya itu, namun karena tidak tahan lagi dengan telinga saya yang semakin tuli, saya memberanikan diri pergi ke rumah umum daerah Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, dengan berhutang uang puluhan ribu saja saya pergi kesana. Rupanya saya dilayani oleh seorang dokter cantik yang sangat baik hati, dengan lemah lembut dan tersenyum dia melayani saya, waktu itu ada banyak dokter muda yang lagi praktek, ada sekitar lima orang mahasiswa kedokteran atau dokter koas, empat dokter muda wanita dan seorang dokter muda laki-laki. Seketika saya sadar saya akan jadi bahan percobaan.

 

Saya dengan ringan hati duduk di sebuah kursi, saya hanya tersenyum tanpa memandang kepada dokter lainnya, saya hanya memandang lurus tajam kedepan dan berbicara seadanya dengan sesekali tersenyum saja. Dokter senior yang cantik itu sangat baik hati, menanyai saya dengan lembut dan perhatian. Karena rupanya kotoran telinga saya terlalu keras dan banyak, akhirnya dilakukannya penyedotan besar-besaran terhadap kotoran itu. tentu saja saya sangat malu dengan itu, para dokter muda wanita tertawa cekikikan malu-malu sambil memandangi saya,memandangi telinga saya yang penuh kotoran.Akhirnya dokter senior yang cantik itu memberikan kepada dokter muda laki-laki untuk meneruskan pekerjaannya mengambil kotoran dari telinga saya. dokter muda laki-laki ini menanyakan dengnan suara nyaring kepada saya apakah saya mau dia membungkus kotoran telinga saya agar bisa saya bawa pulang, sebagai kenang-kenangan. Saya sadar dia sedang mengejek saya, dan sambil tersenyum saya menjawab terima kasih, saya tidak akan membawa pulang kotoran itu. dan para dokter muda wanita terus saja tertawa cekikikan malu-malu lagi. Saya tahu dokter muda laki-laki itu tidak senang dengan saya, saya pikir meski dia dokter dia juga mungkin sadar bahwa saya lebih cakep dari dia dan dia tampak tidak senang ketika saya sedikit mencuri perhatian teman-temannya, meski kotoran telinga saya banyak sekali. Haaaaaa dokter juga manusia rupaya.

 

Tapi yang penting ketika saya berobat ke Rumah sakit sardjito saya hanya dikenakan biaya tidak sampai tiga puluh ribu rupiah. Saya bebas.

 

Kembali ke permasalahan utama diatas, yang ingin saya ungkapkan adalah masalah ketulusan dalam melayani. Pengalaman pertama saya dengan dokter asuransi diatas mengecewakan, tentu sangat tidak menyenangkan. dalam hati saya bergumam, jika sampai hari senin saya menunggu berobat kesini saya bisa mati, dan wanita resepsionis di dokter itu enteng sekali menolak saya. iya, saya tahu, bahwa saya memang terlambat datang sehingga jam atau jabwalnya sudah tutup, tapi tidak ada salahnya jika dokter itu memeriksa saya, tuh tidak banyak pasien waktu itu. saya pasti akan sangat senang dan menghargainya dengan sepenuh hati jika dia mau memeriksa saya. dokter kan diangkat untuk melayani..gumanan hati saya geram dan membuat saya menjadi berpikir negative.

 

Saya tahu menjadi dokter tidak mudah, butuh biaya besar dalam sekolah yang lama dan harus selalu update dalam pendidikan lanjutannya, semua itu membutuhkan biaya tidak sedikit, semua itu menjadi buah simalakama bagi semua dokter.

 

Saya juga seorang pelayan publik, kantor saya juga penting, sempat terpikir untuk membalas perilaku dokter tersebut, jika dia atau keluarganya nanti berurusan dengan kantor saya, maka saya akan mempersulitnya juga sampai dia sakit perut sendiri, saya akan membalasnya.

 

Salah satu yang membuat bangsa kita terpuruk itu adalah masalah pelayanan public yang buruk, kita sering sekali menghadapi perilaku tidak menyenangkan, tidak tulus, tidak bertanggung jawab. Yang akhirnya membuat kita saling curiga, saling membalas dendam, orang biasa berusaha apa saja untuk bisa menjadikan salah satu anggota keluarganya untuk menjadi anggota birokrat agar jika suatu hari ada masalah mereka ada pegangan,ini seperti lingkaran setan, yang menjadi korban tentu rakyat kecil.

 

Di kantor saya sendiri, pelayanannya juga masih biasa-biasanya saja, kami anak-anak muda masih berusaha sedikit demi sedikit ingin merubah kultur buruk dari pelayanan publik itu. jika kita membayangkan disuatu kantor ada dua puluh orang pegawai. Dari dua puluh orang pegawai itu tiga orang pegawainya idealis sedangkan sisanya tujuh belas orang tidak suka idealis, maka apa yang akan terjadi?..tiga orang yang idealis tersebut pasti akan ditendang dan ditertawakan. Namun jika sebaliknya, dikantor itu ada tujuh belas orang yang idealis dan tiga orang yang tidak idealis, maka sudah tentu idealis yang menang, mereka mungkin bisa membawa perubahan.

 

Indonesia akan lebih baik jika orang-orang idealis dan pintar berani untuk turun tangan beradu di lapangan, berani berkorban, bukan hanya berbicara disamping dinding, masa depan Negara ini ada ditangan kita, jika kita memberikan masa depan kita pada orang-orang bodoh di sana itu, maka jangan protes lagi jika banyak masalah, karena itu salah kita sendiri membiarkan mereka memegang kendali.Kita harus merebut posisi untuk melakukan perubahan.

 

Aduhhh saya jadi berapi-api gitu ya..heheh

Buat-buat temen-temen yang profesinya dokter, tulisan ini sedikit kritis ya, ngga papa kan?..

 

Akhirnya, setelah membawa kesal dihati karena tidak bisa berobat ke dokter asuransi, saya kembali pulang ke rumah dengan raut muka murung. Ahhh saya ingat, saya ini juga dokter lo,,saya dididik dan diangkat menjadi dokter kecil waktu SD, dan status dokter saya belum dicabut.Dengan sedikit pengalaman dan keberanian saya akhirnya meramu obat sendiri, tak peduli apabila keracunan, saya tak takut mati…..mau gimana lagi?….hehehe

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: