Posted by: alfigenk | July 30, 2011

cerita tentang Nenek

Tadi saya membayar dengan cicil hutang saya kepada nenek, setelah beberapa bulan tidak saya bayar, karena tidak punya uang.

Nenek saya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hasil  beberapa pohon  kelapa dibelakang rumah. Ada seorang laki-laki setengah baya yang nenek saya sering meminta tolong kepadanya untuk mengambilkan buah kelapa, dan di beri upah secukupnya, beberapa ribu rupiah per-pohon. Dan hampir setahun yang lalu lelaki itu mati setelah terkena penyakit, penyakit yang sebenarnya bisa sembuh jika dia punya sedikit uang dan kemauan untuk tetap dirumah sakit selama beberapa hari lagi, tapi waktu itu pemerintah daerah terkena kemelut politik yang berdampak tidak cairnya uang jaminan kesehatan daerah, maka matilah lelaki setengah baya itu, lelaki miskin yang pendiam, rajin kemesjid setiap magrib dengan pakaian rapi, lelaki setengah baya yang badannya masih kekar dan bugar itu meninggalkan istrinya dan anak-anaknya yang masih sangat kecil, lelaki itu adalah keluarga jauh kami. Dan nenek saya kehilangan teman bicaranya dalam masalah kelapa yang biasanya setiap beberapa hari ada saja yang diambil buahnya.

Saat ini nenek saya sedang sakit, dan ketika sakit pun beliau masih suka berjalan ke rumah anak-anaknya, melihat cucu dan buyut-buyutnya, susahnya beliau ditegur untuk istirahat. Umur yang sudah lebih dari 90 tahun adalah masa kesepian, tidak ada lagi teman sebaya untuk diajak bicara, bahkan teman-teman dibawah beliau pun sudah banyak yang pulang kerumah-Nya. Kami mengerti kesepian yang membosankan bagi beliau, kadang disiang hari beliau masih suka meluangkan waktu untuk mengaji, suara beliau yang bagus dengan lagu bacaan mengaji yang khas orang jaman dulu, yang saya saja tidak bisa menirunya.

Panjangnya umur nenek saya dan masih segarnya ingatan beliau adalah berkah tersendiri bagi kami, dan saya biasanya masih senang mendengarkan cerita-cerita beliau dalam menjalani hidup dalam tahun-tahun yang panjang.

Nenek saya selalu meringis seperti ingin menangis, bila bercerita bahwa beliau tidak pernah bertemu dengan ayah kandungnya, ketika orang tua bercerai diwaktu beliau masih bayi, walau pernah beberapa kali kakek buyut saya ingin menemui nenek saya tapi selalu saja salah waktu dan tempat, ketika kakek buyut saya dengan sengaja datang ke kampung nenek saya, nenek saya malah sedang pergi kesuatu tempat, nenek saya bercerita bahwa kakek buyut saya selalu sangat sedih dan menangis ketika tidak berhasil menemui anak gadisnya.

Ini adalah cerita tentang kasih sayang orang jaman dulu, yang menurut saya penuh dengan cerita-cerita yang mengharukan dan ketulusan, meski kadang dilihat dari kacamata orang jaman sekarang akan sangat mengerutkan dahi.

Nenek buyut saya, ibu dari nenek saya adalah salah seorang gadis yang paling cantik di kampung dijaman itu, anak dari seorang haji, dari keluarga yang terhormat dikampung ini.

Nenek buyut saya menikah dengan seorang saudagar kaya, seorang lelaki bertubuh kecil pedagang kain dari kampung didekat pegunungan meratus, lelaki itu adalah seorang haji, keturunan dari salah satu keluarga ulama paling besar di tanah banjar, sayangnya lelaki kecil itu sangat suka kawin, jarang kurang dari empat, nenek buyut saya itu entah istri yang keberapa, nenak saya pernah mengatakan bahwa diwaktu kecil beliau pernah diberitahu nenek beliau dari pihak ayahnya bahwa beliau mempunyai sekitar dua puluh dua orang saudara seayah, yang tersebar banyak dimana-mana, dan kemungkinan masih ada anak yang lain lagi itu masih ada.

Nenek buyut saya bercerai dengan kakek buyut saya untuk kedua kalinya ketika kakek buyut saya pamit ingin merantau berdagang bersama istri mudanya, membuat nenek buyut saya melemparkan air ke muka kakek buyut saya karena sakit hati akan ditinggalkan pergi, sedang waktu itu nenek saya baru lahir sebagai buah hati pernikahan kedua mereka setelah rujuk. kakak perempuan nenek saya yang seibu seayah dibawa ikut merantau yang sesekali pulang kekampung untuk menemui nenek buyut saya.

Kata nenek saya jaman dulu tidak ada istilah pacaran, karena itu terlarang, pacaran bisa membuat nyawa melayang, sangat aib bagi sebuah keluarga jika perempuan mereka sampai diganggu laki-laki, maka biasanya akan ada salah satu anggota keluarga yang akan turun untuk membunuh lelaki pengganggu itu, tapi jika mau menikahi, maka akan disambut dengan tangan sangat terbuka, itu juga akhirnya biasanya laki-laki dan perempuan akan menikah muda, dan apabila bercerai, itu dengan baik-baik pula, nenek saya saja punya tiga orang suami hehe,, ada sebuah tempat ditengah sawah yang ditumbuhi sebuah pohon lurus, tempat itu sangat terkenal sebagai pohon berdarah, karena disana tempat tewasnya dua laki-laki anak beranak ketika berkelahi dengan seorang lelaki pengganggu perempuan keluarga mereka.

Nenek saya tinggal dirumah yang keluarga saya tempati saat ini,dulu ini rumah banjar besar, tapi sekarang hanya tinggal seperempat saja lagi, nenek saya dipelihara oleh buyut perempuan beliau yang sudah sangat tua, nenek saya bercerita bahwa nenek buyutnya jika berjalan akan bungkuk karena sudah tua, sedangkan nenek dari nenek saya sudah lebih dulu meninggal, dan ibu dari nenek saya sedang mengikuti suami barunya dikampung lain bersama adik-adik nenek saya yang seibu .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: