Posted by: alfigenk | December 19, 2011

Mengantuk yang Sopan, Idealisme yang Sopan

 

 

 

….

Saya mengikuti Diklat Prajabatan golongan III dikementerian tempat saya bekerja saat ini, Balai Diklat Kementrian Agama Banjarbaru, yang membawahi provinsi Kalimantan selatan, Kalimantan tengah dan Kalimantan Timur.

 

Mengikuti sebuah kegiatan Diklat sejujurnya sangat menyenangkan, kita seperti diberi waktu libur dari lusuhnya hari-hari kita di kantor, memberi ruang bagi kita untuk merefleksikan segala sesuatu yang terjadi dalam pekerjaan selama ini, mendapatkan hasrat kembali untuk berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai daerah dengan latar belakang dan permasalahan yang berbeda, selebihnya kita juga diberi ilmu-ilmu baru yang bermanfaat dalam arahan-arahan yang diberikan dalam perkuliahan.

 

Peserta yang berasal dari seluruh kabupaten di Kalimantan selatan Kalimantan tengah dan Kalimantan timur, dari berbagai profesi di berbagai instansi yang bernaung dibawah Kementrian Agama,  Ada calon dosen dari berbagai perguruan tinggi islam, Kristen dan hindu, calon Guru, calon Pegawai structural dan calon pegawai fungsional, seperti penghulu dan penyuluh agama dari berbagai agama, dari jenjang pendidikan yang bukan hanya S1, bahkan S2 dan S3 sebagai Kandidat Doktor, peserta pun berasal dari berbagai agama dan suku bangsa dari luasnya geografi pulau Kalimantan ini, Diklat Kementrian Agama adalah sebuah pertemuan yang berdinamika dan pluralis dari seluruh balai diklat lainnya, dan Diklat Kementerian Agama di banjarbaru adalah salah salah satu yang paling dinamis di Indonesia.

 

Dalam perkuliahan ini ada saja hal-hal menarik yang terjadi, memberi kita inspirasi atau bahkan memunculkan ide-ide brilian yang tak disangka-sangka muncul dalam ungkapan logika yang betul-betul menyenangkan bagi kita semua.

 

Suatu siang yang melelahkan, seluruh kelas kelihatan mengantuk, lelah lelah karena kegiatan dalam sepuluh hari lebih ditempat ini yang menyita hampir empat belas jam untuk sebuah kegiatan, dua belas jam pelajaran dilakukan dalam kelas, duduk yang melelahkan, kadang membosankan. Rindu kepada keluarga adalah siksaan tersendiri, dan sudah dimaklumi bagi yang berkeluarga ada kebutuhan yang harus ditunda. Di lain sisi, bagi yang belum berkeluarga diklat ini adalah sarana pencarian pasangan yang ditunggu-tunggu.

 

Disebuah kegiatan kelas, dosen fasilitator kami yang baik dan ceria tanpa lelah dengan sabar memberi materi. Beliau adalah seorang wanita paruh baya yang kuat dalam memegang prinsip, beliau mengajar kami dengan sangat baik, sebuah materi tentang komunikasi yang efektive, komunikasi yang memelurkan sebuah  sopan santun, ibu dosen kami dengan terus terang memahami lelah yang kami rasakan disiang itu, lelah yang kami rasakan rasanya tak terbendung lagi, Dan kami seperti terus tidak dapat melawan kantuk kami.

 

Teman saya, seorang yang saya hormati, mempunyai banyak pengalaman dalam perjalanan menuntut ilmunya dinegeri orang, telah juga terkantuk-kantuk, dan saya sama seperti dia terkantuk-kantuk dengan kesulitan tersendiri, saya melihat keseluruh kelas yang berjumlah empat puluh orang, hanya beberapa orang yang tidak terkantuk-kantuk.

 

Sebuah sesi Tanya jawab rupanya dibuka, hal yang ditunggu-tunggu oleh semua peserta, dan beberapa pertanyaan telah mulai di utarakan, kantuk kami mulai hilang karena memperhatikan sesi Tanya jawab yang selalu menarik, kadang kami tertawa dengan berbagai gaya dan bentuk pertanyaan yang unik dan lucu.

 

Akhirnya teman saya itu dengan tiba-tiba mengangkat tangan, tanda bahwa dia ingin mengutakan sesuatu di forum Tanya jawab ini. Ibu fasilitator kami dengan tanggap dan senyum yang manis mempersilahkan kepada teman saya untuk berbicara.

 

Teman saya memulainya dengan uraian datar, bahwa ada banyak sopan santun yang harus kita lakukan dalam hidup ini, termasuk juga sopan santun khusus dalam kegiatan atau acara tertentu, dalam banyak hal sudah ada etika atau sopan santun baku dalam pergaulan international yang menjadi referinsi kita semua. sopan santun adalah bagian dari komunikasi yang sangat krusial dalam keberhasilan komunikasi tersebut. Diklat ini adalah salah satu contohnya, seperti terlihat, hampir semua peserta kelihatan mengantuk, dan kelihatan juga bahwa para peserta untuk menghargai acara ini berusaha sekuat tenaga untuk tetap menahan kantuk, meski sebagian yang lain malah sudah larut dalam tidur dengan gaya masing-masing, ketika melakukan pertanyaan ini pun kita memulainya dengan sopan santun, mengungkapkan pertanyaanpun harus dengan kata-kata yang sopan dan santun. Maka seperti kasus dikelas ini, kantuk adalah hal manusiawi dan sangat wajar terjadi ketika tubuh fisik kita mulai terasa lelah, sesuatu yang kita akui bersama sangat sulit dihindari oleh siapapun orang itu, pertanyaannya adalah apakah dalam acara formal seperti ini sudah ada sopan santun standar untuk mengantuk, dengan lain kata bagaimana kah cara mengantuk yang sopan itu?

 

Kelas pun menjadi heboh dengan tawa, semua orang terbangun dari tidurnya, ini adalah pertanyaan unik, dengan logika sederhana yang sejujurnya memberikan kita inpsirasi dalam banyak hal dalam memberikan solusi di permasalahan lainnya.

 

Ibu dosen fasilitator pun tertawa dengan senang dan mengapresiasinya, pertanyaan unik ini adalah kejutan,, kejutan bagi kita semua.

Diklat, sekali lagi adalah ajang kita untuk dididik dan dipersiapkan menjadi pegawai negeri sipil yang paripurna, tempat kita dipangcing untuk berpikir kritis, agar kita siap menghadapi tantangan ke depan sebagai pelayan publik yang berkwalitas, kritis bukan hanya kritik tapi juga pujian serta apresiasi yang diungkapkan bagi sesuatu hal yang dikritisi tersebut. Kritis  dalam defenisi yang saya pahami adalah seperti itu, kritis bukan hanya kritik, kritik adalah bagian dari kritis, kita mengkritik bila hal kita anggap ada yang salah dan kita memujinya bila hal itu adalah sebuah kebenaran dan prestasi yang baik, kritis adalah cara mengungkap dan pemberian nilai yang seimbang, kritis adalah salah satu bagian terpenting dalam membentuk pola pikir kompentensi yang baik untuk kemajuan bangsa ini dan khususnya untuk  aparatur Negara kita tercinta ini. Meski untuk sebagian yang lain, kritis adalah salah satu hal yang paling menakutkan untuk didengarkan. Kita harus mengubah pemahaman kita tentang defenisi kritis ini.

 

Idealism adalah momok yang menjadi dilema, idealisme dipandang sarana prinsipil yang paling krusial dalam memperbaiki keadaan saat ini, idealism oleh sebagian orang telah dianggap mati dan bukan lah hal yang berguna dalam pragmatism kultur dunia kerja aparatur Negara saat ini. Disisi lain idealime tetap dianggap senjata moral paling ampuh untuk  keadaan saat ini, pertarungan kedua cara pandang ini seperti pertempuran hebat yang keras dan memakan korban. Dan Idealism tetap menjadi harapan satu-satunya yang terus didengungkan tanpa henti.

 

Mengantuk yang sopan kembali memberi saya sebuah inspirasi, seolah-olah logika dari pernyataan ini menjadi embrio untuk memberikan sintesa baru, saya memimpikan dapat menghadirkan sebuah jalan tengah, sebuah solusi cerdik yang menyenangkan, sehingga orang-orang menjadi lebih tertantang untuk berani menampilkan idealismenya.

 

Ibu dosen fasilitator yang baik hati itu di kemudian hari, dipertemuan selanjutnya, sempat bercanda dengan menyebut kalimat “marah yang sopan”, ini menarik bukan?…kita akan terbayang dengan gaya sindiran lembut dan kata-kata ungkapan kemarahan yang manis dari para bangsawan inggris, haaa itu lah dia…saya menawarkan konsep teknis “idelisme yang sopan”.

Idealisme yang sopan, iya, saya teringat seorang atasan saya, seorang yang dulu sangat idealis dalam memegang prinsip, dia keras dan kaku, dan itu membuat dia tersingkir. Dalam sebuah pembicaraan informal akhirnya dia menyadari bahwa idealisme itu rupanya memerlukan sebuah etika, “idealisme memelurkan etika”, dan untuk aplikasi sebuah idealism yang penuh tantangan ini kita harus bermain dengan sopan, idealism yang sopan adalah anak kandung dari mengantuk yang sopan.

 

Seorang pegawai di Balai Diklat pernah memberi sebuah pendapat bahwa golongan III adalah para sarjana terpilih, yang mana daya kritisnya harus terus dipertahankan dan harus bisa mengaplikasikan idealismenya untuk bisa menghadapi tantangan jaman dan menjadi aparat yang bisa berkompentensi lebih baik untuk kemajuan bangsa kita tercinta ini. Saya jadi teringat sebuah adigum umum dimasyarakat, jika kita ingin mengkritik maka harus kritik yang membangun, sebenarnya kita juga harus mengubah pola pikir seperti ini, saya sudah mendengar adigum ini sedari kecil dan selama itu juga tidak banyak berguna dalam memperbaiki keadaan, kritik yang membangun adalah kata lain dari sebuah pujian, dan pujian tentu tidak banyak berguna untuk memperbaiki keadaan saat ini kecuali hanya kesenangan atas pujian itu sendiri.

 

Diklat ini telah berhasil menjadikan kami menjadi lebih optimis menghadapi tantangan kedepan, pluraritas peserta yang ada dikelas, baik dari pengalaman bekerja sebelum menjadi CPNS dan pendidikan yang pernah diperoleh, serta dinamika diskusi yang egaliter dengan kultur akademik yang memadai menjadikan inspirasi datang dengan cerahnya. Saya harus mengakui secara subyektive bahwa Diklat kementrian Agama adalah salah satu yang terbaik di Negara kita ini, dan pantas di contoh oleh Diklat Kementrian lainnya. Diklat Kementrian Agama sedang mempersiapkan regenerasi aparaturnya menjadi salah satu yang terbaik untuk membawa negeri ini menjadi lebih baik.

 

Sekali lagi idealisme yang sopan adalah anak kandung dari mengantuk yang sopan. Saya tidak akan mengupas idealisme yang sopan secara lebih dalam saat ini, tapi nanti, ketika kantuk saya sudah hilang, saya akan menuliskan dengan baik akan hal ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: