Posted by: alfigenk | August 17, 2012

Menggagas Pendidikan Hukum di Sekolah Menengah

Gambar

 

 

Terinspirasi dengan tulisan mas Choiuol Huda yang berjudul

Benarkah Polisi Segan dengan Dosen, Tentara dan Wartawan?

Membuat saya jadi teringat dulu waktu di jogja, saya pernah diceritain teman, bahwa ada mahasiswa hukum yang meletakkan helm di Spion,,,kemudian mereka lewat dengan sengaja didepan pos polisi…serta merta polisi menghentikan mereka, lalu terjadi perdebatan..polisi tidak jadi menilang setelah mahasiswa tersebut menang dalam perdebatan, argumentnya adalah bahwa tidak ada satu undang-undangpun yang menyatakan bahwa helm harus diletakkan dikepala…

mendengar cerita tersebut saya jadi terkejut, saat itu saya tidak pernah mendengar orang berani melawan polisi dengan beradu argument hukum di jalan, saat itu dibenak saya polisi tak bisa dilawan.

dikemudian hari, saya akhirnya berurusan dengan polisi gara-gara sepeda motor saya yang dipakai teman di tilang polisi..saya datang ke pos polisi dan para polisi tersebut melayani saya dengan lemah lembut, seorang polisi mengatakan dengan sedikit tidak percaya diri bahwa dia sekarang juga sedang kuliah,, padahal saya tidak bertanya sedikitpun tentang dirinya…dari situ akhirnya saya sadar di jogjakarta seorang mahasiswa rupanya juga disegani polisi,,,karena mungkin kapasitas intelektual dan akademisnya..

setelah pulang kampung, saya mendapati hal berbeda dengan jogjakarta, banyak orang, baik mahasiswa, PNS, dan juga termasuk guru sangat takut dengan polisi, meski polisi itu baru lulus pendidikan..rata-rata polisi itu hanya lulusan SMA yang mempelajari masalah hukum pun mungkin tidak sampai satu semester..bayangkan dengan sarjana Hukum?… didaerah juga didapati banyak gadis-gadis tergila-gila dengan polisi..termasuk mahasiswa….mereka kebanyakan tidak bisa membedakan antara perwira dan bintara…hal ini sesuatu yang tidak saya dapati ketika kuliah di jogjakarta…di jogja, teman saya yang seorang perwira saja begitu kesulitan mencari pasangan (pacar)…dan teman-teman saya mahasiswi kebanyakan sangat tidak tertarik dengan polisi…mereka menganggap berpedaan pola pikir antara mahasiswa yg calon sarjana dan Polisi yang hanya lulusan SMA akan sangat tidak cocok…seperti turun derajat saja…meski hal itu saya pikir tidak selalu tepat,

didaerah saya ada polisi yang menampar seseorang, dan akhirnya polisi itu di laporkan secara hukum ke polisi juga, sebagai uang perdamaian polisi itu harus membayar 25 juta rupiah akibat kesalahannya..

yang tidak banyak disadari masyarakat adalah bahwa status polisi saat ini adalah sipil dan bukan militer lagi, mereka tunduk kepada hukum sipil, artinya status mereka sama dengan kita..mereka boleh menggertak kita, tapi mereka tidak boleh memukul kita, mereka boleh mendakwa kita, tapi ada kejaksaan dan peradilan yang kan menentukan status hukum kita….

seorang teman saya didaerah yang bekerja sebagai seroang tukang sapu di kantor kejaksaan mengatakan dia begitu dihormati oleh seorang polisi ketika dia memakai baju seragam kejaksaan, saya jaditertawa mendengarnya, tentu saja polisi tidak akan bisa mendakwa seseorang ke pengadilan tanpa melewati kejaksaan, dan apa yang akan terjadi jika polisi membuat masalah dengan kejaksaan, polisi akan tidak bergigi lagi.

pengetahuan akan hukum dimasyarakat luas harusnya diberikan sedari mungkin, saya malah menyarankan agar pendidikan ilmu hukum mulai diajarkan dari sekolah menengah pertama, agar ada kesadaran hukum yang merata ditengah-tengah masyarakat, hukum tidak lagi menjadi konsumsi para polisi, jaksa, hakim, atau pengacara atau para akademisi hukum di perguruan tinggi. Pendidkan tentang korupsi saja tidak cukup, kita memerlukan hal lebih dari pada itu, saya lihat pendidikan korupsi lebih kepada pendidikan moral, sedangkan pendidikan hukum akan mempelajari masalah teknis hukum.

Advokasi hukum didaerah dan ditingkat masyarakat bawah selama ini terabaikan, banyak kasus hukum menjadi biang masalah sosial, seperti penyerubutan lahan secara paksa, pengambilan lahan secara paksa dan sebagainya, hal ini disialir dilakukan oleh orang-orang yang menganggap masyarakat tidak akan mampu memberikan perlawanan secara hukum untuk membela diri, anggapan ini kadang sangat benar, para advokadpun jarang sekali menjadi sukarelawan untuk masalah ini. didaerah dan kota-kota kecil mencari sarjana hukum sangat susah, apalagi berpikir mencari pengacara, dan jika ada pun pengacara kita memerlukan dana untuk menyewa mereka…lalu siapa yang akan membela?…

Pendidikan dasar tentang hukum lah yang bisa menjadi salah satu solusi, masyarakat akan mampu mengadvokasi diri mereka sendiri. adanya argumentasi hukum yang bisa dilakukan oleh masyarakat ditingkat bawah dapat memberikan pencerahan dalam penegakan hukum di indonesia saat ini, kesewenangan para penegak hukum bisa diminimalisir dan kesadaranan hukum masyarakatpun menjadi lebih baik. Kesenjangan hukum akan bisa ditekan. Saling menghargai atas nama hukum pun akan ada. Permasalahan sosial akibat persoalan hukum akan bisa ditekan.

Penegakan hukum adalah salah satu syarat bagi kemajuan bangsa ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: