Posted by: alfigenk | June 20, 2013

Kafaah Perkawinan dalam Masyarakat Banjar

explorewisatakalimantan.blogspot.com

explorewisatakalimantan.blogspot.com

Kafaah Perkawinan dalam Masyarakat Banjar

Oleh: Alfigenk Ansyarullah

(disadur dari Makalah Penulis berjudul Kafaah dalam Masyarakat Banjar pada lomba karya Ilmiah kementerian Agama kalimantan Selatan 2012)

Memperhatikan kafaah dalam masyarakat banjar saat ini memang terasa sulit, seiring perubahan zaman, kafaah dalam definisi tradisional telah mulai memuadar, sebut saja banyaknya pernikahan keturunan bangsawan atau ulama yang telah dinikahi atau menikah dengan orang diluar jalur kebangsawanan atau keulamaan. Perubahan sosial budaya dan mulai pudarnya pengaruh feodalisme adalah salah satu penyebabnya, perubahan ini merupakan keniscayaan zaman yang tidak bisa kita bendung.

Dalam rentetan sejarah, kita bisa melihat, masyarakat banjar terlihat sangat egaliter, gelar-gelar yang diturunkan secara keturunan dalam jalur kebangsawanan juga memperlihatkan adanya ruang yang tidak ketat terhadap konsep kafaah. Hal ini yang mendasari penulis untuk membahas masalah kafaah dalam masyarakat banjar.

Terlepas apakah konsep kafaah masih dianggap relevan atau tidak di zaman ini, hal itu tidak bisa memungkiri bahwa konsep kafaah masih menjadi pertimbangan dalam sebagian masyarakat banjar. Konsep kafaah sendiri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perkawinan Islam dan dibahas hampir disetiap kitab dan buku tentang hukum perkawinan Islam.

Salah satu alasan para Ulama meletakkan kafaah sebagai salah satu syarat dalam mencapai tujuan perkawinan adalah untuk mewujudkan  kehidupan rumah tangga yang tenteram (sakinah), penuh cinta dan kasih sayang(mawaddah warahmah).

 

 

 

 

Urang Banjar atau etnik Banjar adalah nama untuk penduduk yang mendiami daerah Kalimantan Selatan. Masyarakat Banjar sendiri merupakan sebuah perpaduan dari orang-orang Melayu, Suku Dayak Bukit, Ngaju, dan Maanyan yang akhirnya membentuk sebuah perpaduan kultural.

Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan mayoritas beragama Islam, karena sejarah terbentuknya Kerajaan Banjar yang memang didasarkan dari Islam, sehingga dalam perkembangannya Islam tidak lepas dari Masyarakat Banjar itu sendiri, Kerajaan Banjar didirikan pada abad ke 16 M oleh Pangeran Samudera yang dengan bantuan Kerajaan Demak berhasil mengalahkan Pamannya Pangeran Tumenggung di Negara Daha. Sebagai konsekuensi dari bantuan Demak, Pangeran Samudera berpindah agama dengan memeluk Islam dan menjadi Sultan pertama di Kerajaan Banjar pada tahun 1526 M/936 H.

 

Kemenangan Pangeran Samudera dan pengikutnya atas kerajaan Negara Daha merupakan suatu perwujudan perubahan awal terjadinya pergeseran politik dari kerajaan pedalaman agraris dan Hindu kepada kerajaan yang bersifat maritim dan Islam. Pangeran Samudra merubah nama dan gelarnya menjadi Sultan Suriyansyah, dan kemudian ibukota dipindahkan ke Banjarmasin yang terletak di dekat muara sungai Barito. Ketika kerajaan Banjar berdiri maka agama Islam dijadikan sebagai pendukung kewarganegaraan dan status daerah mereka.

Agama Islam telah menjadi agama resmi dalam kerajaan, menjadi sumber hukum yang berlaku di seluruh kerajaan Banjar. Dan untuk itu kerajaan melakukan proses pem-Banjara-an yang identik dengan syiar agama Islam, dari daerah hilir (muara Sungai Barito) ke daerah pedalaman dengan menggunakan bahasa Melayu yang disebut juga dengan bahasa Banjar sebagai bahasa pergaulan, serta menggunakan aksara Arab Melayu Banjar di wilayah Kalimantan selatan.

Dalam penelitian terbaru, para Pengislam Banjar utusan dari kerajaan demak ternyata meninggalkan jejak dan keturunan mereka di tanah banjar, hal ini dapat di lihat dari beberapa mesjid tua yang diakui secara ilmiah sebagai mesjid yang berumur ratusan tahun. Keluarga dari para utusan demak ini juga menjadi bagian penting dalam sosial,politik, keagamaan di tanah Banjar dari Kerajaan Banjar berdiri hingga saat ini.

 

Sebelum Islam datang di kalimantan selatan, khususnya di tanah banjar, Masyarakat banjar telah dipengaruhi oleh Agama Budha dan Hindu. Dalam agama Hindu, Kasta merupakan unsur utama agama dalam membentuk strata sosial, Kasta sendiri mempunyai peratuan yang ketat dalam hal-hal pergaulan antar Kasta dan tentu saja perkawinan.

Dimasa Islam, dalam sistem kekerabatan Bangsawan Banjar terdapat beberapa gelar kebangsawanan yang diturunkan secara keturunan, misalnya Gusti, Antung, Andin, Anang dan Galuh. Dari gelar-gelar ini sebenarnya bisa dilihat bentuk-bentuk perkawinan dari masyarakat kelas Atas Banjar yang sangat terbuka. Misalkan gelar Andin dan Anang, gelar Andin mapun Anang merupakan gelar yang biasanya diberikan kepada anak dari seorang suami yang berasal dari kalangan Biasa dan istrinya berasal dari bangsawan dengan gelar Gusti atau Antung.

Para Utusan Islam dari kerajaan Demak diatas dipercaya merupakan para ulama-ulama keturunan bangsa Arab bahkan ada yang menyakini mereka keturunan para Bani Alawiyiin melalui jalur wali songo, para utusan pengislam Demak ini kemudian bermukim dan menikahi masyarakat setempat, maka dari sinilah dimulai pengislaman suku Banjar secara bertahap menjadi suku yang memeluk agama islam, menikahi wanita setempat merupakan salah satu cara penyebaran paling mumpuni, sehingga keluarga wanita pribumi yang dinikahi juga bisa di Islamkan, beberapa keluarga keturunan para utusan Demak ini saat ini masih bisa kita temui di daerah Hulu Sungai. Dari cara menikahi wanita pribumi ini kita juga bisa melihat tidak ketatnya aturan kafaah dalam pengislaman awal tanah banjar.

Salah satu keluarga yang sangat mendominasi keulamaan dari suku Banjar saat ini adalah keluarga dan keturunan Syekh Arsyad Al-banjari. Selama dua ratus tahun terakhir ini keluarga syekh arsyad telah menyebar luas ke seluruh tanah banjar dan bahkan menyebar ke seluruh Nusantara. Syekh Arsyad sendiri mempunyai banyak Anak, baik laki-laki dan perempuan, yang menurunkan banyak keturunan yang menjadi ulama-ulama hingga saat ini. Menariknya adalah dalam keluarga ini tidak terdapat aturan baku dan ketat tentang kafaah bagi perkawinan keturunan-keturunan mereka.

Keluarga Arab ditanah banjar yang banyak bermukim di tanah banjar merupakan satu-satunya keluarga yang masih secara ketat dalam mempertahankan konsep kafaah didalam keluarga mereka, baik dalam keluarga Arab biasa maupun keluarga Arab Alawiyyin. Aturan sangat ketat dapat kita jumpai dalam keluarga Arab Alawiyyin terhadap kaum perempuan mereka, mereka melarang perempuan-perempuan mereka menikah dengan seorang laki-laki diluar garis keturunan mereka, hal ini dilakukan untuk menjaga kehormatan dan garis darah mereka. Sedangkan untuk laki-laki, mereka bebas memilih wanita mana saja yang mereka sukai, meskipun sangat dianjurkan mengutamakan perempuan dari bani Awaliyyin untuk diambil sebagai istri mereka. Meskipun sangat ketat, tetapi hal itu tidak menghalangi beberapa perempuan dari keluarga Arab biasa maupun Alawiyyin untuk menikah dengan laki-laki diluar keluarga arab tersebut.

Konsep-konsep kafaah dalam perkawinana masih bisa kita lihat dari masyarakat banjar saat ini, di kota-kota kecil di daerah tanah Banjar misalnya, ada keluarga tertentu yang masih melihat latar belakang keturunan dan pengetahuan dalam permasalahan agama sebagai pertimbangan utama, sebagai contoh misalnya di martapura,seseorang dari keturunan desa dalam pagar martapura dianggap sangat mumpuni untuk diambil menjadi menantu karena dianggap mempunyai keturunan langsung dari ulama besar Syehk Arsyad al-Banjari, ada juga keluarga tertentu yang masih secara ketat melihat latar belakang pendidikan dan pekerjaan, sebagai contoh apabila anaknya bekerja sebagai seorang Pegawai Negeri maka diharapankan calon pasangannya juga merupakan seorang Pegawai Negeri atau pekerjaan yang dianggap setara sebagai Pegawai Negeri misalnya pegawai Bank atau BUMN. Begitu pula dalam keluarga pedagang atau pengusaha ada kecendrungan untuk mengambil calon pasangan dari sesamanya, meski sekali lagi hal ini tidak lah berlaku secara ketat.

Dipedesaan, konsep kafaah menjadi sangat beragam, karena pedesaan mempunyai tradisi dan sejarah keluarga yang berbeda-beda, akan terlihat konsep kafaah secara umum tidak pernah menjadi pertimbangan utama kecuali tentu saja kafaah dalam hal agama, harta kekayaan biasanya diberi perhatian lebih dan menjadi salah satu kebanggaan, pertimbangan asal muasal calon pasangan juga sangat disukai, misalnya calon pasangan berasal dari kota besar atau daerah yang banyak disukai oleh masyarakat desa. Keragaman dalam hal-hal yang disukai dalam mencari pasangan dipedesaan menjadi fenomena yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Dari sisi lain kita juga bisa melihat masyarakat banjar juga tidak bisa lepas dari pengaruh globalisasi, pertimbangan-pertimbangan dalam memilih pasangan hidup tidak serta merta bisa selalu dibawah kontrol orang tua, bukan lagi seperti jaman Siti Nurbaya yang terkenal dalam novel klasik terbitan balai Pustaka itu lagi. Dengan kata lain, orang tua tidak dapat secara absolut menentukan pasangan hidup anaknya. Seorang pemuda atau pemudi sendiri itu lah yang akan memilih dan menentukan calon pasangan hidupnya, mereka masing-masing punya kriteria dan impian masing-masing, yang mana kriteria mereka ini tidak lah selalu sama dengan kriteria klasik dalam islam.

Melihat hal tersebut diatas, konsep kafaah secara Islami seperti di jelaskan pada bab sebelumnya disinyalir tidak menjadi pertimbangan utama secara umum lagi. Ada hal-hal lain yang lebih bersifat fenomena sosial yang dijadikan pertimbangan utama, misalnya ada suatu masa seorang Pegawai Negeri menjadi impian dan gengsi tersendiri bagi banyak orang untuk menjadi pasangan hidup, maka lah ketika seseorang mendapati seorang Pegawai Negeri sebagai calon pasangan hidupnya maka akan segera menjadi kebanggaan dan memenuhi rasa gengsi di tengah masyarakat, meski apapun latar belakang kehidupan dari keluarga Pegawai Negeri tersebut tidak lah menjadi penting lagi.

Fenomena seperti ini juga terus berkembang dan mempunyai pasang surut, terkadang trend calon pasangan hidup itu berubah menjadi seorang pengusaha, terkadang seorang anggota POLRI, TNI, seorang Ustadz, seorang Musisi atau pegawai perusahaan pertambangan, seperti PERTAMINA atau perusahaan Batu Bara yang dianggap mempunyai gaji tinggi. Trend ini terus berkembang dan berdinamika sampai saat ini.

 

kesimpulan

Kafaah perkawinan merupakan elemen penting yang telah mentradisi di dalam agama Islam dan di perkuat dengan berbagai dalil naqli dan aqli, dalam perkembangannya konsep kafaah perkawinan pun berinteraksi secara unik dalam berbagai kebudayaan dimana islam tersebar.

Masyarakat banjar adalah masyarakat yang egaliter dalam hal perkawinan, dalam sejarah panjangnya kita mendapati gelar-gelar kebangsawanan yang diberikan dari hasil perkawinan yang egaliter tersebut.

Dalam masyarakat banjar kebanyakan, konsep kafaah perkawinan sepertinya tidak dijadikan sebagai rujukan utama dalam perkawinan mereka, kecuali dalam hal kesamaan agama yaitu islam. Meskipun begitu, dalam beberapa kelompok masyarakat masih ada yang menggunakan konsep kafaah dalam perkawinan-perkawinan mereka. Hal ini masih kita lihat dalam kelompok keluarga Arab, atau sangat disukainya keturunan dari seorang ulama untuk dijadikan menantu. Atau beberapa kelompok masyarakat yang masih mempertahankan tradisi keluarga mereka seperti megnambil menantu harus dari kalangan pegawai negeri, pedangan, ulama, dan sebagainya.

Perkembangan globalisasi juga menjadi perpengaruh besar bagi masyarakat banjar, peran orang tua tidak lagi dominan dalam memilih calon pasangan penganten anaknya, peran memilih itu menjadi hak dominan dari sang anak. Pertimbangan kafaah perkawinan akahirnya tergantikan dalam selera umum masyarakat, seperti ketika seorang PNS menjadi trend untuk dijadikan pasangan hidup maka hal itu lah yang mereka kejar, tren ini juga berkembang dinamis dan pasang surut sesuai fenomena sosial yang ada di masyarakat.

 

Semoga bermanfaat.

 


M.suriansyah Ideham (dkk.), Sejarah Banjar (Banjarmasin: Badan Penelitian dan

Pengembangan Daerah Kalimantan Selatan,2007), hlm. 106.

 

 

Rusyadi (Dkk.), Hikayat Banjar… hlm.161.

 

 

M.suriansyah ideham (dkk,), Sejarah Banjar…hlm. 20.

 

 

Ibid., hlm. 54., bahasa banjar sendiri merupakan perpaduan dari bahasa-bahasa dayak yang membentuk masyarakat banjar awal,

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: