Posted by: alfigenk | September 6, 2013

Binjai Pirua, Kampung Pagustian Bangsawan Banjar di Hulu Sungai

Bangsawan Kerajaan  Banjar

Bangsawan Kerajaan Banjar

Binjai Pirua, Kampung Pagustian Bangsawan Banjar di Hulu Sungai

 

Oleh: Alfiagenk Ansyarullah

Bagi yang sering melalui jalan trans Kalimantan sebelah barat di kalimantan selatan yang melewati daerah Kasarangan-Pamangkih terus ke amuntai atau sebaliknya mungkin tidak akan menyangka bahwa salah satu kampung disana merupakan salah satu pusat dari keluarga bangsawasan kerajaan banjar.  Wilayah ini masuk dalam kecamatan Labuan Amas Utara dengan ibukota Kasarangan, Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Nama kampung tersebut adalah Binjai Pirua, bersebelahan dengan kampung Pamangkih dimana sebuah pesantren Terkenal berada yaitu pesantren Ibnul Amin Pamangkih, dua kilo meter  ke utara dari pada kampung Binjai Pirua kita akan memasuki kampung Sungai Buluh dengan jembatan panjangnya yang melintai sungai batang alai, tidak jauh kemudian kita akan memasuk perbatasan Kabupaten hulu sungai tengah dan Kabupaten Hulu Sungai Utara atau amuntai tepatnya kecamatan Alabio.

Jika dilihat sekilas tidak ada yang berbeda dari kampung Binjai Pirua ini, namun jika lebih jeli kita akan mendapati sebuah komplek makam Khusus keturunan Pangeran disitu, sebuah pintu gerpang kecil dengan juga tulisan kecil menjadi penanda komplek makam sebagai bukti eksestensi para keturunan pagustian tersebut.

Hal menarik dari hal ini adalah setelah seratus lima puluh tahun lebih Kerajaan Banjar di hapus paksa oleh Belanda dari Tanah Banjar tidak banyak tersisa bukti dari kekuasaan seperti perkampungan pagustian yang bisa kita temui saat ini. Komplek kampung keraton di Martapura sebagai salah satu komplek elit yang tersisa tapi tidak pasti siapa yang membangunnya, dengan arsitektur yang tertata rapi banyak pihak mengatakan bahwa perkampungan tersebut malah di bangun oleh belanda bukan oleh pihak Kerajaan Banjar.  Di hulu sungai sebagai asal muasal kerajaan banjar hanya ada perkampungan yang diketahui seperti Palimbangan di Amuntai, selain itu Kota Kandangan juga banyak mempunyai penduduk keturunan para Pagustian, saya juga mendapat kabar bahwa ada sebuah kampung di kalimantan tengah tepatnya di kabupaten murung Raya atau lebih dikenal dengan puruk cahu yang penduduknya banyak bergelar Gusti, hal ini tidak mengejutkan dimana sisa kerajaan banjar yang dipimpin oleh Sultan Muhammad seman anak dari Pangeran Antasari bertempat dan beribukota di kampung Baras Kuning di salah satu aliran anak sungai barito di Puruk Cahu. Beliau memimpin sampai tahun 1905 Masehi, dimana para sejarawan saat ini banyak mengatakan tahun itu lah dimana kerajaan Banjar sebenar-benarnya berakhir dalam pengasingannya.

Restorasi kerajaan banjar saat ini di Martapura meskipun sudah diakui rupanya tidak mampu menyatukan kembali kerajaan yang runtuh seratus lima puluh tahun yang lalu tersebut, masyarakat sekarang lebih senang dengan status mereka yang sama dalam era Republik dan demokrasi dari pada dalam stuktur feodalisme kuno yang kembali ingin di raih oleh para pagustian dengan restorasi kebudayaan dan adat kerajaan banjar yang sayangnya lebih banyak tercium aroma politik dan kekusaan dari pada membangun kebudayaan kembali.

Kembali kepada kampung Pagustian Binjai Pirua, Penduduk Binjai Pirua masih banyak yang mempunyai gelar kebangsawaan seperti Gusti, Antung, Nanang dan Galuh, sebagian yang lain meskipun tidak mempunyai gelar kebangsawanan lagi tapi tetap merupakan keturunan dari para pagustian tersebut meski dengan sebab perkawinan tertentu mereka tidak mendapatkan gelar kebangsawanan.

Antung Basri salah satu keturunan Pagustian yang kami wawancarai menjelaskan tentang seluk beluk pewarisan dan pemberian gelar kebangsawan di Binjai Pirua sebagai berikut

  1. Gelar gusti merupakan gelar yang diberikan kepada anak seorang pangeran baik laki-laki maupun perempuan, seterusnya gelar gusti dapat diturunkan jika seorang gusti laki-laki menikah dengan seorang gusti perempuan maka anak mereka baik laki-laki maupun perempuan akan mendapatkan gelar gusti pula.
  2. Gelar Antung diberikan  jika seorang Gusti laki-laki menikah dengan seorang wanita biasa maka anak mereka baik laki-laki maupun perempuan akan mendapatkan gelar Antung, gelar Antung dianggap lebih rendah statusnya dari Gusti, anak-anak mereka dapat menurunkan atau mewariskan Gelar Antung tersebut menurut garis laki-laki kepada anak-anak laki-laki dan perempuan mereka, begitu seterusnya.
  3. Jika seorang antung laki-laki menikah dengan seorang antung perempuan maka anak mereka baik laki-laki atau perempuan dapat kembali memakai gelar Gusti.
  4. Seorang gusti perempuan atau seorang antung perempuan yang menikahi laki-laki biasa maka anak mereka jika laki-laki akan mendapat gelar nanang (Anang) dan jika perempuan akan mendapat gelar galuh.
  5. Jika seorang Antung laki-laki menikah dengan Galuh  maka anak mereka baik laki-laki maupun perempuan tetap mendapat gelar Antung.
  6. Jika seorang Antung perempuan menikah dengan seorang Nanang maka anak mereka jika laki-laki tetap mendapat gelar Nanang dan jika perempuan mendapat gelar Galuh.
  7. Jika seroang Nanang atau Galuh menikah dengan orang biasa atau sesama anang galuh maka gelar mereka tidak dapat diturunkan lagi.

Yang menarik dari para pagustian Binjai Pirua ini mereka dikenal juga dengan sebutan Para Uti sebagai nama lain dari Pagustian. Menurut Antung basri sayangnya beberapa keluarga ada yang salah dalam menurunkan gelar, seperti seorang yang harusnya mendapat gelar nanang atau galuh malah diberi gelar Antung.

Tidak diketahui kapan para pagustian mendiami wilayah kampung Binjai Pirua ini. Menurut Antung Basri juga keluarga keturunan dari Pagustian di Binjai Pirua mempunyai ikatan kekeluargaan dengan keluarga Pagustian di Palimbangan Amuntai, selain itu dilihat dari lembaran catatan silsilah yang dipunyai Antung Basri keturunan dari keluarga pagustian binjai pirua telah menyebar ke berbagai daerah diseluruh kalimantan selatan termasuk juga ke sumatera seperti  tembilahan Riau

Penulis juga mewawancari seorang keturunan nenek yang bernama Antung Purqa atau purba,=(beliau tidak begitu jelas menyebut nama beliau)=, dijaman dahulu banyak keluarga keluarga Pagustian Binjai pirua baik perempuan atau laki-laki yang dijodohkan dengan keluarga Mesjid Karamat palajau, beliau menyebut keluarga Palajau merupakan keturunan Andin. Gelar Andin merupakan gelar bangsawan jaman dahulu yang kemudian digunakan sebagai gelar bangsawan rendah setingkat Nanang dan Galuh yang tidak bisa diturunkan. Namun khusus di gelar Andin Palajau biasanya dapat diturunkan kepada anak laki-laki dan perempuan mereka. Sayang, sekarang gelar Andin hampir tidak pernah digunakan lagi.

Keseharian masyarakat di Binjai Piruan sama saja dengan perkampungan lain yang diisi dengan kegiatan pertanian dan perikanan, secara geografis kampung Binjai Pirua memang di kelilingi rawa-rawa dan dekat dengan sungai barabai, bebeapa bulan dalam setahun khususnya dimulai dimusim penghujan kawasan disekeliling kampung di liputi banjir air yang menggenai rawa-rawa seperti lautan tak bertepi.

Dalam bermasyarakat, tidak terlihat lagi adanya perbedaan status sosial yang mencolok disana antar keturunan pagustian yang mempunyai gelar dan yang masyarakat biasa, para pagustian disana bergaul seperti baisa seolah tiada sekat dan tiada berbatas, mereka pun sangat rendah hati, secara ekonomi pun para keturunan pagustian biasa-biasa saja dan sama, kecuali dalam upacara adat tertentu para keturunan pagustian biasanya diberi mendapat wewenang seperti memimpin upacara mandi-mandi dan sebagainya.

Memang Menurut Antung Purqa di jaman dahulu seorang biasa harus berbicara dengan sopan kepada para pagustian, beliau sempat merasakan hal itu dimana bukan hanya orang muda bahkan orang tua harus berbicara memakai kata sapaan Ulun dan Pian (bentuk sopan dan Halus dari kamu dan kau) kepada beliau, hal itu kadang membuat beliau tidak enak karena para orang tua juga berbicara dengan halus kepada beliau, hal ini dikarenakan sebagai bentuk penghormatan masyarakat biasa terhadap para bangsawan. Dalam beberapa kasus juga diberitakan tentang orang yang katulahan seperti muntah darah ketika berlaku tidak sopan dengan para pagustian.

Untuk menikahi seorang Uti Perempuan atau perempuan dari keluarga Pagustian ada syarat khusus yaitu membayar Tullah, berupa beberapa macam  bentuk, seperti Beras, Gula dan lainnya sebagai bentuk pembayaran untuk menghindari Tullah atau kuwalat karena menikahi seorang bangsawan dan juga agar juga anak-anak mereka nanti tidak mendapatkan penyakit. Di jaman dahulu tentu saja sulit untuk menikahi seorang pagustian namun di jaman sekarang hal itu tidak lah menjadi penghalang lagi namun adat membayar Tullah masih di lakukan, bahkan dalam beberapa kasus seorang perempuan biasa yang menikah dengan para gusti pun harus juga membayar Tullah meski hal itu tidak dianggap wajid seperti seorang laki-laki baisa menikahi perempuan Pagustian.

Beberapa adat unik lainnya dari kampung Binjai Pirua masih ada sampai saat ini seperti adat bamandi-mandi panganten serta adat menginjak  hintalu atau telor oleh penganten sampai pecah, serta adat mengantar penganten membuat kapal yang di kelilingi obor api untuk memeriahkan acara malam penganten dan sebagainya.

Kampung Binjai Pirua semestinya dapat menjadi destinasi sejarah dan budaya yang perlu terus di pertahankan sebagai bagian jati diri budaya.

Advertisements

Responses

  1. Kenpa tidak disertakan gambar Kampung Pagustian ini, tuan Alfigenk dalam post ini?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: