Posted by: alfigenk | July 21, 2014

Apakah Kekalahan Prabowo Adalah kekalahan TNI dan Umat Islam?

bangka.tribunnews.com

bangka.tribunnews.com

Apakah Kekalahan Prabowo Adalah kekalahan TNI dan Umat Islam?

Oleh: Andin Alfigenk Ansyarullah Naim

Saya tidak tahu apakah banyak dari kita semua menyadari bahwa pemilu kita ini begitu aneh dan janggal, dengan daftar pemilih yang 190 juta namun suara yang terhitung hanya sekitar 150 juta-an,  kemanakah sisa puluhan juta suara yang lainnya itu pergi? Apakah rusak? Hal itu sungguh tidak masuk akal, Saya kawatir suara saya tidak pernah benar-benar dihitung.

Sampai tulisan ini ditulis terdengar nyaring bahwa Prabowo telah kalah, meski KPU belum memutuskan dengan pasti dan berbagai protes dari pihak Prabowo juga belum ditanggapi KPU dengan baik, tapi sungguh banyak orang telah bersedih hati dengan banyaknya informasi kekalahan ini.

Jokowi anak kemarin sore yang sesungguhnya di gadang-gadang oleh prabowo sendiri untuk memimpin Jakarta telah menjadi seseorang yang disayangi media,selama hampir 3 tahun ini tanpa lelah menghiasi laman-laman berita di media cetak maupun telivisi dan berhasil menghipnotis banyak orang.

Pencitraan dan penguasaan banyak media adalah titik kunci dari kemenangan jokowi saat ini, yang tentu saja memerlukan investasi sangat besar, siapakah orang-orang yang berinvestasi sangat besar itu? Beberapa teman mengatakan itu bukan lah hal penting untuk dijawab karena tidak banyak alasan yang menyenangkan untuk mengungkapkan hal itu.

Prabowo seorang jendral tangguh yang hampir tidak pernah lelah membela Negara ini sering kali di olok-olok dengan kasar dan dinistakan, sekali lagi jika saja dia kalah maka dia kembali akan diolok-olok oleh rakyat yang pernah dibelanya.

Saya percaya bahwa pemilu adalah pesta rakyat dalam berdemokrasi, namun adigum yang mengatakan bahwa “pemenang pemilu sebenarnya adalah rakyat” adalah sebuah lelucuan ketika pemilu itu sendiri dipenuhi oleh kepentingan yang bukan untuk rakyat tapi oleh para pemegang modal yang bisa merupakan orang asing yang sejak lama mendukung salah satu capres, sesuatu hal yang sudah lumrah diketahui oleh kita semua. Rakyat malah rugi meluangkan waktu untuk memilih dan lelah dalam pertarungan politik dimedia massa para pemilk modal.

Tulisan ini tidak bermaksud memprovokasi. Perdamaian dan persatuan Indonesia adalah sesuatu yang pertama dan utama, kita harus menjunjungnya setinggi-tingginya, maka oleh karena itu lah kita tidak boleh tunduk terhadap segala hal yang dapat melemahkan kita disuatu hari nanti, disuatu hari nanti. Wacana cooling down setelah pilpres adalah sebuah keharusan dan tepat namun sekali lagi kita juga tidak boleh menutup diri terhadap kebenaran dan kepentingan bangsa yang hakiki, kita tidak boleh menyerah atau menceroboskan Negara kita dalam kekalahan sebenarnya dengan berlindung dalam kemenangan yang semu, semu bagi rakyat dan masa depan Negara ini.

Prabowo yang notabeni adalah salah satu  purnariawan TNI terbaik yang pernah di miliki Negara ini secara langsung adalah represintasi TNI itu sendiri, pandangan tradisional jika rakyat Indonesia masih menginginkan pemimpin kuat yang berasal dari Militer akhirnya tidak menjadi pakem lagi, dalam pandangan yang kasar kita akan mengatakan bahwa hal ini adalah suatu hal yang memalukan bagi TNI, harga diri TNI sepertinya akan turun bebas. TNI kalah telak dalam permainan.

Kekalahan pertama dari TNI terlihat dari pertarungan para purnairawan yang mendukung masing-masing kubu calon Presiden, hal berat dilalui TNI dimasa awal kampanye Pilpres ketika BABINSA mereka dituduh tidak netral, Panglima TNI sampai turun tangan dan mengatakan ketikdsukaannya terhadap fitnah tersebut, namun siapa yang bisa melihat sesuatu hal yang tersirat jika TNI telah diserang dan diancam sedari awal. Saya menilai hal ini telah merupakan salah satu kekalahan TNI, serangan psikologis yang menyerang TNI membuat TNI tidak berkutik dalam memposisikan diri menghadapinya, tidak ada jalan lain kepada TNI selain menetapkan kembali kenetralan mereka kepada masyarakat luas. Para Purnairawan tua itu membusungkan dada karena telah berhasil menjinakkan para singa muda.

Secara geopolitik regional hal ini juga akan sangat tidak menguntungkan bagi TNI ditengah memanasnya suhu politik dan keamanan di perairan utara atau Laut China Selatan (sesuatu hal yang memang tidak pernah atau jarang diinformasikan dimedia televise nasional). Pemimpin yang mengerti TNI adalah impian utama ketika TNI mulai membangun diri untuk menaikkan harga diri bangsa ditengah pertarungan bangsa lain di kawasan. Ada pandangan hanya mantan TNI yang akan mengerti TNI.

Ketakutan lain dari berbagai pengamat Jika saja Jokowi naik menjadi presiden adalah akan ada penestrasi melemahkan TNI ditengah-tengah sinyalemen para pemodal dan pendukung utama jokowi berasal dari orang-orang yang dekat dengan pemerintahan China sebagai kekuatan ekonomi dan militer baru dan terkuat di kawasan. Orang-orang awam dikampung akan mengatakan tidak ada lagi titik rahasia bagi TNI untuk Negara utara itu.

Kekalahan Prabowo juga merupakan kekalahan bagi umat Islam Indonesia, pandangan ini memang saya akui bias karena toh banyak juga umat islam yang mendukung jokowi, namun yang perlu disadari Jokowi dengan pencitraannya yang berlatar belakang politis dengan mudahnya membuat banyak orang-orang berpaling terhadap para tokoh agama yang mendukung prabowo, pertarungan utamanya adalah ketidaksuakaan dan pertarungan tiada akhir antara kelompok islamis dan kelompok sekuler yang diwakili secara jelas oleh PDIP, musuh-musuh ideologis umat islam yang berada dibelakang Jokowi telah mendapatkan kemenangan dan berhasil mempermalukan kelompok islam secara nyata dan jelas, sesuatu yang seharusnya dilihat sebagai sesuatu yang memalukan di dalam sejarah.

sekali lagi, jika saja prabowo benar-benar kalah, maka hal itu juga merupakan kekalahan bagi TNI dan umat Islam secara ideologis. Namun sebagai pendukung prabowo saya berharap beliau terus berjuang untuk memenangkan pemilu ini, keadialan dan kebenaran akan selalu menang karena dengan itu lah kita akan mendapatkan hidup lebih baik, Demi Indonesia Raya.

Advertisements

Responses

  1. Wah mantaf tulisannya mas sekedar nambahi saja kok.. Memang demokrasi sebenarnya adalah aspirasi rakyat secara keseluruhan.. Masalah beda dalam pertarungan itu biasa. Supporter akan beri dukungan terhebat agar jagonya menang…
    Apakah TNI kalah. Sejauh ini TNI seharusnya netral tidak berpihak ke salah satu calon. Dr UU sudah jelas.. Jadi sprtnya terlalu didramatisir bahwa kalau no 1 kalah TNI juga kalah.. Fine no 1 adl purnawirawan TNI, tpi bukan berarti TNI secara keseluruhan.. Bagaimana TNI bisa kalah kalau TNI seharusnya tidak ada di dalam permainan ? kalaupun sudah purn. Berarti seharusnya dengan ksatria melepaskan atribut TNI secara bijak..boleh2 saja kemudian berkiprah di dunia politik.. Fine kelebihan yg ada selama jadi anggota TNI menjadi nilai lebih karena ketegasan, wibawa, kenegarawannya, menjadikan dia seharusnya lebih dr rakyat biasa.. Tinggal bagaimana dia berkarya menjadi extraordinary civiliant. Masyarakat dengan kelebihan2 tadi diterima oleh rakyat yg lain.. Membangun integritas diri gak gampang kalau sudah raykat ya g menilai..

  2. Salah satu kelemahan TNI saat ini adalah bahwa TNI seakan kehilangan jati dirinya sebagaii pengayom rakyat.. Memberikan rasa aman, tentram, termasuk mengajak lapisan masyarakat utk tetap menjaga keutuhan negara sbg 1 integritas.. Rakyat tersebar seluruh wil indonesia, bahu membahu jk ada pergerakan menyimpang yg mengancam kedaulatan.. Sy merasa sayang jika BIN badan inteligent kita saat ini hampir tidak berperan sama sekali… Menjadikan TNI terkesan lambay menyikapi peristiwa2 yg terjadi, bom, separatis, dll.. Inilah yg mengebiri TNI dari dalam.. Ibarat singa TNI sdh kehilangan taring.. Ini terjadi terus sejak 98 demokrasi poros tengah yg memotong pemimpin negara dr militer !!
    Tpi memang diakui atau tidak sipil tidak punya wawasan kenegaraan seperti seorang perwira TNI. Alhasil tni jadi ngambang dan gamang.. Seharusnya strategy ini yg harus dipunyai oleh pangdan/menhankam uk ambil peran tni shg tetap eksis… Tpi itu kebanyakan tdk dilakukan oleh petinggi2 TNI, pun polemik kesatuan dalam TNI yg sprti bersaing mendapatkan kursi panglima menyebabkan lalai dr tugas utamanya mengawal kedaulatan negara.. Itu saja tambahannya itu TNI

  3. terima kasih pak atas tambahannya…saya sepakat akan apa yang mas tambahkan… saya berharap ini bisa menjadi perhatian banyak orang dalam sejarah politk indonesia dimasa akan datang…
    TNI pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi, kegamangan mereka pasti lebih besar dari kita…

  4. Reblogged this on doddokoplok's Blog.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: