Posted by: alfigenk | August 3, 2014

Kenangan yang Asing

 

Dia hirup udara dalam –dalam, sepertinya menghirup kembali jiwanya yang pernah berhamburan disini, dilapangan luas dimana rumput-rumput besar berwarna kuning tumbuh meninggi, udara panas, debu panas diantara kerikil-kerikil kecil tanah merah yang tandus…deretan bangunan tua ruang kelas sekolah yang kumuh, hanya sebentar aku disini memandang sekeliling, sebuah tempat yang kini seperti penjara dengan pagar-pagar tinggi, kemudian aku pergi…

Beberapa hari kemudian, dikampung halaman , ketika hujan telah berhenti, air hujan dihalaman rumah masih tergenang, semuanya masih basah, matahari masih tertutupi awan, hanya cayaha-cahaya nya yang kuning bagaikan deretan pedang menembus awan-awan yang berwana abu-abu, diwaktu hujan awan itu berwarna hitam dan gelap.

Ditariknya nafas dalam dan panjang, udara terasa sangat segar dirasanya, senyumnya terlihat mekar,hembusan angin dingin setelah hujan membawa kesejukan. Kemudian sepertinya matahari mulai tersingkap dari awan-awan abu-abu itu, sedikit demi sedikit cahayanya seperti merayap memberi kehidupan ke arah timur.

Hari sebentar lagi sore, dia pergi keberanda belakang rumah, dilihatanya hamparan sawah milik keluarganya, sawah yang dimana diwaktu kecil dia di besarkan dengan bermain-main disana, bermain air, belajar berenang di air surut yang payau, memancing ikan-ikan kecil, kemudian dilihatnya pegunungan meratus di sana, yang jauh disana, menjulang tinggi, sehabis hujan meratus terlihat sangat jelas, namun diwaktu panas meratus nampak kabur, “ kamu indah meratus” gumamnya.

“Apa yang kamu pikirkan” ibunya menyapa

Dia terkejut, seperti tersadar dari lamunannya, kemudian tersenyum lalu menunduk.

“Banyak yang telah berubah, sudah terlalu lama kamu pergi, datang juga cuman sebentar tanpa pernah kamu sadari bahwa kampung halamanmu kini telah berubah, mungkin lebih berseri sekarang dari pada dahulu, iya kan?”

“Iya ma, lebih berseri”

“Aneh kamu sekarang, sejak datang tadi hanya diam dan memandang kesana kesini dengan aneh, apa kamu ada masalah?ceritakan lah…”

“Oh, iya, tidak ma, tidak ada masalah”

“Aku mama mu, aku tahu siapa kamu, aku yang membesarkan kamu, sejauh apapun kamu pergi, tetaplah kamu darahku, tak kan bisa kau mendustai diriku, aku tahu gelagatmu”

Dia tersenyum, tersadar lagi dia, ibunya memang benar, dia adalah anaknya

“Cepatlah ceritakan, biar mama dengarkan , biasanya kamu banyak cerita buat mama”

“disini ma, rasanya saya kembali asing, entah apa, saya kembali menapak tilasi jalan-jalan saya yang dulu, saya hanya teringat dulu ma, saya teringat kekasih saya yang dulu”

“itu tandanya kamu memulai menjadi dewasa anakku, mama tak akan memberikan komentar panjang, ini adalah jalan kamu sebagai laki-laki”

Dan sore itu dia lewati dipinggir sawah, bersama matahari tenggelam, dengan anginsepoi-sepoi yang dingin. Dan dia mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa esok, apapun yang terjadi, dia akan menjalaninya dengan lebih baik, pulang ke kampung yang penuh kenangan, dimana kita pernah berlari meninggalkannya adalah kepiluan tersendiri dalam hati. Pilu yang terus kita tanyakan dalam diri kita sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: