Posted by: alfigenk | August 3, 2014

Negeri Labuan Amas ( Laporan untuk Tuan IV )

Suatu Pagi..di jalan lingkar utara dekat puntik..dokoment pribadi

Suatu Pagi..di jalan lingkar utara dekat puntik..dokoment pribadi

 

Negeri Labuan Amas

( Laporan untuk Tuan IV )

Oleh: Alfigenk Ansyarullah Naim

Ohhh tuan, sungguh saya terlalu menikmati tugas saya ini, saya menikmati saat-saat matahari terbenam dirawa-rawa yang luas ini, saya melihat mega-mega matahari disebelah barat itu, berwarna ungu- hijau, biru , kuning dan kemerah-merahan dengan awan-awan yang membentuk bagai lukisan-lukisan indah, dimana lagi saya harus mendapati saat seperti ini tuan?..dimana lagi saya akan mengagumi keindahan seperti ini?…

Saya berjalan-jalan dengan lambat tuan, menikmati sedikit demi sedikit daerah ini, saya tidak memulainya dengan tergesa-gesa karena saya ingin menghirup udaranya dengan penuh, pelan-pelan menikmatinya, tahap-tahap langkah kaki saya gunakan untuk meresapi buminya, tanah mistik yang berwarna kuning ini, orang-orang mengagungkannya dengan nama Hulu Sungai, tanah banjar yang keramat dalam ribuan tahun di injak oleh manusia-manusia yang menjalani hidup diatasnya. Manusia-manusia sejarah yang telah menikmati aroma tanah ini

Tuan, tahukan anda, ketika itu hujan sedang sangat lebat, disore jumat diminggu yang lalu, dan saya tidak tahan akan derasnya hujan itu yang menghujam tubuh saya seperti jarum-jarum besar yang menyakitkan rasanya, saya berhenti untuk berteduh disebuah rumah tua dipinggir jalan, rumah itu tidak lah tua sebenarnya, tapi keadaannya yang terlihat sudah sangat tua, terbuat dari kayu dan mulai melapuk. Saya dipersilahkan duduk diteras rumah yang tinggi oleh pemilik rumah yang juga seorang lelaki yang tua, kami duduk bersama menikmati hujan. Sungguh saya berharap tuan ada disini, duduk bersama kami menikmati hujan dengan masing-masing secangkir teh pekat, kami hanya diam tanpa banyak bicara tuan, menikmati hujan ini, menikmati hujan ini sambil memandang hujan itu turun.

Dua jam kemudian, hujan berhenti, dan seketika matahari mucul disela-sela awan-awan, membuat semuanya kembali cerah, ohh ini begitu menyegarkan tuan..

Saya meminta izin kepada lelaki tua pemilik rumah itu untuk berkeliling dihalaman rumahnya, bebatuan yang dihampar didepan rumahnya mampu membuat tanah tidak becek, dan sedikit rerumputan hijau dibagian-bagian tertentu dari halaman itu membuatnya menjadi menarik. Bebatuan yang dihamparkan dihalaman rumah merupakan hiasan halaman rumah didesa-desa tertentu didaerah ini tuan. Dan saya kembali memandangi persawahan luas disampaing rumah itu, membuat saya kembali termenung dan menikmati udara segar sehabis hujan, cahaya matahari sore memanasi tubuh saya, memberi energi kedalam tubuh saya.

Lelaki tua mengatakan bahwa dia sangat menyukai saat-saat setelah hujan, agama mereka menyebut bahwa hujan adalah sebuah rahmat, tempat dimana mereka akan mengucapkan syukur dan meminta sesuatu kepada Tuhan, bahkan hujan adalah salah satu saat yang mistik.

Disamping rumah tersebut saya melihat bangunan kecil menyerupai gudang kecil, dengan banyak kain berwarna kuning disisinya, saya mendekati bangunan itu dan melihat didalamnnya terdapat gundukan tanah tinggi, seperti gundukan rayap yang tinggi dan besar, saya bertanya kepada lelaki si pemilik rumah dengan rasa heran, lelaki itu menjawab bahwa bangunan itu adalah Maqam (kuburan) dari ayahnya, saya menjadi terheran-heran dan merasa aneh, lelaki tua itu tidak memberikan keterangan lebih selain mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang ulama dimasa hidupnya, seorang ahli ilmu dalam agama Islam. Lelaki tua tersebut sepertinya menikmati keheranan saya.

Tuan, sebuah kuburan yang menjadi sarang rayap, membumbung tinggi lebih dari satu meter, ini menjadi aneh dipikiran saya. saya tak pernah menemukan yang seperti ini.

Saya pamit kepada lelaki tua tersebut, berterima kasih atau kesempatan menikmati hujan diberanda rumahnya dan saya menaiki motor saya ditemani hembuasan angin dingin sejuk sambil membawa pulang rasa heran saya sampai ke penginapan.

Tetapi tanah ini memang tanah keramat, saya menggenggam tanah ini, dan menciumnya, saya merasakan aromanya, tanah yang harum, seperti sepenggal legenda dalam hijrahnya penguasa bangsawan pulau jawa ke tanah ini, membawa prajuit untuk menguasainya.

Pagi tadi, ketika matahari mulai menghangat, saya berjalan-jalan lagi, menelusuri jalan desa-desa, dan saya masih saja membawa rasa penasaran saya, saya lebih teliti lagi tuan, lebih teliti dalam memandangi kiri dan kanan dalam perjalanan saya, saya mendapati banyak kuburan dengan tanah yang meninggi seperti sarang rayap, yang meninggi menjulang, kuburan itu sebagian ada yang menyendiri di depan rumah, tapi juga ada menjulang sendiri ditengah-tengah pekuburan umum. Dan semua kuburan itu adalah kuburan orang yang dianggap alim dalam agama, ada satu kubur yang menarik, sepasang suami istri yang dikuburkan berdampingan sangat dekat, kuburan sepasang suami istri ini menyendiri dihalaman rumah keluarganya, si suami adalah seorang ulama, dan anehnya hanya kubur dari si suami yang mempunyai gundukan tanah yang meninggi seperti sarang rayap itu, sedangkan kuburnya istrinya disampingnya tidak ada gundukan tanahnya yang meninggi, meski secara logika kita bisa mengatakan jika itu adalah sarang rayap maka dia pasti akan membesar dan memakan tempat kubur si istri disebelah.

Tuan, ini tanah yang mistis, ketika saya pulang nanti, saya akan membawakan satu genggam tanah ini untuk tuan…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: