Posted by: alfigenk | August 19, 2014

Sebuah Surat Cinta dari Kekasih

sebuah surat cinta dari kekasih..

Aku kira semua itu hanya sebuah godaan yang jauh dari anganku..

Cinta itu, seperti biasanya selalu hadir dalam memori yang paling dalam dihatiku..

Sepertinya.aku harus mengakui kembali, tanpa ungkapan yang mendayu, bahwa aku masih merindukannya.

Aku masih mencintainya…seperti dulu..seperti dulu

**

Dan aktivitas dimulai seperti biasa, hari rutin yang serutin kemarin.

Ketika semuanya cerah, dan matahari yang hanyat menembusi kulit-kulit kita, apa yang ada disana, Disana hanya ada kita.

Mereka mencoba mengatakan hal itu, tetapi tidak dapat mengungkapkannya dengan baik.

dia pernah datang beberapa minggu yang lalu, membawa sekeranjang benih padi, yang dia ingin tanam disini, dia mengatakan benihnya akan berhasil tumbuh disini, dengan bantuan kita yang selalu tersenyum.

Permasalahan kemudian melebar jauh, mengenai bangunan sekolah yang rusak, bukankah disana ada tukang kayu?..

Dan betapa susahnya menuliskan sesuatu tanpa konsep, tentang bacaan kita sendiri, dan tekanan yang diderita. Mereka mengatakan betapa kadang kehidupan itu sangat menegangkan, mencari kehidupan dalam dirinya sendiri, entah apa dan bagaimana. Dan siang ini aku berkembang apa adanya.

Pertanyaannya adalah pertanyaan biasa saja, mengambil rangkaian kata dan mungkin telah hilang.

Hidup dalam khayalan dan khalayan adala kenyataan.

Dan dimanakah kita berapa?..seolah hanya dalam ide saja, dan kita tidak mau berdebat dalam perdebatan ini, eksestensi kita dan esensi kita, kita ada adalah menyadari keadaan kita. Apakah berpikir dengan menjadi Ada atau hanya lah kadang menjadi sebuah kebohongan.

Dan ini terus saja memuakkan, seperti membunuh diri kita sendiri, saya mengingat kejadian kemarin, anak kecil yang menangis dipinggir jalan, bercerita tentang pedihnya hari-hari dengan lapar yang terlihat dari kering bibirnya.

Dan ini adalah masalah harga diri, dan ketika itu ditanyakan?…terlihatlah hanya sebuah kegamangan. Untuk apa harga diri ditengah lapar ini. “Laparnya kami adalah bagian dari hidupmu sendiri”, itu akan membuatmu kembali mencari dalam kegersangan.

Dan menulislah dengan hati, menulis untuk dirimu sendiri, dalam paradoks jiwa, dan kemanakah langkah kita akan berhenti, seperti itulah adanya, dan otak saya pun seperti membeku.

Lihat saja,, kadang bertarung dalam segala hati itu tidak akan lebih dari pada sebutir debu yang tebang kesana kemari…

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: