Posted by: alfigenk | August 19, 2014

Sedikit Catatan untuk Melihat Perdebatan di Tulisan Agama…

1312000035443426196

Mengikuti sebuah acara pernikahan disebuah kampung, saya terkejut saat mengetahui bahwa calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuannnya sama-sama masih berumur empat belas tahun, masih sangat kecil saya pikir. Sejenak saya melihat, keluarga dari kedua pengantin ini adalah bukan keluarga miskin, bahkan saya pikir sangat sejahtera, bukan pula dari keluarga yang tidak berpendidikan, karena ternyata sebagian dari keluarga mereka bekerja dipemerintahan. Sang pengantin laki-laki sangat mantap ketika mengucapkan akad nikah, meski dengan suaranya yang masih seperti anak-anak, sepasang pengantin itu terlihat sangat bahagia, itu terlihat dari senyuman malu-malu mereka dan pancaran binar mata mereka yang berbinar, keluarga dari kedua mempelai itupun terlihat bahagia dengan sorak-sorai mereka. Yang saya kagumi adalah keberanian mereka dalam berkomitmen, saya sebagai seseorang yang lebih tua dari mereka masih belum berani seperti mereka. Saya bisa saja memacari banyak wanita, tapi saya masih belum berani melamar seorang pun wanita. Kenyataannya kegagalan dalam pacaran itu lebih banyak dari pada dalam pernikahan.

Tapi bukan cerita diatas yang ingin saya bahas, saya ingin menyoroti hal lain.

Kita telah melihat banyak perdebatan tidak berujung dalam tulisan yang berbau agama di kompasiana, hal ini menjadikan kita enek, karena dasbord kita jadi jebol, mengesalkan hati.

Kita semua pasti bisa menebak, pertentangan dan perdebatan ketika masalah agama dituangkan dalam ranah public dunia maya seperti kompasiana ini adalah bagian dari usaha sekularisi. Apa itu defenisi sekuler?..silahkan cari sendiri hehe.

Sekulerisasi yang bermula dibarat sejak abad ke 19 dan di Indonesia wacana ini mulai diperdebatkan secara kuat oleh Nurcholis Majid semenjak tahun 70-an. Dalam beberapa literature kita disebutkan ada tiga tingkat sekuliresasi Pertama, Negara yang sekuler. Kedua masyarakat yang sekuler, dan ketiga adalah individu yang sekuler.

Bila mendengar tentang negara sekuler tentu kita akan menengadah kepada negara Barat sebagai motor, kelihatannya hampir 90 persen negara bangsa didunia adalah negara sekuler, dalam arti umum. Yang terkenal dinegara kita ini tentu saja Turki, sebuah negara bekas Kekhalifahan Islam dengan penduduk hampir semuanya beragama Islam tapi dengan sistem pemerintahan sekuler. perkembangan yang menarik saat ini terjadi di Turki, partai yang beraliran Islam memegang tampuk kekuasaan, menajdi fenomena menarik dinegara eropa ini, kita bisa melihat golongan tuan yang masih kuat memegang tradisi sekuler tapi golongan mudanya justru yang cenderung religius. Ada juga teman yang mengatakan Fenomena seperti ini juga ada didalam negeri kita bisa melihat fenomena ini di yogyakarta dimana anak mudanya yang lebih religius dari pada orang tua mereka yang lebih ke Kejawen.

Selisik punya selisik, negara yang mayoritas penduduknya Islam adalah Negara yang sampai sekarang tidak pernah berhasil bisa disekulerkan secara total. Contohnya negara kita Indonesia ini. Islam adalah agama yang komprehensif, membahas dari masalah tata negara sampai tetek bengek keseharian kita, dari bangun tidur disubu hari sampai tidur lagi ditengah malam ada tata kramanya, dari cara buang air, mandi, berhubungan seks, masih banyak lagi, ada saja terus tata kramanya. Ini yang menjadikan agama islam begitu nyaman dipeluk oleh pengikutnya, dan juga sangat memusingkan bagi orang yang ingin sekulerisasi ditegakkan. Saya tidak begitu mengenal agama lain, tapi bisa jadi tidak jauh beda juga.

Apakah sekulerisasi memang perlu dinegara kita ini?..saya rasa kita perlu diskusi lagi, perdebatan mungkin sudah sangat banyak dalam ranah akademis.

Masyarakat yang sekuler, kita juga akan bisa merujuk ke negara eropa dimana masyarakatnya bisa bertoleransi dengan tinggi, tapi tentu saja ini sangat tidak mutlak, dibeberapa wilayah masyarakatnya juga masih sangat religius, di Amerika masih ada kelompok besar puritan kristen atau yang juga terkenal dengan kelompok Amish, mereka adalah kelompok yang sangat berpegaruh selama ratusan tahun di Amerika dan menjadi pemain politik penting dimasa-masa awal negara amerika berdiri. Di Jepang, meski negaranya sekuler tapi masyarakatnya masih dianggap religius dengan agama Budha dan Shintonya yang lebih mentradisi. Nah bagaimana dengan di indonesia?..ahh apalagi di Indonesia hahaha

Individu yang sekuler, nah ini mungkin kembali ke diri kita masing-masing, kita berusaha agar dogma-dogma agama atau hal-hal yang berkaitan dengan agama tidak kita jadikan sebagai rujukan di dalam pertimbangan-pertimbangan menjalani hidup kita atau dalam interaksi kita terhadapa orang lain, terlepas kita percaya agama kita atau tidak. saya sekuler apa tidak ya?…

apakah Kompasiana juga sekuler?..saya rasa tidak terlalu sekuler, masih ada iklan ramadhan kok, bisa jadi ada iklan tentang hari raya agama-agama juga hehe

Saya juga memperhatikan ada beberapa orang yang mengaku-ngaku agnostik di kompasiana, sering hingar bingar menyerang para agamais, menurut kepercayaan mereka, tidak ada otoritas apapun (agama, tuhan) yang bisa mengatur mereka, akhirnya segalanya kembali ke diri mereka saja, memang potensi menjadi baik atau tidak itu tergantung kepada penganut kepercayaan agnostik itu sendiri, mereka adalah orang bebas, sebebas yang mereka inginkan. Tidak ada konsep baik dan buruk yang pasti bagi orang agnostik, itu terserah dia saja. Memang mengasyikkan jadi orang agnostik bukan?

Biasanya penganut agnostik itu lebih santun, karena mereka ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki sesuatu yang bisa diandalkan, sesuatu yang mereka ingin perjuangkan, saya tidak tahu apakah agnostik dikompasiana ini agnostik beneran atau tidak, mereka masih masih samar-samar.

Ketika orang-orang memilih bertuhan atau tidak, maka agnostik adalah orang yang menunggu, lebih cendrung ragu-ragu, skeptis, tapi mereka tetap percaya adanya tuhan, Tuhan sulit sekali dibuktikan secara objektive, meski secara subjektive bisa saja diterima, meski kemungkinan adanya tuhan itu juga kecil, mirip sekali dengan diesme yang percaya bahwa Tuhan itu terlalu jauh untuk bisa mengatur Kehidupan dunia ini, tapi mereka tidak sampai ke Atiesme, intinya mereka adalah orang yang skeptis. Agnostik telah menyebar luas diseluruh dunia setelah pertama kali dilemparkan oleh Thomas Henry Huzley diabad ke 19, Apakah anda percaya dengan orang yang skiptes?..saya sendiri memilih ragu untuk percaya kepada orang yang skeptis. hahahaha…

dalam perjalanan panjangnya agnostik juga  bisa dikatakan mirip sebuah aliran kepercayaan, itu sangat dimungkin kan.

Ada juga yang mengaku Islam liberal yang kadang-kadang kental dengan aroma filsafatnya, tulisan dan komentar mereka begitu menantang itu dibaca, saya suka dengan hal ini, tulisan mereka dan komentar mereka biasanya lebih terarah dan dengan pertimbangan yang mendalam. Seorang teman saya yang bersekolah di timur tengah melaporkan kepada saya, bahwa sering beberapa tokoh islam liberal Indonesia datang secara diam-diam kesana, mereka pergi ke perpustakaan mencari literatur dan manuskrip tua yang tidak atau jarang dipublikasikan di indonesia, nah sudah pasti ketika datang ke indonesia pemikirannya menjadi heboh. hanya semangat saja yang mereka perbaharui dalam menghadapi dan menanggapi jaman saja.

Apapun itu, terserah anda saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: