Posted by: alfigenk | September 25, 2014

[KCV] Hujan Gerimis, dan Sebuah Cerita

1329227265331877974

effendityas.wordpress.com

oleh:  No. 58  alfigenk ansyarullah & Ajeng Leodita Anggarani

1

Sejenak saja dia memandangi gadis itu, dan dia langsung menjadi cemberut, dia menutup pintu rumahnya dengan perasaan tidak senang sekali.

Dan hari pun mulai hujan dengan rintik-rintik, dan ini membuat suasana hatinya lebih lembab dari pada kemarin.

Apa salahnya jika gadis itu sedang berbahagia, tapi hatinya tidak tahan dengan semua itu, kebahagian gadis itu telah merenggut banyak dari senyumnya selama ini, apa alasan yang dia ingin berikan pada dirinya sendiri, sejujurnya diapun tidak dapat menjelaskannya pada dirinya sendiri, dia tidak mengerti.
Hujan semakin deras sedikit demi sedikit,,tempias air membasahi jendelanya..

Selalu saja gadis itu memandanginya dengan matanya yang cantik, dengan pandangan sinis, sepertinya dia mengejek dirinya, dan apa salahnya jika dia akhirnya tidak menyukai gadis itu,tidak menyukainya dengan sedikit demi sedikit.

Mungkin saja, gadis cantik diseberang rumahnya itu juga tidak menyukai dirinya, gadis cantik itu lah yang pertama kali tidak menyukainya, dia berkeras hati menyakini hal itu, semenjak kekasih gadis cantik itu datang kerumah gadis cantik itu, yang tidak dengan sengaja kekasihnya itu tersenyum kepada dirinya. Apa salahnya kekasihnya tersenyum kepada dirinya?..tidak ada salahnya.

dan hujan kembali menjadi gerimis,

2

Dan hujan kembali menjadi gerimis, seperti airmata yang kini mulai menitik tipis dari pelupuk matanya. Ia kecewa pada takdir, yang membuatnya hanya menjadi seseorang yang hidup penuh harapan kosong.
Gadis secantik itu tak mungkin mencintainya. Karena kekurangannya sebagai pria si buruk rupa. Lelaki itu masih terus membingkai harapannya. Menahan setiap gejolak saat matanya dan mata canti itu bertautan.

Akan dikemanakan rasa ini? Ia tak tahu. Takkan pernah tahu, karena jeruji itu telah sengaja dipasang. Jeruji pembatas hati itu dengan terang – terangan dipasang untuk menahan cinta si pria itu.
Gadis itu tak bersalah atas sikapnya. Ia pantas melakukannya. Karena dia cantik dan mempesonakan mata.

Samapi akhirnya harapan itu harus digantung bersama kecewanya yang mematikan. Pria itu mundur segera. Menahan jerit tangis kepatahannya. Ia tak ingin lagi berlama – lama meratapi kekalahannya. Ia hanya ingin bangun dari kenyataan. Menapaki setiap harapan dengan semangat dan tujuan. Bukan pesakitan seperti sekarang.

3

saat melintasi jalan ini, jalan beraspal dengan baik, dipenuhi air yang menggenang tipis,gerimis hujan membuat jalan ini dipandang menarik..

dijalan itu, pertama kali dia bertemu dengan gadis cantik itu, bermata sipit dengan hidung mancung, dan senyum yang membuat hatinya berdegup-degup..

hujan ini, gerimis ini, membuatnya terkenang, melalui jalan ini membuatnya terdiam dalam waktu yang lama, berdiri membisu..

apa daya, hari itu, dia hanya membantu seorang gadis yang terjatuh dari sepedanya sendiri, membuat dia dan gadis itu saling mengenal, dan berjanji akan saling menyapa ketika bertemu.

haaa,,,jatuh cinta lah dia terhadap gadis itu, dan mereka sering bertemu dijalan ini, dijalan yang digenang air ini, dimana gerimis hujan membuatnya rancak ketika dilihat.

nama gadis itu adalah saida, anak seorang kaya di perumahan sebelah, dan cinta ini kembali terulang, seperti kisah romantis cinta tak sampai dimasa lalu, diapun sudah mulai curiga bahwa rasa cinta dihatinya saat ini akan menjadi cerita terulang dari pahitnya cinta-cinta yang lain seperti dalam cerita-cerita itu.ohh saida, saida putria, gadis cantik yang kaya itu,,

mereka sering bertemu, di ujung jalan, saida naik sepeda, dan dia berjalan kaki, sambil saling bercerita apa yang terjadi dihari ini, ketika sampai di ujung jalan mereka akan berpisah.

oh saida, betapa cantik dirimu,,,dan saida telah pergi dikawinkan oleh orang tuanya…

4

gerimis

,,,burung-burung tetap bernyanyi dan pagi terus saja gerimis,

aku menulis ini disebuah kertas kosong berwarna putih buram, buram karena bekas basah terkena hujan beberapa bulan yang lalu..

hutan ini begitu lebatnya, sehingga sinar matahari saja sulit menembus ke lantainya, aku berdiam disamping pohong-pohong tertinggi, sehingga mudah bersembunyi,

aku telah berjalan selama beberapa minggu, dan berharap akan segera sampai ke tempat peradapan berada,

aku telah memakan beberapa ekor binatang kecil, aku menjebak seekor kancil yang lucu dengan jerat rotan kecil, dan aku terpaksa memakannya.

aku sendirian disini, dan aku merindukanmu,

disini gerimis

5

Hujan ini milikmu … ehm bukan…
Hujan ini milik kita
Kuingat saat kau terbiasa menyambangi kamarku, melempari jendelaku dengan kerikil yang mulai menyerap basah itu. Setelah itu kau membawaku bermain di sebuah taman yang selalu kau sebut sebagai taman hati. Di bawah rinai hujan kau mengajakku bicara. Menceritakkan rintik yang tak ada habisnya.
Rintik yang menemani kebersamaan kita. Rintik yang kau bilang mirip cintamu yang tak ada habisnya untukku.

Kanda, empat musim telah berlalu. Aku tetap menikmati rinai itu. Rintik yang selalu membawaku mengenang tentangmu. Kini bau tanah basah tlah menyatu dengan ragamu. Namun kanda, jiwamu masih disini. Jiwamu tak ikut mati seperti ragamu yang tlah beku. Jiwamu masih setia menemaniku. Menemani aku dalam rintik hujan tak berkesudahan.….

Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akun Cinta Fiksi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: