Posted by: alfigenk | September 25, 2014

Kereta dari Banjarmasin (laporan Untuk Tuan V )

1345733447294347143

Kereta dari Banjarmasin

(laporan Untuk Tuan V )

oleh: Alfigenk Ansyarullah

Tuan

Sangat lama saya tidak mengirimkan laporan kepada tuan, keadaan yang diluar kendali saya lah yang menyebabkan hal itu, seperti yang tuan sudah tahu sendiri, perang telah mengakitbatkan seluruh negeri dimana saya ditugaskan saat ini tidak stabil, memporak-porandakan seluruh jaringan informasi dan komunikasi, termasuk surat menyurat, sarana tradisional yang romantik yang kita sepakati sebagai sarana komunikasi.

Tuan, musim panas saat ini begitu panasnya, sampai-sampai kulit saya yang pucat ini berubah menjadi cerah dengan kecoklatannya, istri saya berkomentar jika saya terlihat semakin tampan dengan kulit yang coklat, panasnya daerah ini serasa tidak lah normal tuan, pohon-pohon telah banyak ditebangi dan pertambangan batu bara telah meracuni seluruh benua dengan partikel-partikel kecilnya yang membunuh perlahan dan sarang malaria yang menakutkan semakin banyak di bekas-bekas galian tambang yang dibiarkan menganga tak di urus. Tuan, daerah ini akan mati beberapa tahun lagi, mati dibunuh oleh kerakusan dan kebodohan rakyatnya sendiri.

Tuan,  tahukah Anda dimana saya menuliskan surat ini Tuan?.. tuan pasti akan terkejut, saya menulis di sebuah kereta api, iya tuan, saat ini saya sedang menaiki sebuah kereta Api, Kereta api dari Banjarmasin, dan saya sedang menuju Balikpapan…

Tuan pasti terkejut, pasukan zeni berkulit kuning dari Asia Timur itu telah membangun jaringan kereta Api dari dari martapura menuju balikpapan, hanya dalam dua tahun mereka telah membuat lebih dari 500 km jaringan Ganda di tenggara borneo, mengangkut batu bara dan biji besi untuk keperluan perang mereka. Bayangkan Tuan, mereka telah menyusun rencana dengan teramat baik, seratus ribu tenaga kerja paksa dari rakyat setempat, mereka membangunnya dengan sangat cepat. Bahkan mereka membangun sebuah jalur melewati rawa-rawa disisi timur sungai barito. Membangun jembatan-jembatan indah diatas sunga-sungai untuk rel kereta ini. Setelah perang selama tujuh tahun itu, satu jaringan telah dibangun untuk sampai di banjarmasin, saat ini lah saya sedang merada, di sebuah kereta dari banjarmasin.

Tuan, pernahkah tuan membaca, ada sebuah jaringan kereta api pertama di boerneo yang dulu pernah dibangun oleh perusahaan tamban Batu bara dimasa Kolonial, jaringan kereta Api itu membentang dari pengaron, tempat perusahan batu bara pertama yang dibangun di Hindia belanda, menuju banjarmasin…jaringan kereta itu telah lama hilang, dan hampir tidak ada rakyat tanah banjar ini yang mengingatnya lagi.

Tuan, Seperti ini lah tuan, saya menghibur diri dengan selalu mencoba menikmati pemandangan alam yang indah disini, seolah hanya saya seorang yang menikmatinya sendirian, sendirian yang membuat diri saya kesepian, sebagai seorang orientalis modern, seorang yang terdidik dalam ribuan bahan bacaan akan misteri Timur dan imaji keindahaan alam nan estetik lagi original, dan saya sekarang disini selama bertahun-tahun, terjebak dalam bingkai peperangan yang tiba-tiba. Saya mempelajari bahasanya dengan sangat keras, bahasa asing yang aksennya sangat sulit bagi lidah saya. Separuh hati saya telah menyatu dengan daratan ini, dimana sebagain tanahnya keramat dan berbau harum.

Tuan, Kereta ini melaju diatas rawa-rawa, aroma rawa-rawa gambut yang asam menjadi sangat menyegarkan disini, matahari sore telah mulai turun menguning disebelah barat, rawa-rawa yang berair ini seolah seperti lautan luas dengan air berwarna kecoklatan, ada rumah-rumah terapung dikiri kanan yang terlihat dikejauhan, terkadang bergerombol, seolah sebuah pedesaan ditengah-tengah lautan air tawar ini, rumah-rumah itu berputar-putar dilautan air tawar yang sangat luas ini, dibawa angin yang sekehendaknya, mereka seperti sebuah kafilah suku-suku nomaden dipadang pasir Arabia atau sabana di asia tengah. Mereka mendapatkan listrik dari tanah gambut, membuatnya seperti aki, listrik diambil dari asamnya tanah gambut, mereka membuat lampu-lampu pijar kecil dimalam-malam mereka. Mereka juga membawa ternak, berpuluh-puluh kerbau rawa yang hidup berenang di rawa-rawa ini. Mereka hidup bebas dan menghindari peperangan didaratan, ahh tuan betapa mereka sanggup hidup di tengah danau katulistiwa yang panas dan lembab.

Tuan, sebelum masa perang, kereta adalah sebuah impian, mimpi untuk mendapatkan sarana transportasi yang lebih baik, berpuluh-puluh tahun orang-orang pribumi ini mendapati jalan-jalan yang rusak dan sesaknya kemacetan, dimana mereka mendapati sebagian dari diri mereka bukanlah orang yang sopan dalam memakai jalan raya, mereka memperagakan keangkuhan dan keegoisan dengan caranya masing-masing, sehingga jalan menjadi panggung yang mudah dilihat dari perilaku dasar suku ini tuan.

Tuan, sebenar saya menjadi rindu akan kampung halaman, kereta ini mengingatkan saya akan hari-hari masa kecil saya, saya menaiki kereta bersama kakek saya menuju Amsterdam, dan didalam kereta dari Banjarmasin ini saya menemui senyum-senyum orang-orang yang pertama kali menaiki kereta api. Tuan atas nama kerinduan saya, secepatnya saya akan pulang ke negeri Belanda. Dengan atau tanpa izin tuan.

Tags: Array

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: