Posted by: alfigenk | September 25, 2014

Membayangkan orang kampung membaca berita Portal Internet

13490792191774110123

 

Membayangkan orang kampung membaca berita Portal Internet

oleh : Alfigenk Ansyarullah

Disebuah warung disebuah kampung, orang-orang masih suka berkumpul diwaktu pagi siang dan sore, setiap orang bercerita, berbagi informasi, dan berdiskusi, ada sebuah televisi disana yang biasa mereka tonton adalah sinetron dan sepak bola.

Sebuah warung merupakan ajang tradisi penyampaian informasi dan pola pikir yang masih sangat berperan penting di daerah saat ini (daerah saya maksudnya). Kadang laki-laki dan wanita berbaur disana, kita bayangkan saja itu seperti bar atau klub minum yang sampai sekarang masih mengakar di Negara-negara Barat.

Jika tidak pergi ke warung maka tidak dapat kabar informasi terbaru, begitu lah pernyataannya. Maka bisa kita temui orang-orang yang suka berbual ditiap warung, orang yang setiap hari duduk disana dan menjadi orang yang paling tahu segalanya. Meskipun mereka smbil menonton televisi diwarung tersebut.

Kita tidak mempermasalahkan warungnya atau orang berbagi informasi disana, yang perlu kita perhatikan adalah apakah informasi yang beredar diwarung itu objective dan mendidik?…

Coba bayangkan jika setiap warga Negara republik Indonesia membaca satu saja artikel di Kompasiana setiap harinya, atau setiap warga Negara Indonesia yang mempunyai telefon seluler yang dapat mengakses internet setiap hari membaca portal berita detik.com, vivanews.com atau okezone.com atau kompas.com, apa kira-kira yang akan terjadi?…

Ada bayangan menyenangkan, ketika setiap warga Indonesia mendapatkan informasi yang sama bagi setiap orangnya, dapat mengakses dan memahaminya dengan baik, selama ini memang media televisi dapat memberikan informasi yang menarik, tapi sayangnya tidak semua orang tertarik atau mengerti hal apa yang dibicarakan di televisi, bahasa yang digunakan biasanya terlalu cepat terlintas lalu di telinga masyarakat awam dan susah dipahami dan tidak bisa di ulang lagi untuk jika mereka tidak bisa mengerti. Sarana lain seperti Siaran radio tidak banyak memberikan informasi, apalagi didaerah-daerah. maksud saya, tidak seperti berita atau informasi yang disampaikan melalui tulisan, apabila kita tidak mengerti dalam sekali baca, maka kita bisa membacanya berulang kali sampai kita mengerti. Begitulah cara masyarakat awam.

Media massa lain, seperti surat kabar atau majalah Nasional, tidak selalu mudah di dapat didaerah, jika tidak ingin kita mengatakan hal itu sulit. Tidak usah media massa nasional, media massa lokal saja masih sulit untuk didapatkan, selain juga banyak orang merasa membeli atau berlangganan Koran itu di masyarakat masih dianggap buang-buang uang. Perkiraan acak saya, hanya beberapa ribu orang yang membaca rutin setiap harinya diantara tiga juta lebih penduduk di provinsi saya ini. Beberapa ribu orang itu pun 90 persen mungkin di perkotaan dan ibukota kabupaten saja. Selebihnya mungkin membaca dari koran minggu kemarin atau koran bekas.

Media massa lokal terlihat seperti majalah hiburan, memberikan informasi yang biasanya sangat sedikit, dan enam puluh persen di penuhi dengan iklan, (dalam hal ini saya mengkritisi surat kabar terkenal didaerah saya), maka dengan penuh iklan tersebut, sepertinya mereka tidak perlu harus bersusah payah menambah lembar-lembar oplah cetak, dengan oplah saat ini pun mereka sudah menjadi kenyang dengan iklan.

Lalu apakah surat kabar lokal ini menjadi santapan masyarakat banyak sebagai sarana informasi dan pendidikan?.. saya pribadi menilai hal itu masih jauh api dari panggang, ikan bakarnya tidak pernah terbakar, makanya tidak ada bau harum ikan bakarnya. Gaya penulisan berita dan bobot berita pun disajikan seringan mungkin, monoton tiap hari ke hari, yang ini bisa jadi disengaja karena melihat tingkat SDM masyarakat yang dianggap masih tidak sanggup membaca berita dengan tulisan lebih berat, ya, jika begitu kapan pintarnya masyarakat ini?.. ahh apa juga kita memaksa media massa yang mereka masih beorientasi ekonomi untuk mendidik masyarakat?.. menyusahkan diri mereka sendiri saja mungkin..

Tidak ada maksud lain dalam hal ini, tidak juga promosi dari warta portal tersebut, tapi setidaknya ada hal positive ketika masyarakat mau mengkonsumsi informasi bagi diri mereka sendiri, masyarakat akan terdidik, dengan begitu kesenjangan Sumber Daya bisa Manusia dikurangi, pola pikir masyarakat pun bisa berubah dengan sendirinya.

Lalu kemudian kembali tentang warung, Saya punya bayangan klise menjadi berbeda, misal “ tidak usah banyak bicara membual diwarung jika anda belum membaca detik.com “. Pembicaraanpun akan menjadi lebih baik dan ada referinsi.

Banyak pengalaman dari beberapa teman yang setelah selesai kuliah mencoba membangun daerahnya, halangan paling utama adalah perbedaan pola pikir yang sulit dicari solusinya, jika berhasil merubahnya pun biasanya butuh waktu lama dan hanya terkonsolidasi disebuah wilayah kecil, misal sebuah kampong kecil saja. Lebih banyak orang yang prustasi dan akhirnya menyerah dalam usaha membangun daerahnya.

Pendekatan kepada masing-masing masyarakat di tiap daerah pun pasti berbeda-beda pula, tapi sekali lagi coba kita bayangkan jika para anak muda para buruh sawah itu membaca berita terbaru di detik.com, atau buruh kasar bangunan yang diwaktu istirahatnya membaca satu tulisan di kompasiana, atau seroang tukang becak yang hpbuatang chinanya yang canggih miliknya yang biasanya pula hanya di gunakan untuk mendengarkan lagu dangdut sekarang sekali-kali malah membaca vivanews.com, atau seorang suku dayak dipedalaman Kalimantan asyik membaca kompas.com, haaa,,,tentu saja mereka akan menjadi lebih baik, mereka mungkin akan lebih rasional dalam memilih presiden nanti, mereka tidak akan mudah dibodohi lagi, mereka akan serta merta akan ikut memajukan bangsa ini, coba bayangkan,,,,,,tidak ada gap dalam komunikasi antara orang dari kota besar dan pedesaan.

Kemajuan bangsa dan Negara ini harus dimulai dari daerah, daerah-daerah yang jauh dari Jakarta, dan kita harus mendapatkan cara creative untuk menghilangkan kesenjangan antara kota besar dan daerah pedesaan.

Seringkali terasa lucu, ketika kita didaerah, mendapati seorang pejabat Negara dari pusat datang berkunjung, maka akan kita dapati dalam pidatonya berbagai macam bahasa langit yang tidak dimengerti oleh masyarakat awam, masyarakat awam pun mungkin tidak punya waktu dan semangat untuk belajar atau membuka kamus ilmiah untuk memahami bahasa-bahasa langit pejabat tersebut, ujung-ujungnya adalah hanya acara serimonial menghambur uang tanpa ada bekas apa-apa bagi masyarakat awam.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah masyarakat daerah sering dianggap bodoh dan tidak mengerti apa-apa, sangat mudah di bodohi. Hal ini tidak boleh lagi terjadi, kita harus creative untuk memberikan semangat kepada masyarakat daerah untuk bisa lebih maju dan setara.

Saya pernah terpikir, jika dulu daerah saya yang sangat luas dengan masyarakatnya yang sulit dikendalikan ini bisa dikuasi pemerintah colonial belanda dengan baik selama ratusan tahun, apa rahasianya ya?…. mungkin tidak sampai seratus orang warga Negara belanda saat itu yang ditugaskan didaerah ini, karena ada beberapa orang kulit putih dari beberapa Negara eropa yang diketahui bekerja pada PemerintahHindia Belanda saat itu, tapi bagaimana bisa mereka bisa menguasai daerah yang sangat luas ini?…

Penelitian berkelanjutan yang sistematik lah rahasianya, tidak selalu harus dengan kekuatan militer untuk mengusai sebuah wilayah tertentu rupanya, laporan-laporan orintealisme berbasis antropologi tentang daerah jajahan yang dilakukan oleh peneliti dan pejabat hindia belanda sangat berperan penting dalam kreativitas belanda menguasai suatu wilayah.

Sedang saat ini, begitu sulit kita menemukan laporan ilmiah antropologi yang reguler bisa kita dapat dari waktu ke waktu, maka tentu saja kebanyakan dari kita buta dalam memahami masyarakat, sebagaian lain malah berjalan dengan adaptasinya masing-masing, sedangkan saya pribadi mencoba kita creative setelah kita sebelumnya mempelajari masyarakat tersebut.

Saya mempunyai harapan, pembicaran diwarung-warung dikampung itu suatu saat akan lebih berkembang menjadi pembicaran yang lebih berisi, untuk kemajuan bangsa dan negara kita tercinta Republik Indonesia…

Selamat hari Kesaktian Pancasila

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: