Posted by: alfigenk | September 25, 2014

Sejarah Islam di Selatan Kalimantan (Memahami Penolakan FPI oleh masyarakat dayak)

13293124051194146952

Sejarah Islam di Selatan Kalimantan ( Memahami penolakan FPI oleh masyarakat dayak )

oleh: Alfigenk Ansyarullah

Dalam suasana yang lagi ramai tentang penolakan FPI dikalimantan tengah ini, akan mungkin ikut lebih meramaikan lagi tulisan ini, menelusuri untuk kita lebih memahami sisi lain tentang orang dayak dan sejarah Islam dikalimantan yang dimotori oleh orang dayak itu sendiri, sehingga perspective kabur saat ini bisa dibantu sedikit lebih terang, dan mudahan bisa memberikan kontribusi yang baik meskti hanya sedikit.

Penolakan FPI dikalimantan merupakan fenomena menarik, membuat FPI sampai kebakaran jenggot dan buntutnya menjadi kasus Nasional, membuat kita semakin lelah dengan permasalah-permaslahan yang sama setiap saatnya, hal ini kemudian membuat klimak bagi sebagian kelompok masyarakat lain untuk menolak FPI yang selama ini beritanya selalu lebih banyak melakukan anarkisme yang membuat orang-orang menjadi takut kepadanya.

Terlebih masyarakat kalimantan tengah yang setelah kerusuhan etnis tahun diawal tahun 2000 ingin kembali menata diri dan menghilangkan image kekerasan yang terlanjut ada. Mereka menolak FPI karena mereka kawatir FPI akan memancing keresahan yang kemudian menimbulkan gelombang-gelombang kelompok untuk melawan FPI. Kekawatiran seperti itu lah yang dikawatirkan oleh masyarakat kalimantan tengah, Khususnya suku dayak, sebagai suku asli kalimantan, suku dayak sendiri pada kenyataannya memang sangat banyak beragama Islam. Sehingga FPI ini lah salah satu hal yang membuat FPI kebakaran jenggot, kerasnya perlawanan FPI juga memperlihtkan mereka tidak mau mengerti perasaan orang lain.

Satu hal yang perlu kita tegaskan kembali, Agama Islam disebarkan secara damai di Nusantara ini, hal ini juga berlaku di pulau Kalimantan yang begitu luas ini.

Dan membicarakan Islam diselatan Kalimantan maka kita tidak akan lepas dari sejarah berdirinya kerajaan banjar.  Kerajaan banjar sendiri merupakan perpanjangan dari kerajaan-kerajaan sebelumnya. Kita akan mendapati kerajaan Nan saruanai dan kerajaan Tanjungpura, kerajaan-kerajaan suku Dayak yang bertempat di Hulu Sungai, tepatnya dibatang sungai Tabalong,diperkirakan berdiri. Kerajaan-kerajaan suku ini didirikan oleh orang-orang mayaan yang mengusai jalur-jalur perdagangan dan anak-anak sungai Bahan dan Barito. orang-orang mayaan terkenal sebagai pelaut ulung, dan kita tahu bahwa ada banyak orang dimadagaskar yang memiliki kesamaan gen DNA yang sama dengan orang-orang mayaan orang mayaan lah yang berhasil berlayar sampai ke Afrika bagian selatan.  Kerajaan-kerajaan ini pada abad ke 14 kemudian diserang oleh majapahit, setelah itu majapahit mendirikan kerajaan Dipa, dengan mengirim seorang Pangeran Majapahit yang dikawinkan dengan seorang putri Dayak bernama putri junjung Buih, maka dimulai lah era jaman Hindu Budha di selatan Kalimantan secara lebih resmi dalam bentuk kerajaan dan perangkat-perangkatnya, kerajaan dipa didirikan sebagai pemersatu antara kekuasaan majapahit saat itu dengan suku-suku dayak yang ada diselatan Kalimantan , seperti suku mayaan dialiran-aliran sungai, suku bukit dihulu sungai dibawah pegunungan merarus, suku  dusun dipedalaman utara sungai tabalong, dan suku ngaju dimuara barito.

Dalam perjalannya kerajaan dipa berubah menjadi kerajaan Daha yang mempunyai ibukota lebih dekat denga muara Bahan. Kerajaan daha mempunyai warisan kekuasaan yang sangati luas dikalimantan dari kerajaan majapahit. Membentang dari bulungan dikalimantan timur sampai sambas dikalimantan barat. Perebutan tahta kerajaan akhirnya membuat seorang pangeran pewaris syah kerajaaan meminta bantuan ke kerajaan demak, setelah memenangi peperangan pangeran tersebut masuk Islam, pengislaman secara luas dikerajaan banjar dimulai.

Sementara ini banyak orang menganggap orang banjar merupakan orang-orang pertama yang memeluk agama islam di selatan Kalimantan, meski sebenarnya sebelum raja banjar memeluk Islam, sudah ada orang-orang islam yang bermukim di kerajaan banjar, seperti orang-orang melayu di pesisir dan juga dipercaya orang-orang dari suku dayak ngaju terlebih dahulu memeluk islam, orang dayak ngaju ini lebih suka disebut dengan nama suku bakumpai yang berpusat dimuara barito dan di sebuah pulau yang terbentuk dari delta dimuara sungai bahan di sungai barito , pulau ini sekarang terkenal dengan nama marabahan, menjadi ibukota kabupaten barito kuala dikalimantan selatan, sekitar empat puluh lima menit dari banjarmasin Orang bakumpai sampai sekarang masih mempertahankan bahasa mereka, orang bakumpai merupakan suku pedagang, sehingga mereka tersebar luas disepanjang sungai barito, merekalah yang sebenarnya menyebarkan agama islam disungai barito sampai ke daerah Hulu di murung raya, seperti puruk cayu dan muara teweh, buntok, yang sekarang menjadi wilayah Kalimantan tengah.

Disisi lain, rombongan-rombongan pengislam utusan kerajaan demak dan cirebon (dipercaya sebagai kerabat dan keluarga dari pawa wali songo) memasuki wilayah-wilayah pesisir Kalimantan, seperti kerajaan tanjungpura di Sukadana, ketapang Kalimantan barat, kotawaringin di Kalimantan Tengah, pasir dan kutai di Kalimantan timur, utusan-utusan ini mendirikan mesjid ditempat-tempat yang mereka singgahi, sebagian dari mereka bermukim dan berketurunan disana, utusan-utusan ini juga memasuki daerah pusat tradisional kerajaan banjar di sepanjang sungai Bahan dan anak-anak sungainya. Maka akan kita temui mesjid-mesjid tua seperti mesjid Pusaka di Banua lawas, Kalua kabupaten Tabalong, mesjid yang setiap tahun tetap dikunjungi suku Dayak Mayaan meski mereka tidak menganut agama Islam, mereka mengunjungi dan berjiarah ke mesjid itu karena disekitar mesjid itu lah dahulu tempat mereka bermukim, mesjid itu dibangun oleh saudara mereka yang masuk Islam. Berita lain juga didapat, seperti di mesjid keramat Palajau, Barabai di kabupaten Hulu Sungai Tengah, sampai tahun 1960-an masih ada beberapa orang suku dayak meratus yang datang berziarah, karena menurut mereka, nenek moyang mereka dulu bermukin disekitar mesjid itu.

Didaerah kalimantan Timur, kerajaan Bulungan di bangun oleh seorang bangsawan dari Kerajaan Brunei yang kemudian menikahi putri seorang kepala suku dayak setempat. Begitu pula Kerajaan Pasir dekat Balikpapan, menurut sejarahnya seorang bangsawan Dari Giri Kedaton datang dan menikahi Putri kerajaan pasir dan mengislamkan Pasir.

Dalam masa panjang ini lah islam tersebar di selatan kalimantan yang sekarang ini menjadi bagian provinsi kalimantan selatan dan kalimantan tengah, Islam tersebar dengan damai dan tanpa kekerasan, orang-orang dayak, yang saat ini mereka menganut berbagai agama besar seperti Islam kristen,Hindu, Budha, dan agama Asli mereka Agama Kaharingan, mereka tidak pernah mempermasalahkan perbedaan diantara mereka itu, mereka hidup dengan damai, karena kenyataannya bahwa mereka memang saling bersaudara, di beberapa lokasi jika diadakan upacara adat, maka akan ditemui ada makanan khusus yang disiapkan untuk saudara mereka yang islam, binatang yang dikorbankanpun disembelih oleh saudara mereka yang islam agar bisa dimakan oleh mereka semua. Atau dalam acara perkawinan, jika penganten bukan dari agama islam, maka akan ada tempat pembagian makanan yang berbeda. Budaya yang bersatu dalam perbedaan ini tidak pernah menjadi masalah bagi mereka selama ratusan tahun, maka akan sangat wajar kiranya orang-orang dayak menolak FPI karena kekawatiran mereka akan tindakan FPI yang biasanya anarkis selama ini bisa membuat benih-benih perpecahan diantara mereka.

Dalam masa perang melawan belanda, seperti perang Banjar, banyak sekali pahlawan dayak beragama Islam terkenal, seperti tumenggung Surapati yang bersama pangeran Antasari melawan belanda secara gigih, ibunda pangeran Antasari merupakan wanita dari suku dayak, dan pangeran Antasari juga mempunyai istri dari suku dayak (kebanyakan raja-raja banjar beribukan dari wanita suku dayak), selain itu ada panglima batur, jagoan wangkang yang sangat menyusahkan Belanda, mereka adalah pahlawan-pahlawan terkenal dari suku dayak dalam perang banjar, perang banjar merupakan perang terlama di jaman belanda yang hampir mendekati 45 tahun masa pergolakan.

Sampai sekarang kalimantan bagian selatan adalah salah satu pusat pendidikan Islam terbaik di seluruh kalimantan, seperti di Martapura dan pamangkih di Barabai dan serta Amuntai, yang mencetak ulama-ulama yang tersebar keseluruh kalimantan dan nusantara, bahkan ke Malaysia dan Brunei,kita bisa mendapat nama-nama besar seperi Syekh Arsyad Al-banjari, Syekh nafis, dan dijaman sekarang kita bisa mengenali dengan baik (Alm) KH. Zaini Ghani dan (ALM) KH.Idham Chalik.

Sejarah Islam yang penuh kedamaian di bumi kalimantan merupakan Harta tak ternilai, menjadi bagian dalam kerukuanan beragama yang menjadi budaya kuat dalam masyarakat dayak dan keturunan dayak sehingga saat ini.  Orang-orang dayak tidak ingin tanah mereka ini menjadi seperti Ambon di Maluku dan poso di Sulawesi Tengah. Cukup lah bagi mereka kerusuhan beberapa tahun yang lalu dikalimantan menjadi pelajaran berharga bagi mereka.

Maka hendaklah setiap orang bisa memahami perasaan hati masyarakat dayak saat ini, bahwa kedamaian dan ketentraman lah yang mereka inginkan, bukan kekerasan dan anarki, sehingga segala bentuk hal yang mereka anggap bisa menimbulkan perpecahan dikalangan mereka, mereka upayakan untuk dihindari, termasuk dengan penolakan FPI dikalimantan Tengah.

Semoga ini bisa mencerahkan kita semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: