Posted by: alfigenk | November 11, 2014

Cerita diantara Kabut Asap

135280067375597085

Cerita diantara Kabut Asap

oleh: Andin Alfigenk Ansyarullah Naim

 

 

Kabut asap tahun ini begitu pekatnya

Sudah dua bulan kabut asap pekat menyambangi daerah ini, setiap hari, setiap pagi, setiap sore dan setiap malam kabut datang, menyusup kesemua celah-celah yang ada.

“tak ada tempat yang tidak bisa dimasuki kabut asap ini” tukas Abdullah, tegas dengan kopiahnya yang hitam di sela-sela pertemuan malam tadi.

“Bahkan ke dalam kelambu”

Kabut asap memang fenomenal, dalam lima belas tahun ini, kabut asap naik pamor menjadi bencana kelas satu yang menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Kabut asap berjalan perlahan merebak ke seluruh pulau, menyeberang diam-diam ke pulau seberang, bahkan menginvasi Negara-negara tetangga.

Kabut asap menyerang dari anak kecil sampai dewasa, dari orang kampung biasa sampai pejabat paling tinggi didaerah ini telah terkena dampak dari kabut asap.

“Kabut asap telah menjadikan kita sesak napas dan mata kita menjadi sakit, menjadikan hati kita juga sakit, sepuluh tahun lagi bisa-bisa kita mati mendadak bersama-sama karena sisa asap dalam dada, menumpuk seperti abu dapur” sekali lagi Abdullah menampakkan daya kritisnya ditengah-tengah rapat.

Orang-orang menjadi bingung, bagaimana mungkin Abdullah bisa sampai berani berkata seperti itu, tidak pernah ada orang di kampung berani berkata seperti itu, bahkan seseorang yang terpelajar sekalipun, banyak sarjana dan Pegawai Negeri di kampung ini, tapi mereka pun tak pernah mengeluh tentang serangan bencana kabut asap ini.

“Kabut asap merupakan takdir Tuhan” kata Maimunah, istri Abdullah. Maimunah pun sudah mulai kontra dengan pendapat Abdullah.

Maimunah menjadi malu dan sedikit tidak senang dengan kelakuan Abdullah, setelah Abdullah suaminya itu berani mengutarakan pikirannya tentang kabut asap, orang-orang di kampung ini mulai bergunjing bahwa Abdullah telah menjadi terlalu pintar.

“Kabut asap, mati listrik, bahan bakar minyak yang langka dan kemarau panjang, air yang kering disungai dan hawa panas bukanlah takdir Tuhan, termasuk juga macet di jalan, itu bukan takdir Tuhan, ” begitulah pendapat Abdullah yang dia nyatakan dan kampanyekan diwarung di pertigaan jalan kampung.

pian[1] tidak boleh melawan takdir Tuhan” maimunah bersikeras ketika dia mulai bertengkar dengan suaminya Abdullah..

“Siapa yang mengajari kamu seperti itu biniku?”

“itu kata Tuan guru, pian tidak pernah pergi ke pengajian, mana mungkin pian mengerti,pian harus belajar ma’rifat”

‘‘ ahh biniku, itu tidak masuk akal, mana mungkin Tuhan menyiksa kita seperti ini, aku yakin Tuan guru itu tidak pernah belajar geograpi disekolahnya”

Pian itu tidak boleh mengatakan Tuan guru itu tidak sekolah, beliau punya ilmu yang tinggi, ilmu ma’rifat”

“ Tuan guru itu orang kaya, beliau punya mobil dan AC di rumahnya, kabut asap tidak masalah baginya, hawa panas kabut inipun tidak masuk kamarnya”

Abdullah langsung saja meninggalkan istrinya, kemana lagi Abdullah akan mengadu, seolah dia hanya sendirian yang berani berkeluh kesah tentang kabut asap ini.

Abdullah memang hanya seorang tukang bangunan, tapi dia lulusan sebuah Madrasah Tsanawiyah di kota asalnya, dia merantau kesini sepuluh tahun yang lalu menjadi kuli bangunan, betah tinggal didaerah ini, dia menikahi seorang gadis asli setempat, maka tetaplah hatinya untuk tinggal disini.

Abdullah bertubuh sedang dan terlihat agak jangkung, tubuhnya yang kuruslah yang menjadikannya terlihat agak jangkung, kulitnya agak hitam terbakar, terbakar sinar matahari karena dia sering bekerja dibawah sinar matahari, di pulau ini, yang terkena garis katulistiwa, sinar matahari terasa sangat menyengat, membakar tubuh kita meski hanya sebentar berjemur.

Namun tidak seperti di daerah asalnya dulu, kabut asap dimana dia tinggal saat ini sangat lah pekat, dua kali lebih pekat bahkan mungkin empat kali lebih pekat. ketika kemarau panjang melanda, asap kabut mulai muncul berlama-lama, lahan-lahan gambut telah dibakar dimana-mana, untuk membersihkan lahan dibelakang rumah atau bahkan lahan yang jauh di pedalaman sana, sepertinya membakar lahan adalah pekerjaan yang menyenangkan, asap akhirnya menghantui selama beberapa bulan setiap tahunnya.

Selain kabut asap, listrik juga sering mati, PLN selalu berupaya mengambil simpati warga dengan berasalan bahwa air waduk besar juga telah mulai mengering hingga turbin listrik tidak bisa berputar, maka listrik padam siang dan malam semakin menjadi-jadi.

Air untuk kebutuhan sehari-haripun akhirnya mengering dengan cepat, bukan hanya di sumur-sumur di dekat rumah bahkan sungai besar di kampung pun mengering, karena hutan di hulu sungai sana telah habis di babat, maka setali tiga uang lah dengan lahan gambut yang airnya juga cepat mengering seiring mengeringnya air sungai, perusahaan air minum daerah tidak selalu lancar mengalirkan airnya, baik musim hujan mapun musim kemarau.

Maka penderitaan ini pun semakin menjadi-jadi.

Namun Tidak ada yang mengeluh tentang asap selama ini, masyarakat menganggap hal itu biasa, walau tahu kabut asap sangat mengganggu kehidupan mereka, mengganggu kesehatan mereka, tidak ada yang berani mengeluh di tengah umum.

Tapi Abdullah tidak tahan rupanya, hawa panas yang diakibatkan oleh kabut asap itu telah menyerang kamarnya sendiri, sudah dua bulan ini hawa dingin khas musim kemarau hilang dari kamarnya, dan yang dia tidak mengerti diwaktu subuhpun hawa panas masih ada, dan tubuhnya pun berkeringat, hawa panas ini juga telah membuat istrinya kurang bergairah, maka hal prinsipil seperti ini lah yang telah membuat Abdullah benar-benar marah.

“pasti ada orang-orang yang membakar lahannya dan tidak menjaganya dengan baik, sudah tahu musim kemarau ini begitu kering, mengapa membakar lahan tidak dijaga? Api menjalar kemana-mana, membakar lahan dan kebun orang, dan asapnya tidak bisa dipadamkan, mana ada air di tengah hutan rawa gambut itu” kata Abdullah di warung pagi ini.

Orang-orang yang duduk bersamanya duduk mendengarkan sambil tertawa-tawa

“Lalu kamu mau apa Abdullah?” Harissudin bertanya kepada Abdullah sambil tersenyum-senyum mengejek

“ aku juga tidak tahu” Abdullah menjawab

Maka tertawa lah semua orang di warung itu pagi ini, menertawakan Abdullah yang mereka pikir terlalu pintar itu, entah dari mana Abdullah itu mendapatkannya kepintarannya.

Ketika berjalan kepasar, Abdullah melihat sebuah surat kabar terkemuka di pulau ini, berita utamanya adalah kabut asap yang menyerang sebagian besar pulau ini. Surat kabar itu dibelinya dan dibawanya pulang,

“Lihat biniku, di surat kabar ini dikatakan kabut asap ada dimana-mana dipulau ini, aku yakin banyak bupati dan keluarganya, para Gubernur dan keluarganya juga termasuk para Tuan guru dan keluarganya menghirup kabut asap ini”

“Syukurlah itu artinya bukan hanya kita yang terkena kabut asap ini, ini takdir”

“Tapi kenapa mereka para pejabat itu hanya diam saja? Kenapa di TV tidak memberitakan tentang kabut asap ini?’ Abdullah menjadi bingung sendiri.

“Mana ku tahu, kabut asap itu takdir, orang TV tidak tertarik dengan kabut asap” maimunah sepertinya tidak ingin juga mau tahu.

Abdullah mengerti jika istrinya tidak terlalu tertarik akan hal ini.

Keesokan harinya anak tetangga Abdullah datang berlibur, dia bekerja di sebuah tambang batu bara besar di daerah lain, dari sana Abdullah tahu, jika pembangkit tenaga listrik saat ini berbahan bakar batu bara untuk memutar turbinnya, sebagian batu bara yang ditambang didaerah ini dikirim ke pulau jawa juga untuk memutar turbin listrik disana.

“Kalian harus tahu, jika listrik dipulau jawa sana berbahan bakar batu bara, dan batu bara itu ditambang di pulau kita ini, dan kalian juga harus tahu bahwa turbin listrik di pulau kita ini juga berbahan bakar batu bara”

“Trus kenapa?” si Harissudin bertanya sambil mengejek lagi.

“Maka jika PLN itu berkata bahwa waduk Riam kanan sedang kering dan tidak bisa memutar turbin bisa-bisa kita hanya di bohongi saja”

“Sok tahu kamu Abdullah!” ketus harissudin

Dan orang-orang diwarung pun tertawa mengejek

“jika di Pulau Jawa sana listrik tidak mati, kenapa ditempat kita ini listrik selalu mati?” Abdullah balik bertanya dengan berani melawan cemoohan orang diwarung.

Maka orang-orang diwarung itu pun terdiam mendadak, Abdullah pun pulang dengan merasa menang.

Di tengah jalan menuju rumah, Abdullah dipanggil haji syukur untuk duduk di terasnya, teh manis panas dan beberapa pisang goreng telah disiapkan khusus untuk Abdullah.

“Abdullah, sini aku beritahu, kalau kita protes itu bikin malu, pemerintah mana mau mendengar kita, sudahlah, seperti kita ini tidak punya uang saja untuk beli jenset, malu protes-protes itu Abdullah” haji syukur menasehati Abdullah dengan lemah lembut.

Haji syukur adalah ipar Abdullah sendiri, seorang Guru Negeri, yang termasuk orang terpandang di kampung, haji syukur rupanya juga merasa malu dengan perilaku Abdullah yang sekarang jadi tertawaan orang dikampung.

“ Bukan begitu ka, saya ini sebenarnya tidak mampu berpikir macam-macam, saya cuman tidak tahan dengan panasnya, tiap malam saya kepanasan, subuh juga kepanasan” kata Abdullah jujur mengeluh.

“aku mengerti, nanti aku beri uang untuk kamu belikan AC, untuk dipasang di kamar kamu yang panas itu, asal kamu mau bayarnya mencicil kepadaku, bagaimana?”

“nanti saya pikir-pikir dulu ka, saya musyawarah dulu dengan maimunah” Abdullah tersenyum, rasanya dia tidak pernah berpikir punya AC sendiri dikamarnya, dengan alasan apapun dia tetap tidak bisa menyembunyikan senyum sumriahnya.

“tapi syaratnya kamu jangan protes lagi ya, kita tidak perlu memikirkan kenyamanan orang lain, orang lain saja tidak memikirkan kenyamanan kita, yang penting dalam hidup ini kita ibadah kepada Allah saja, kita harus hidup senyaman-nyamannya untuk kita bisa ibadah, biarkan lah orang lain mau bagaimana” begitu lah haji syukur menasehati Abdullah.

Maimunah setuju Abdullah membeli AC, Abdullah pun menjadi damai kembali, berhenti berkuar-kuar tentang kabut asap. Dan dinginnya subuh sudah bisa diatasi dengan hadirnya dingin AC.

Namun seminggu kemudian, kampung jadi geger, Muhammad kasir terbakar di ladangnya sendiri yang tidak jauh dari rumahnya, untungnya dia selamat dari api yang membakar ladangnya, tapi sekujur tubuhnya banyak dipenuhi luka bakar. Kejadian ini bermula ketika dia membakar ladangnya sendiri dan ketika beristirahat dia tidak sengaja tertidur di pondoknya di tengah ladang, arah angin yang berubah tiba-tiba membawa api menuju pondoknya, api rupanya semakin membesar dan sampai tengah malam api merayap menuju perumahan penduduk.

Seluruh penduduk kampung menjadi kebingunan, tidak ada sumber air yang dekat untuk bisa memadamkan api yang merayap itu, api merayap dibawah tanah di tanah gambut, memerlukan sangat banyak air untuk memadamkannya. Untungnya beberapa buah pemadam kebakaran cepat datang dan membawa selang air yang sangat panjang untuk menghisap air dari sungai yang agak jauh. Perlu satu malam penuh untuk memadamkan api yang merayap itu.

Abdullah hanya diam saja setelah semalam suntuk ikut memadamkan api, semua penduduk kampung juga hanya berdiam saja, sebagian ada yang mencoba tersenyum kepada Abdullah karena merasa bahwa apa yang sudah dikatakan Abdullah dahulu ternyata benar, selama beberapa hari kabut asap pekat berbau sangat menyengat dari bekas ladang yang terbakar itu menghantui penduduk kampung siang malam.

Beberapa orang kampung yang dahulu menertawakan Abdullah mencoba memperbaiki perlakuannya terhadap Abdullah, tapi Abdullah sudah tidak peduli, dia sepertinya sudah senang dengan AC di rumahnya yang dingin, dan menetapkan hati untuk tidak mau lagi peduli dengan orang lain secara berlebihan.

Dalam malam-malam tertentu Abdullah dan Maimunah juga pergi ke pengajian di kota, ikut menumpang dengan mobil kaka iparnya Pak Haji syukur, mereka semua berpakaian putih bersih. Di pengajian di kota tersebut yang sangat banyak jamaahnya, di hadiri juga oleh para Pejabat tinggi daerah Kabupaten maupun Provinsi, para Politikus, para Pengusaha dan Pedagang kaya-kaya, Abdullah mulai juga mendengar tentang ma’rifat di pengajian tersebut.

Tuan guru di pengajian itu adalah seorang yang kaya raya, mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan beberapa mobil mahal yang sering dia pakai bergantian, serta tentu saja murid-murid yang banyak yang sebagian besar darinya adalah orang kaya dan para pejabat.

“lihat Abdullah, ambil lah contoh tuan guru kita ini, beliau berilmu tinggi, mempunyai ilmu ma’rifat, beliau tidak peduli dengan dunia, maka dunia lah yang datang pada beliau, lihat para murid beliau para orang kaya dan pejabat itu, mereka juga ingin mengambil berkah kepada beliau, kita harus juga seperti mereka itu” Haji Syukur membuka pembicaraan dengan Abdullah dan Maimunah.

Abdullah hanya tersenyum malu-malu, tidak menjawab.

“Kita jangan ikut politik, jangan ikut demo-demo, jangan ikut yang aneh-aneh, seolah kita tidak punya Tuhan saja, politik adalah para politisi, urusan pemerintahan adalah urusan para pejabat, mereka juga murid tuan guru kita, kita orang biasa ini jangan terlalu di pusingkan oleh hal-hal itu, urusi diri kita sendiri saja, jangan peduli orang”

Ketika pengajian selesai, mereka pulang menuju kampung, kabut asap semakin pekat di malam hari, sudah jam sebelas malam selesai dari pengajian, orang-orang bergegas dan bercepat-cepat ingin pulang kerumah masing-masing, kendaraan bermotor pun di pacu dengan cepat.

Haji syukur mengendarai mobilnya dengan cepat, tidak peduli dengan asap pekat yang menghalangi pandangan malam, lambu mobil tidak bisa menembus lebih dari lima puluh meter. Ditikungan tajam, tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju dengan cepat, hampir saja menabrak mobil yang membawa rombongan keluarga ini, maimunah berteriak ketakutan.

“Astagfirullah, memangnya jalan ini jalan neneknya” haji syukur mengumpang-ngumpat.

“sabar ka, lagi kabut, tenang saja ka” Abdullah mencoba menenangkan kaka iparnya tersebut

“ mentang-mentang pakai sepeda motor, tidak peduli lagi dengan orang lain yang memakai jalan, kalau tertabrak mobilku ini, aku lah pasti yang disalahkan” haji syukur tetap marah juga.

Abdullah diam, dan bingung di dalam hatinya, sebelumnya kakak iparnya ini menasehati dia untuk tidak memperdulikan orang lain, sekarang kakak iparnya ini marah dengan orang lain yang tidak peduli dengan keselamatan orang lain.

Di tikungan jalan selanjutnya, mobil tiba-tiba terguncang dan oleng menuju ke sebelah kiri menabrak deretan pohon pisang dan pohon karet kecil.

“Astagfirullah, astagfirullah” haji syukur

Rupanya ada sepeda motor menyalip dari belakang dengan begitu cepatnya, pengendara sepeda motor itu berbaju putih juga, sepertinya sama-sama pulang dari pengajian.

Untungnya tidak ada yang terluka dari keluarga Abdullah ini, hanya terguncang syok saja,

Haji syukur sangat marah setelah melihat mobilnya benyok dan tergores.

“itu lihat Abdullah, orang tidak tahu aturan, tidak memikirkan orang lain dijalan, tidak punya tata krama, berapa juta uangku akan habis memperbaiki mobilku ni, untung tidak ada yang terluka dari kita”

“sabar ka, mungkin dia juga tergesa-tergesa”

“Tergesa-tergesa apanya, dia itu memang tidak tahu aturan menyalip di tikungan”

‘ sabar ka, ini sudah takdir, kita marah juga tak ada guna, mereka juga diajarkan tidak peduli orang lain, sama seperti kita juga di ajarkan, kita punya guru yang sama”

Haji syukur diam seribu bahasa menahan amarah,

Abdullah langsung saja menutup mulutnya, sadar bahwa dia salah bicara dikeadaan tidak tepat.

[1] Bahasa Banjar, Pian: kamu, kau,

Tags:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: