Posted by: alfigenk | November 11, 2014

Madrasah Aliyah Progam Khusus (MAPK) / Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN) Proyek Rahasia Kementerian Agama yang sukses

13578915282106283765

plakat MAPK Martapura yang telah dibuang oleh pihak sekolah induk, ditemukan menjadi tempat cuci warung sekolah..koleksi pribadi

Madrasah Aliyah Progam Khusus (MAPK) / Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN)

Proyek Rahasia Kementerian Agama yang sukses

oleh: Alfigenk Ansyarullah

Beberapa minggu ini perhatian kita kembali diarahkan kepada Kementerian Agama, ramai sekali dengan berita tudingan korupsi berbentuk grativikasi kepada para Penghulu Kementerian Agama, hal ini sangat menampar Kementerian Agama yang selalu digadang-gadang untuk bersih-bersih diri, belum lagi selesai kasus korupsi pengadaan Al-Quran dan alat peraga pendidikan yang sangat memukul telak kementerian ini, dalam minggu-minggu ini pula Dana haji puluhan triliun yang di kelola Kementerian Agama juga di gugat. Tidak ada habis-habis kementerian ini menjadi sorotan negative banyak pihak.

Namun selalu ada sisi lain yang tak terlihat, selalu ada sisi lain yang menarik, maka tidak salahnya jika kita mencari sisi lain tersebut. Secara pribadi saya menganggap hal ini adalah sebagai sesuatu hal yang seharusnya kita lakukan, sehingga penilaian kita tidak terlalu bias.

Apakah anda pernah mendengar Madrasah Aliyah Progam Khusu (MAPK) Atau apakah anda pernah mendengan Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN)?

Pada dasarnya kedua madrasah ini adalah madrasah yang sama, perubahan nama dari MAPK menjadi MAKN merupakan keputusan menteri Agama belaka ^_^

Mungkin anda pernah mendengar nama Teuku Kemal Pasha, seorang antropolog muda dari Aceh yang sering muncul di televisi atau media, atau anda baru-baru ini pernah membaca novel yang sangat mencerahkan berjudul “Anak-anak langit” karangan Mohd Amin MS. Mungkin anda juga kenal salah satu anak muda yang sangat dinantikan analisisnya di Indoensia saat ini, seorang pengamat politik muda bernama Burhanuddin Muhtadi, atau anda pernah mendengar Habiburrahman el-sirazy, pengarang novel “Ayat-ayat Cinta” yang sangat terkenal itu. Ada lagi yang saat ini sedang naik daun, beberapa kali muncul dalam wawancara di studio televisi, Norhaidi hasan jebolan Universitas Utrecht Belanda yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ada juga yang samar-samar mulai terdengar seperti Asrorun Ni’am Sholeh yang saat ini menjadi wakil Ketua Komite perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat. Atau jika anda sering mendengar radio (KBR) 68H dalam acara talkshow “Agama dan Masyarakat” yang diasuh Saidiman Ahmad.

Mereka ini adalah sedikit dari sedikit sekali lulusan MAPK/MAKN di seluruh Indonesia , Teuku Kemal Pasha adalah lulusan MAPK/MAKN Aceh, Mohd Amin MS adalah alumni MAPK/MAKN Padang panjang, Sumatera Barat. Burhanudin Muhtadi dan Habiburahman el-Sirazy adalah lulusan MAPK/MAKN Surakarta solo, danNorhaidi Hasan, orang banjar yang lulusan dari MAPK/MAKN Yogyakarta. Asrorun Ni’am Sholeh yang lulusan MAPK/MAKN Jember. Dan Saidiman Ahmad adalah Alumni MAPK/MAKN Makasar.

13578918381094861763

…dengan ALmarhum yang terhormat Guru kami H.ABdul Gani.LC

 

Sudah pasti banyak yang tidak tahu apa itu MAPK/MAKN, dari namanya saja sudah agak janggal, aneh dan yang pasti asing di telinga banyak orang, seperti mengingatkan kita kepada Kopassus, Komando Pasukan Khusus saja bukan.

Tidak banyak informasi dan catatan yang bisa didapat tentang madrasah khusus ini, dengan pencarian dengan mesin pencari Google pun sangat mengecewakan.

MAPK/MAKN merupakan Madrasah setingkat Aliyah dengan progam dan pelajaran khusus yang berbeda dengan Madrasah Aliyah biasa, digagas dan pertama kali oleh menteri Agama Munawwir Sazali pada akhir tahun 1980-an, pada 1988 proyek MAPK/MAKN dimulai dan untuk tahap pertama, dibuka di lima lokasi; Padang Panjang, Ciamis, Yogyakarta, Ujung Pandang, dan Jember. Selanjutnya, MAPK ditambah di lima kota lagi, yaitu di Banda Aceh, Lampung, Solo, (Martapura)Banjarmasin, dan Mataram.

Tidak seperti sekolah milik kementerian lainnya, seperti SMA Taruna atau pelayaran atau pertanian yang sangat terkenal dan eksis sampai sekarang, MAPK justru sangat asing. Maka dengan tidak banyaknya data dan informasi data serta tidak populer Madrasah ini di tengah-tengah Masyarakat, saya memberanikan diri untuk menyebutnya sebuah Proyek Rahasia Kementerian Agama.

Walaupun bukan sekolah kedinasan Milik Kementerian agama, lulusannya dijanjikan dua hal, pertama bisa langsung menjadi pegawai negeri di kemenang atau kuliah di seluruh perguruan tinggi milik kementerian agama tanpa test masuk atau uang pendaftaran dan berhak memilih jurusan yang mereka inginkan.

Apa yang berbeda dengan MAPK/MAKN ini? Menurut kabar berita, MAPK/MAKN merupakan proyek pretisius Munawwir Sazali sebagai menteri Agamawaktu itu. Dengan cita-cita membentuk generasi baru untuk dipersiapkan menjadi pegawai kementerian agama yang lebih propesial dan berwawasan luas serta moderat agar mampu memahami perbedaan pemikiran keagamaan di tengah-tengah masyarakat sehingga bisa mewarnai berbagai wacana perkembangan bangsa dan Negara.

MAPK pun di bentuk dengan keputusan Menteri AgamaNomor 73 Tahun 1987 , siswa MAPK/MAKN di beri banyak fasilitas seperti asrama dan perpustakaan kitab Kuning, para siswanya diberi uang saku yang pada saat itu dirasa sangat besar, namun semua fasilitas tersebut juga berbanding lurus dengan progam belajar yang sangat padat dan melelahkan.

Tiap Madrasah ini setiap tahun hanya menerima 35-40 siswa, semuanya adalah siswa laki-laki, kecuali di Ciamis dan Padang Panjang dan Surakarta Solo yang menyediakan kelas khusus perempuan. Calon siswa dijaring melalui seleksi yang sangat ketat, siswa diambil dari madrasah tsanawiyah atau pesantren modern. Dengan mata pelajaran Agama 70% dan pejaran umum 30% menjadikan madrasah ini sangat fokus terhadap pembentukan intelektual keagamaan.

Tidak ada hari libur bagi siswa Madrasah ini, kegiatan di mulai dari waktu subuh dan di akhiri pada pukul sepuluh malam, ketika siang hari mereka mengikuti pelajaran agama biasa dengan buku-buku berbahasa arab gundul, kemudian sehabis ashar di lanjutkan dengan toturial sore dengan mata pelajaran kitab-kitab kuning, setelah itu kegiatan malam dari waktu magrib sampai sehabis isya dan dilanjut tutur dari jam setengah sembilan malam sampai jam sepuluh malam, begitu setiap hari kecuali minggu siang, namun minggu siang pun biasanya di isi dengan berbagai kegiatan. Madrasah ini menggunakan tradisi disiplin yang ketat.

Sekolah ini sering juga disebut dengan nama pesantren Negeri, karena memang mata pelajaran dan kehidupan mereka dimadrasah yang berasrama sangat mirip dengan pelajaran pesantren, dengan kitab-kitab berbahasa Arab gundul.

Alumni madrasah ini di seluruh Indonesia diperkirakan tidak sampai lima ribu orang, dengan diaspora pendidikan yang sangat luas baik di dalam maupun diluar negeri. ratusan orang dari mereka mengambil kuliah di Timur Tengah, banyak dari mereka juga yang mengambil Master dan Doktor di Eropa, Amerika maupun Australia. Salah satu data yang penulis bisa dapatkan, seperti alumni MAPK/MAKN Martapura kalimantan selatan yang diperkirakan hanya sekitar 500 orang, ratusan orang dari mereka bergelar S2 dan puluhan orang sudah bergelar doktor atau sedang mengambil studi doktor, alumni madrasah ini adalah satu-satunya sekolah yang berhasil menghasilkan doktor dan calon doktor didalam dan luar negeri hampir puluhan orang dengan rata-rata dibawah umur 35 tahun diseluruh kalimantan. Saat ini pencapaian gelar S3 ini terus bertambah. Hal seperti ini juga terjadi di seluruh MAPK/MAKN se Indonesia.

MAPK/MAKN merupakan proyek kementerian Agama yang sangat berhasil dalammembentuk generasi baru dunia intelektual sosial keagamaan di negeri ini, sayangnya MAPK/MAKN telah dihapuskan secara resmi oleh Kementerian Agama beberapa tahun yang lalu tanpa alasan yang jelas, yang dapat bertahan sampai saat ini adalah MAPK Surakarta Solo.

Para alumni MAPK/MAKN pun masih sering mengadakan reuni, meski masih dalam Skala sekolah masing-masing, meski sebenarnya akan sangat bagus jika ada satu organisasi untuk menaungi seluruh ikatan alumni MAPK/MAKN seluruh Indonesia.

Menurut catatan kawan, yang menarik dari alumni MAPK/MAKN ini adalah meskipun mereka sering dinilai sebagai orang pintar, banyak dari mereka bergelar S2 dan S3 tapi mereka tidak akur, jika saja mereka akur, mereka pasti bisa mempengaruhi Kementerian Agama dimana lulusannya banyak bekerja disana. Dan salah satu keinginan pendiri MAPK/MAKN agar lulusan madrasah ini bisa memberi warna di kementerian Agama bisa terwujud, sayangnya cita-cita ini masih jauh Api dari panggang.

Seperti dikemukakan diatas, MAPK/MAKN memang sangat asing ditelinga banyak orang, dan hal ini juga diperparah dengan dengan jaringan Alumni mereka yang juga sangat dingin dan tidak agresif. Konsolidasi antar mereka sangat lemah. Kita tidak bisa menyamakan dengan konsulidasi alumni mereka seperti alumni sekolah lain, sebut saja SMA Taruna yang terkenal itu, meski pun antara SMA Taruna dan MAPK/MAKN hampir bisa dikatakan masih seumur tapi beda bapak ibu saja..

Saya tidak salah bukan menyebut bahwa proyek MAPK/MAKN merupakan proyek Kementerian Agama yang sukses? Yang mana dampaknya bisa kita rasakan saat ini.

Jika anda tidak keberatan, boleh lah tulisan ini untuk dishare kemanapun anda suka, agar bisa terbaca oleh para Alumni MAPK/MAKN yang sedang diam itu.

Semoga Kementerian Agama bisa menjadi lebih baik…semoga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: