Posted by: alfigenk | November 11, 2014

[Stop Cyber Bully] Jangan Kau Mau Berkelahi

13592675771455480077

Fhoto:koleksi pribadi

[Stop Cyber Bully]  Jangan Kau Mau Berkelahi

oleh: Alfigenk Ansyarullah

Tak disangka hujan hari ini tetap saja belum berhenti,

Dingin tetap menusuk-nusuk, dan senja hari tetap terang benderang di sebelah barat sana, sedang hujan gerimis masih turun hingga saat ini, ajaib sungguh alam ini..disana terang, disini dingin dengan hujan yang gelap.

Aku sendirian di dalam kamarku, termangu dengan diriku sendiri, menatapi hujan dan memberi pengertian kepada diriku sendiri jika hujan seperti ini sangat jarang terjadi.

Sebuah lagu terdengar di telingaku, playlist rupanya sampai ke sebuah lagu lama dari ABBA “the winner takes its All”, lagu yang aku dapat dari CD-CD bajakan yang tidak laku yang biasanya aku jual dipasar-pasar malam.

Di kejauhan dalam gerimis hujan sore ini, aku melihat amat gandut berjalan lambat, aku mengira dia akan menuju rumahku, ternyata benar dugaanku, amat gandut memang menuju rumahku. Kampung kecil kami dipinggir kota kecil ini dengan penduduk yang sedikit sangat lah mudah untuk mengenali salah satu penduduknya meski jika kita melihatnya dari jauh. Rumahku yang berada dipinggir persawahan dan aliran irigasi menjadi bercahaya-cahaya antara air hujan dan sinar matahari.

Amat gandut langsung saja naik dan bersandar di ranjangku, dia tidak peduli pakaiannya yang basah akan membasahi ranjangku.

“Susah sekali menemukan orang baik di dunia ini” amat gandut berkata gelisah, sambil membenturkan kepalanya ke dinding.

“Itu benar kawanku, akan susah menemukannya jika kau selalu berpandangan seperti itu” kataku sok pintar.

“bijaksana sekali kata-katamu itu, dapat dari mana ha?” amat gandut langsung saja membalas

“aku baru beli buku kata-kata pujangga, buat bikin status di facebook, harganya lima ribu saja”

“Behh pintar juga kamu ini, modal lima ribu, akan terlihat pintar nantinya di dunia maya”

“iya lah, kita harus cerdik”

Dalam satu tahun ini kami, kami berdua, sedang tergila-gila dengan facebook, lewat Handphone murah merk dari negeri China, maka mulai lah kami dari kampung kecil dari kota yang kecil ini yang jauh dari kota besar tiba-tiba muncul dalam pergaulan dunia maya yang luas tak berbatas.

Kami berteman dengan banyak orang yang tentu saja tidak kami temui secara langsung.

Amat gandut hari ini sebenarnya gelisah, dia bertengkar dengan seseorang disebuah grup di facebook.

Dalam hujan gerimis ini, dengan senja yang terang diujung barat, amat gandut berkeluh kesah

“memangnya dia saja yang benar di dunia ini, aku di ajak berkelahi, dia mengancam aku di grup secara terang-terangan”

“aee kenapa kita tidak lawan saja, yang mana orangnya?”

“haa kamu ini, bodoh sekali kita berkelahi hanya untuk pembuktian diri yang tidak perlu”

“memang dia orang mana? Jika dekat-dekat sini saja mari lah kita tantang bertemu, berkelahi macam apa yang dia mau, kita lawan saja”..kataku dengan sungguh-sungguh sok jagoan

Amat gandut jadi tertawa kekikikan,,,,

“bener nih mau berkelahi dengan tu orang?” kata amat gandut dengan sedikit tertawa

“iya lah, masa takut, kalo dia masih manusia aku ngga takut”

“klo aku takut, bagaimana?”

“haa itu berarti hanya badanmu saja yang besar”..sekarang aku mengejek amat gandut sambil memasang mataku besar-besar kepadanya

“aku takut, soalnya dia cantik” kata amat gandut malu-malu

Aku jadi diam dan mulai mendekati amat gandut, aku tersenyum manis dengan amat gandut, temanku ini meski gendut, pandai juga berlagak, berkelahi juga dengan gadis cantik, alamak.. jarang-jarang berkelahi dengan gadis cantik, biar biru kepala ini, aku rela saja dipukulnya, asal habis itu dia sayang padaku.

“dari mana kau kenal dengan gadis itu mat?” tanyaku bermani-manis madu dengan amat gandut

“kau ini beruang madu, kalau sudah dapat madu, bisa mencakar-cakar, tak mau lah aku beritahu kau”

“apa guna juga kau berkelahi dengan dia mat, malu lah aku ini sebagai temanmu, berkelahi dengan perempuan mat, aku rela saja mengalah meski dia menendangku sepuluh kali”

“ahh kau ini sok tahu, aku bohongi saja kau ini, cepat sekali kau makan, aku bukan berkelahi dengan gadis cantik itu, tapi aku membelanya, membelanya dari cercaan orang-orang bodoh di grup itu, aku kasihan dengan gadis itu”

“Terus?”..aku bertanya jengkel, hampir saja aku senang sekali senja ini, dan hujan gerimis sedikit makin lebat, seolah mengejek

“yaaa..karena aku membelanya, aku malah yang diserang mereka, ada mengejek fhotoku, mengajak berkelahi, bahkan ada yang mengirimi ke inbox-ku mengatai-ngataiku dengan kasar”

Kasihan sekali temanku amat gandut ini, dia tidak punya kekasih hati, tubuhnya yang gendut membuatnya tidak percaya diri, lihat saja fhoto profilnya di facebook itu bergambar maher zain dengan topi copet, amat gandut berharap orang-orang akan menerima dia sebagai teman dengan fhoto profil seperti itu, dan nampaknya dia berhasil, dia punya banyak teman di facebooknya.

“kasihan sekali kau ini mat”

“iya lah, kasihan sekali aku ini, makanya hujan-hujan begini aku ke rumahmu”

“untuk berkeluh kesah ya? Konsultasi untuk orang yang lagi galau seperti kamu ini mat cuman lima rupiah perjam, bonus lah dari aku” aku mencandai amat gandut

“bosan aku konsultasi sama kau, tak banyak berguna, nasehatmu biasanya jarang terpakai, terlalu teoritis kaya mate-mateka” amat gandut menggerutu sambil berbaring diatas bantalku, bantalku pasti bau terkena kepalanya yang basah

“huh kau itu kalau mengejek yang pintar dikit, mana ada terori di matematika, kalau di fisika itu baru aku tahu ada teorinya” aku sambil juga tertawa-tawa

“yang aku ingi dengan kau hari ini aku mau minta duit sama kau, lima ribu saja, kalau kau tak mau, sudi lah beri hutang pada temanmu ini, lima ribu saja”

“Buat apa pula lima ribu, bulan tua begini mau minta duit, meski berhutang juga kau tak akan aku beri, aku juga tak punya banyak uang lagi, menunggu besok bisa jika barang daganganku laku banyak”

‘aku butuh sekarang, mau beli pulsa”

Aku jadi tertawa-tawa dan berdiri menjauh dari amat gandut, temanku ini sungguh merasuk ke hati rupanya, kejadian di facebook itu yang dipikirkannya, berkelahi dengan orang yang belum tentu juga dia kenal dengan baik, dengan orang-orang yang mempunyai topeng dalam fhoto-fhoto profil atau berlagak dengan tulisan-tulisan status yang menggiurkan dan menggoda, bisa jadi mereka itu juga seperti aku ini penuh tipu daya menjadikan diri sendiri eksis dalam dunia yang tidak bisa aku pahami secara baik, aku ingin dipuji dan di akui, dimana di dunia nyata tidak dapat aku dapatkan, sebagai manusia aku butuh pengakuan.

“begini saja kawan, kau tidak perlu bersusah hati terus, biarlah mereka memarahimu, mengancammu, tak jadi soal, hujan akan tetap hujan kawan bahkan jika kau tidak suka mandi pun kau akan terkena air hujan”

“ahhh kata-kata bijakmu itu tidak nyambung”

‘aku salah ya tadi, maksudku biarkan saja mereka marah tuh tidak ada ruginya buat kau, mungkin hari ini kau malu, tapi wajah kerenmu si maher zain itu tetap saja tersenyum dengan topi copetnya”

“tapi malu aku dengan di gadis cantik itu, aku terlihat kalah, terlihat tidak jagoan, dia pasti tdak senang denganku jika aku lemah”

“siapa juga yang tidak suka maher zain? Hee, tapi jika fhoto aslimu yang dipajang di profil itu, bisa mampuslah kau, tak ada gadis yang akan suka”

Amat gandut melempar bantal ke wajahku, dia marah, dan aku tertawa-tawa mengejeknya, bisa jadi amat gandut ini sedang jatuh cinta, jatuh cinta dengan gadis yang dibelanya di facebook itu, banyak sudah sepasang manusia lelaki dan perempuan menikah karena bertemu di duni maya, di facebook, amat gandut tak juga salah jika dia berharap sesuatu dari kejadian ini, toh cinta selalu ada walau dimanapun engkau berada.

“ kau ini terkena cyber bulling” kataku kepada amat gandut

‘apa tu cyber bulling? Penyakit apa itu?”

“nanti lah kau cari sendiri di google apa itu cyber bulling atau cyber bully lebih jelasnya, yang pasti kamu itu terkena cyber bulling”

Amat gandut melongo saja mendengarkan perkataanku

“jika kau diancam, jika kau di ejek berlebihan, jika kau terus saja disudutkan dengan kata-kata kasar, merendahkanmu, dengan ancaman dan sebagainya maka itu disebut cyber bulling”

“kataku-katamu mirip presenter di TV, tegas, lurus dengan bahasa indonesia” kata amat gandut sambil mendengarkan kata-kataku

“iya lah, jika aku berdagang bicaraku harus menyakinkan kawan”

“trus apa aku harus lapor polisi jika kena cyber bulling?”

“up to you kawan”

“Bikin susah aku saja jika aku harus lapor polisi”

“jika begitu tak usah lagi lah kau susah-susah hati memikirkan ancaman orang-orang itu”

“dari mana pula kau dapat cyber bulling itu?..pintar sekali kau”

“dari baca-baca lah, banyak lah tulisan tentang hal itu di facebook, kamu itu jangan hanya bikin dan komentar status, sekali-kali bacalah link-link yang banyak di facebook itu, pintar lah kau nanti”

“aku tidak suka membaca, sakit kepalaku ini membaca”

“Gadis jaman sekarang suka laki-laki yang pintar, aku yakin gadis itu tidak suka dengan laki-laki yang suka berkelahi”

Hujan terus saja turun, dan senja disebelah barat semakin menjadi merah, mega-mega bertaburan warna terang jelas dan jernih, aku suka warna ungu bercampur biru muda di mega-mega, kapan lagi aku bisa menemukan suasana seperti ini, antara hujan dan langit cerah disana.

‘sekarang aku beri kau saran, aku tetap tak mau beri kau uang, aku tak banyak untung berdagang di musim hujan ini, bulan tua juga ini, aku harus membeli barang-barang baru lagi untuk dijual”

“lima ribu itu tak seberapa, cuman harga satu biji cd bajakan yang kau jual saja, besok aku temani kau berdangang ke kampung-kampung”

“jika kau aku beri uang, kau beli pulsa lagi, kau main facebook lagi,, kau berkelahi lagi, kau galau lagi, kau datang kemari lagi nantinya, berkeluh kesah lagi, kau minta lagi uangku”

“tidak lah, aku tak akan berkelahi, aku ingin berteman dengan gadis cantik itu, kapan lagi lah aku berteman dengan gadis cantik, nanti bisa panen kebun tomatku, aku traktir lah kau makan ke kota”

‘asal jangan berkelahi lagi ya”

“aku tak sebodoh mereka lah, seperti katamu buat apa aku melawan mereka, kucing menggonggong, aku tetap berlalu”

Aku senang dengan sikap amat gandut yang cepat paham ini, cyber bully, tak usah lah kau terus risaukan hati untuk memberi perlawanan, semakin kau lawan , semakin kau kalah. Cyber bully, ini seperti cerita legendaris dari perkelahian dua orang didaerah kami, dua orang yang sangat marah, saling membawa parang panjang, mereka berkelahi saling mengayunkan parangnya, orang-orang kampung sangat takut, para wanita berteriak-teriak, tak ada orang yang berani melerai. perkelahian ini berlansung tiga hari tiga malam tanpa ada seorangpun yang terluka, orang-orang kampung jadi bosan dan membiarkan saja mereka berkelahi tanpa ada yang peduli, tapi siapa yang tahu kenapa perkelahian mereka selama tiga hari tiga malam ini tidak membuat luka diantara mereka, rupanya mereka berkelahi berseberangan sungai, satu orang disebelah kiri sungai, seorang lagi diseberang, disebelah kanan sungai, seberapa hebat pun jurus yang dikeluarkan, seberapa keras pun ayunan parang yang ditebaskan tak akan berguna. Yang ada hanya lelah dan orang-orang akan tidak peduli. Begitulah sebuah perumpamaan perkelahian di dunia maya itu, kita tidak pernah bertemu mereka secara langsung. jika kau melawan dan memasukkan ke hati, maka semakin menang lah melakukan cyber buly, dan lelah lah hati kita memikirkan hal itu.

Akhirnya aku menyerah juga, aku beri amat gandut lima ribu rupiah, sangat besar bagi kami orang kampung pinggiran ini, sangat susah mencarinya dan sangat mudah dibuang dengan membelikannya pulsa.

Hujan tetap saja gerimis, gerimis yang membuatku sedikit bangkrut hari ini, tidak bisa aku berdangang malam ini di pasar malam kampung, tapi biar lah, hujan juga adalah sebuah rejeki, aku telah mendapati pemandangan indah senja ini, itu adalah juga rejeki. Dan amat gandut temanku itu telah juga mendapatkan rejeki melalui perantaraku, boleh lah aku bedoa semoga Allah memberi balasan rejeki yang lebih banyak lagi.

Sebelum amat gandut turun dari rumahku aku bertanya kepadanya

“mat, apa nama grup facebook tempat kau berkelahi itu?”

“kau tak perlu tahu, kau nanti ikut berkelahi juga jika telinga kau panas”

“huu..klo nama gadis cantik itu siapa? apa nama akunnya?”

“apalagi itu kau sangat tidak diperlukan untuk tahu”

“haa kau ini baru dibantu malah pelit amat”

“untuk gadis itu, aku berani minta duit dengan kau, maka berani pula aku kembalikan uang kau”

Aku jadi ciut hati dengan amat gandut, kalau dia marah mukanya sangar, aku takut.

Magrib telah tiba, dan matahari senja mulai tenggelam ditelan mega-mega. Ohh indahnya.

Nomor 234

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: