Posted by: alfigenk | February 11, 2016

Bunga Rampai Sejarah Jaringan Intelektual Diaspora Banjar

Bunga Rampai Sejarah Jaringan Intelektual Diaspora Banjar
Bunga Rampai Sejarah Jaringan Intelektual Diaspora Banjar
oleh: Andin Alfigenk Ansyarullah Naim
Diaspora intelektual banjar seharusnya menjadi diktum menarik yang bisa kita bicarakan, hal ini dikarenakan hal-hal berbau intelektual saat ini bukan sesuatu yang menarik minat banyak orang banjar khususnya di daerah asal mereka di Kalimantan Selatan.
Tulisan ini merupakan sebuah tanggapan dan apresiasi dari tulisan Ahmad Rizky Mardatillah Umar yang berjudul Djohan Effendi dan Diaspora Intelektual Banjar (http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/10/13/djohan-effendi-dan-diaspora-intelektual-banjar ).

Djohan Effendi sebagai salah tokoh Islam moderat di Indonesia memang tidak sampai menjadi sesuatu yang kontroversial di daerah asalnya yaitu Banua Banjar, alasannya sangat sederhana yaitu beliau tidak dikenal luas dikalangan orang banjar sendiri baik ditanah asal di Kalimantan Selatan atau daerah lain di Nusantara dimana banyak orang banjar bermukim.
Zaman ini di Nusantara orang Banjar di perantauan mungkin lebih terkenal sebagai pedagang, ulama, orang yang taat dan kuat dalam agama Islam, atau orang jagau (orang yang pemberani), profesi lain sebagai petani misalnya seperti sejarah mereka yang pernah membuka lahan pertanian di Riau dan Sumatera utara hampir tak pernah terdengar, atau menjadi pemeran penting dalam membuka perkebunan karet di sumatera utara dan Malaya juga hampir tidak diketahui.
Suku Banjar juga dikenal sebagai produsen ulama di Nusantara, baik dalam ranah Islam traditional dan moderat, gairah mereka dalam menuntut ilmu agama sangat bergelora sepanjang jaman, setelah lulus dari pesantren-pesantren traditional ataupun pesantren modern maka mereka siap merantau mencari penghidupan di daerah-daerah baru, semakin tahun semakin jauh.
Sebagai pengingat kita harus menyadari bahwa suku banjar yang berjumlah kurang lebih 6 juta orang di dunia ini, setengah dari mereka berada di luar daerah asal mereka di Kalimantan Selatan dngan penggunaan bahasa banjar yang masih massif, Permasalahannya adalah bahwa orang-orang banjar di Banua sendiri di Kalimantan Selatan banyak tidak tahu jika lebih dari separuh dari orang Banjar itu tidak berada di tanah Banjar.
Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang pribadi Djohan Effendi sebagai salah satu tokoh Islam Moderat Indonesia asal Banjar, saya lebih tertarik menyelusuri bagaimana jaringan intilektual Banjar bisa terdiaspora keseluruh Nusantara yang luas ini sehingga beberapa di antara mereka ada menjadi terkenal sebagai tokoh-tokoh yang disegani dimanapun mereka berada atau atas profesi yang mereka lakukan.
Banyak kritik yang telah dilancarkan kepada Banua Banjar yang dianggap bukan daerah yang nyaman ditempati oleh para intelektual, sayangnya tidak banyak tulisan kritis yang dilancarkan sebagai diskursus otokritik yang dapat didiskusikan secara berlanjut. Sampai sekarang kita tidak mendapati pembahasan ilmiah tentang hal ini, seperti juga kita kesulitan memahami kenapa ketika membangun sebuah jalan kita lebih menyukai membuat jalan yang kecil, seperti berdagang masakan kita selalu mendapati rasa berubah dratis menjadi tidak enak ketika dagangan semakin laris, ini sama persis kenapa orang Banjar tidak terlalu menyukai dengan hal-hal berbau intilektual, dampaknya kemudian membuat banyak intilektual banjar memilih tidak pulang ke kampung halaman.
Mujiburahman pernah menulis yang secara bebas saya sadur dengan bebas“orang Banjar merindukan pembaharu hadir di tengah-tengah mereka, namun ketika pembaharu itu datang mereka akan cenderung memusuhi dan menjauhinya’.
Logika saya seolah mengatakan, dengan perkembangan ekonomi yang menggerimbakan di daerah seharusnya banua banjar menjadi tempat yang nyaman bagi para inteliktual dan cendikia, tapi entah kenapa kenyataan malah terbaik. disisi lain apakah pulang ke daerah atau tidak hak pribadi,sebuah pilihan bebas, tidak perlu paksaan, tekanan, itu sebuah pilihan yang tidak bisa dicampuri.
Tapi saya memahami, meskipun tidak hadir secara fisik, orang-orang daerah mengharapkan ada pencerahan dari para intilektual diluar daerah meski hanya se paragraf pemikiran
Terhadap permasalan di atas saya masih memandangnya sebagai masalah kekinian, maksudnya sebagai salah satu suku yang mempunyai sejarah gemilang di Nusantara kita juga mempunyai kebudayaan yang kuat, hal itu ditopang oleh peradapan yang pernah hidup sebagai pondasi kebudayaan itu sendiri, namun itu diwaktu yang telah lalu dahulu kala.
Mawasnya kita lemah dalam mendokumentasikan sejarah, celakanya sampai sekarang pun penelitian sejarah tentang suku banjar ini berjalan ditempat, sejarah banjar sudah seperti dogma yang tanpa kritik, dialektika dalam penelusuran sejarah berjalan lambat, tidak berkembang dan kaku, seperti ungkapan terkenal kita “kisahakan yang baiknya haja, buang yang buruknya”, ungkapan ini sangat ketimuran.
Tanpa sejarah, kita seolah hampa, tanpa sejarah, kita seolah tanpa akar, tanpa akar kita akan mudah roboh, kita lemah..
Sebagai contoh, apakah kita benar-benar mengenal Djohan Effendi selain hanya orang Kandangan? Saya orang yang tidak puas dengan informasi yang secuil itu, apakah ada yang ingin tahu tentang siapa ayah ibu, kakek, dan buyutnya, dari keturunan siapa keluarganya itu berasal, bagaimana masa kecilnya, dan sebagainya, seperti juga saya tidak puas dengan informasi bahwa Hasan Basri ny berasal dari keluarga biasa tapi dijaman Kolonial sudah bisa sekolah ke Pulau Jawa.
Kita bahkan tidak mengenal dengan baik siapa itu Amir Hasan Kiai Bondan, Sejarawan Banjar pertama di Era Modern yang banyak mencatat dan mendokumentasi informasi penting dan utama tentang banjar, tidak ada biografi beliau, dan saya bertanya-tanya apakah pernah beliau menulis dan menjelaskan tentang keluarga beliau, orang tua beliau bergelar Kiai, apakah beliau keturunan para Kiai bagian dari keluarga penguasa dan birokrat dijaman kolonial.
Salah satu jaringan ulama yang sesungguhnya tercatat dengan baik adalah para pengislam utusan kerajaan demak, sebagai pemenuhan perjanjian politik antara Pangeran Samudera dan Sulthan Demak maka dikirimlah para pengislam ini keseluruh wilayah kerajaan banjar yang meliputi tiga perempat pulau kalimantan, jaringan ulama ini adalah awal dari jaringan intelektual islam pertama ditanah banjar dan jajahannya, sebagai pusat adalah daerah Hulu Sungai di Pedalaman sebagai pusat kerajaan dengan penduduk terbanyak dipulau kalimantan saat itu.
Saya percaya Islam datang ke Nusantara melalui perdagangan yang bukan hanya membawa barang dagangan tapi juga ide-ide baru termasuk kepercayaan dan agama, interaksi itu masih dapat kita rasakan dan lihat dampaknya sampai saat ini, tapi tersebar islam secara cepat memasuki pedalaman pulau-pulau besar dinusantara tidak lah lepas dari pengaruh interaksi politik dengan para pendakwah Islam.
Para pengislam ini bukanlah orang-orang biasa, selama ratusan tahun para keluarga Wali songo di Pulau Jawa dengan sengaja dan terorganisir dengan baik melalui keturunan dan kerabatnya berhasil mengislamkan pulau jawa dengan sangat mengagumkan melalui taktik dakwah yang membumi serta kehebatan politik yang mereka lakukan. Maka sangat lah tidak masuk akal jika para pengislam yang dikirim ke kalimantan itu berdiri sendiri dan terputus hubungan dengan asal usul mereka serta organisasi mereka, pengislaman bukan sesuatu yang sekali jadi, tapi bertahap dan berkelanjutan dan butuh waktu, disanalah jaringan-jaringan ulama ini terus menghidupkan jaringan keilmuan melalui keturunan mereka dan terus berhubungan dengan pusat mereka di pulau jawa dan pusat keilmuan Islam lainnya utamanya mekkah dan madinnah. Saya menduga keluarga Syekh Arsyad al-banjari adalah bagian dari jaringan pengislam ini.
Sudah pasti jaringan intelektual ini terbentuk karena dedikasi yang tinggi akan ilmu pengetahuan dan semenjak abad ke-17 di jaman itu hanyalah jaringan intelektual Islam yang mempunyai jaringan kuat dan utama di Nusantara.
Dus di Kerajaan Banjar para keluarga pengislam ini akhirnya menjadi intilektual baru khususnya ulama dan kemudian menjadi kelas bangsawan baru dengan mengadopsi gelar-gelar setempat, hal yang sama terjadi di pulau jawa.
Keluarga para pengislam
Salah satu catatan silsilah yang bisa kita teliti adalah dari keluarga Ronggo pertama Banjarmasin, gelar Kiai pada datu buyutnya memperlihatkan sebuah jabatan Birokrasi, dan keluarga ini tidak berkaitan dengan keluarga bangsawan utama yaitu para keturunan para sulthan banjarmasin. Keluarga ini masih satu turunan dengan keluarga syekh arsyad al-banjari, permasalahan siapa diatas tokoh utama dan pertama dalam keluarga ini yang dikaitkan dengan keluarga Awaliyin dari marga Al-Idrus masih merupakan berdebatan dengan data yang tidak akurat.
Salah satu keluarga yang paling berpengaruh dikerajaan banjar di abad ke diakhir abad ke 18 adalah keluarga Adipati Singasari yang menjadi raja banua lima, keluarga ini memindahkan keraton raja dari negara ke sungai banar amuntai, adipati singasari dipercaya bagian dari “Orang Sepuluh” yang berhasil mempertahankan banua lima dari serangan orang-orang bugis dari utara tepatnya dari kerajaan paser,keturunannya mengaku jika mereka keturunan dari para pengislam dari demak melalui cirebon, salah satu cucu dari anak perempuannya akhirnya menjadi tokoh terkenal saat perang banjar yaitu Raden Adipati Danureja, keturunan keluarga ini mempunyai gelar anang atau nanang-nanangan banjar.
Raja dalam kesultanan banjar merupakan wilayah bawahan kesultanan yang dipimpin oleh raja dan keturunannya, kerajaan yang tetap eksis setelah kesultanan banjar dibubarkan salah satunya adalah kerajaan cantung di kotabaru. Keluarga lain yang mengaku keturunan dari para pengislam adalah keluarga kandangan yang berasal dari kecamatan padang batung, pengislam itu dipercaya berlabuh didesa karang jawa padang batung, keturunan mereka merupakan tokoh-tokoh besar dari kandangan, salah satunya adalah Hasan basri, H.M Said dan lainnya.
Keluarga lain yang dapat kita lihat adalah keluarga barabai, keturunan para pengislam didaerah ini terkenal mengadopsi gelar traditional banjar Andin Rama, keturunannya merupakan raja diwilayah batang alai dan labuan amas, bahkan beberapa ada yang menjadi kepada distrik di negara. Salah satu keturunannya yang terkenal dikalangan ulama traditional adalah Kiai Dipasanta yang mana buyut laki-lakinya adalah tuan Guru Abdurraham Siddiq atau datu Sapat di tembilahan Riau. keturunannya yang lain Andin Murad yang pernah menjadi Kiai Besar di negara, nama lain adalah Kiai syekh Syihabudin yang menjadi kepala Distrik negara, anak dari syekh Syihabudin ini adalah ulama besar terkenal di Nagara yaitu Surgi Tuan.
Dalam sejarah Islam banjar khususnya diakhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 kita tidak akan pernah bisa lepas dari keluarga syekh arsyad albanjari yang banyak disebar diseluruh wilayah banjar khususnya untuk menjadi bagian dari kerapatan Qadi diberbagai wilayah.
Diaspora inteliktual Banjar di awal abad 20
Situasi politik setelah perang banjar menjadi salah satu penyebab migrasi besar dari orang banjar ke daerah lain, khususnya sumatera, kepulauan bangka belitung, kepulauan riau dan semenanjung malaya, sebagian kecil berlabuh di kalimantan barat, brunei, dan sandakan di Sabah borneo utara. Beberapa keluarga bangsawan andin rama dikawasan Barabai menjadi salah satu bangsawan paling banyak yang bermigrasi, penyebab paling utama dari migrasi ini adalah rasionalisasi kekuasaan kolonial yang menggeruguti kekuasaan khusus para bangsawan diawal abad ke 20 yang menyebabkan terjadinya perpecahan keluarga dan penyebab lainnya adala kekalahan dari sultan banjar dipengasingan di Hulu Barito.
Keturunan-keturunan dari para pengislam yang bermigrasi ini menjadi salah satu tonggak jaringan intelektual didaerah baru diperantauan, meski sebagian dari mereka menghilangkan gelar-gelar kebangsawanannya, namun jejak sejarah keluarga masih bisa ditelusuri didaerah asal, salah satu keluarga andin rama barabai yang terkenal dan pernah lama berada dirantau adalah keluarga besar saadillah Mursyid, kakek saadillah Mursyid merantau dan menikah dengan wanita bangsawan Deli. Contoh lain adalah seorang ulama lain Datuk Haji Abdul Jalil Hasan yang lahir dibarabai dari keluarga Andin Rama kemudian menjadi menteri di Kerajaan johor malaysia, beliau juga menjadi salah satu penggagas berdirinya Universitas Kebangsaan di Malaysia.
Kita juga akan mendapati banyak nama dari orang-orang banjar diperantauan yang sebagian besar dari mereka apabila di telisi sejarah keluarganya merupakan bagian dari jaringan keluarga pengislam, bukan hanya dari keluarga andin rama namun juga keluarga lainnya.
Politik etis diawal abad dua puluh menyentuh daerah kalimantan selatan, para putra bangsawan setempat memasuki sekolah modern barat, kolonial memerlukan para birokrat pribumi sebagai pegawai kolonial yang murah dan tahu balas budi kepada pemerintah kolonial. Para birokrat modern dengan pendidikan barat ini lah yang banyak berkontribusi dalam masa transisi diawal kemerdekaan, mereka kembali menempati posisi penting dipemerintahan setelahnya, karena kita tidak mempunyai sesiapa lagi orang-orang yang terpelajar selain mereka.
Beberapa dari mereka berhasil menduduki posisi tinggi di pemerintahan orde lama seperti menjadi menteri dan bahkan wakil perdana menteri, periwra tinggi di TNI dan POLRI, keluarga ini juga banyak bekerja di pemerintahan pusat serta berdomisili tetap di pulau jawa, mereka tidak dikenal ditanah banjar, sampai beberapa dekade yang lalu masih ada bagian dari keluarga-keluarga ini yang menjadi duta besar atau bekerja di kedutaan di negeri-negeri besar seperti di Rusia dan Australia. Beberapa malah berdomisili di negara barat. Beberapa tokoh dirantau tetap masih menjalin hubungan dengan daerahnya seperti Tuan Guru Abdurahman Siddiq yang menulis buku sejarah Keluarga Sajaratul Arsyadiyah, beliau beberapa kali pulang ke kampung halaman seperti ke Barabai hanya untuk meneliti dan melengkapi data-data untuk menulis buku tersebut.
Semoga bermanfaat.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: