Posted by: alfigenk | February 11, 2016

Paradigma Instan Liberalism Islam di Media Sosial

Paradigma Instan Liberalism Islam di Media Sosial

Paradigma Instan Liberalism Islam di Media Sosial

Oleh: Andin Alfigenk Ansyarullah Naim

Beberapa bulan yang lalu saya ditanya oleh adik Ipar yang kebetulan baru saja mengambil kuliah disebuah Universitas Islam Swasta ternama di pulau jawa,
“apakah abang lulusan dari kampus ini dan fakultas ini ?saya jawab saja “iya” dengan biasa saja,

“aduh bang, kata dosen saya fakultas abang itu sarang islam liberal, saya disarankan harus hati-hati bergaul dengan mahasiswa atau alumninya”

Sayapun jadi tertawa kecil dan tidak menanggapi lagi pernyataan terakhir dari adik ipar saya tersebut.

Memang sewaktu saya kuliah beberapa tahun yang lalu saya pernah mendengar bahwa fakultas saya disebut fakultas paling liberal se-Indonesia, Saya tidak mengerti atas dasar apa kampus saya tersebut dicap sebagai kampus paling liberal se-indonesia. Apakah karena lulusannya yang cenderung banyak perkecimpungan dalam ranah pemikiran islam modern atau bagaimana saya kurang mengerti.

Tapi ketidakmengertian saya mungkin akan membuat tuduhan lain, bisa saja saya dituduh tidak benar-benar serius kuliah sehingga tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, wah saya akan tersudut dong.  Dan atau malah bisa saja saya diterka sudah terjangkiti keliberalan sehingga saya tidak sadar jika saya seseorang yang berpikir sangat liberal. Itu bisa saja bukan? Saya tidak akan menutup diri dengan tidak menerima tuduhan itu, tidak ada ruginya bukan?

Islam liberal masih dilihat berwajah negative bagi sebagian besar umat islam di Negara kita bahkan dinegara tetangga yang serumpun disana.

Akhir-akhir ini mulai begitu ramai dimedia social tentang pertentangan dan kampanye pemikiran liberal dalam islam, bahkan saya melihat media social menjadi sarana jitu promosi gaya berpikir liberal dalam islam ini. tanggapan pro kontra pun kadang membuat rusuh media social tersebut.

Menariknya adalah jika diskursus pemikiran liberal dalam islam dikampus-kampus biasanya sangat akademik dengan gaya bahasa laut tingkat tinggi yang memusingkan untuk didengar dibaca apalagi dipahami, sebaliknya dimedia social malah pemikiran liberal ini disajikan dengan renyah, nyaman, enak, singkat padat dan dapat dipahami dengan mudah bahkan oleh orang awam sekalipun.

Saya tidak akan memulainya dengan apa itu definisi islam liberal, akan ada beberapa variasi definisi dengan derevasi yang hampir mirip jika kita mencoba mencarinya di search engeine. Atau bahkan tentang sejarahnya dimasa lalu.

sesungguhnya liberalisme pemikiran islam sedang dalam masa berbunga-bunga saat ini, mereka mendapatkan momentumnya, kelompok pengusung pemikiran ini telah memasuki sejarah baru dimana kerangka berpikir liberal dalam memandang islam yang mereka tawarkan telah mendapati sambutan yang meriah dan menggembirakan khususnya dalam dunia media social dimana propaganda dan promosi pemikiran liberal sangatlah menjadi prokontra.

Apakah kebetulan saja jika kita melihat pertentangan dimedia social ini merupakan kelanjutan daripada pertentangan dukung mendukung ketika Pilpres kemarin? Pemikiran islam liberal mendapatkan sambutan yang baik karena ternyata banyak tokoh-tokoh pemikir liberal ini memberikan dukungan terhadap salah satu tokoh pemenang Pilpres yagn diusung salah satu partai paling sekuler, sehingga perangkat pendukung calon presiden itu termasuk media pendukungnya baik didunia maya dan nyata digerakkan yang kadang sering kali memakai argumentasi-argumentasi pemikiran liberal untuk melawan calon presiden lainnya yang lebih didukung oleh golongan pemikir traditional dan moderat.

Saya tidak mengatakan disini sebuah organisasi keagamaan liberal dan sekuler melawan organisasi keagamaan  traditionalis dan moderat, tapi saya mengatakan para pemikir liberal sekuler melawan traditional dan moderat.

Begitulah, kadang-kadang kita akan melihat beberapa status dukungan yang membabi buta dengan memakai argumentasi-argumentasi liberalnya,baik oleh pasukan dunia maya yang tidak jelas siapa bahkan oleh akun-akun personal yang jelas dan nyata. Anak-anak muda pun beramai-beramai seolah mendapatkan kesepahaman pemikiran dan terbuai dengan gaya berpikir liberal tersebut yang secara pribadi saya sebut dengan paradigma instan dari islam liberal.

Lalu selanjutnya apakah hal itu salah?

Sebagai seseorang yang mempunyai basic pendidikan islam dan sedikit memahami dinamika, dialektika dan diskursus pemikiran islam saya tentu sangat menyayangkan jika paradigma instan ini berkembang liar, saya mempunyai kekawatiran hal ini malah akan menjadi kontra produktive bagi anak-anak muda yang menyepakati cara berpikir liberal tanpa memahami basic kerangka berpikir islam, sederhananya mereka hanya mengambil liberalnya saja tanpa ingin mendalami islamnya itu sendiri, saya rasa ini sangat jauh dari semangat awal pembaharuan pemikiran islam dimasa lalu. Bukan membebaskan dan mencerahkan seperti yang diharapkan tapi malah memperburuk keadaan.

Dalam sejarah, jalur politik seolah menjadi jalan terbaik dalam menggapai perubahan, sekulerisme yang menjadi trend dunia diberbagai Negara menjadi menjadi harapan sebagian pemikir liberal sehingga mereka seolah satu hati bersama kelompok-kelompok politikus sekuler.

Andai saja adik ipar saya membaca tulisan ini maka akan saya akan menjelaskan bahwa saya sangat mencintai Allah dan Rasulnya Muhammad, bahwa saya mencoba terus mempelajari Agama Islam yang saya anut dengan sepenuh hati, dengan lembut dan penuh dengan kebaikan prasangka hati. Saya ingin menetapkan diri sebagai seorang hamba, bukan sebagai orang yang mendekti Tuhannya, bukan orang yang mencoba mengaturnya hukum-hukum Tuhan dengan sekehendak nafsu sendiri.

Saya tidak antipati dengan pemikiran liberal, mereka punya andil dalam pencerahan dengan  ide-ide dan tafsiran-tafsiran yang tidak populer dari masa lalu atau pun masa kini. Tapi tentu dalam batas-batas yang harus saya pegang kuat sebagai seorang hamba yang beriman kepada Allah.

Saya adalah pengagum Al-Quran, mukjizat utama dalam islam, rujukan utama dalam hukum-hukum yang tidak putus-putusnya memberi petunjuk dan menantang manusia untuk melawannya dengan memberi tandingan dalam bentuk satu beberapa ayat saja.

Argument saya tentang agama saya biasanya selalu disambut dengan kesinisan oleh para penggemar liberalis, argument saya pasti akan dinilai naif dan lugu, hal ini adalah hal biasa dalam diskusi dalam perkuliahan, bahkan sangat biasa.

Saya akan bercerita kepada adik ipar saya bahwa Liberalism dalam Islam bukan hanya monopoli orang-orang keren kelas menengah atas dikota sana, liberalism pemikiran dalam islam dapat kita temui dengan wajahnya tersendiri dalam aliran-aliran sempalan islam di daerah-daerah yang bahkan kadang lebih radikal, danitu bukan lah permasalahn baru, dalam sejarah islam dinusantara hal seperti ini selalu mewarnai perjalanan sejarah islam itu sendiri.

Aliran-aliran sempalan muncul sebagai bentuk reaksi setelah mereka merasa mendapatkan otoritas yang kuat dari Tuhan dan bersifat mistik sehingga mereka merasa bebas melakukan dan membentuk cara beragamanya sendiri, yang tidak jarang melangkahi konsep-konsep traditional secara radikal. Faktor penyebabnya bervariasi dari politik sampai ekonomi, dan tentu saja motivasi keberagamaannya sendiri.

Sayangnya mereka sering kali tidak dilirik oleh pemikir liberal yang lebih sering berasal dari kelas menengah dan berlatar belakang pendidikan formal yang baik, liberalism lebih sering mengambil cara dan corak filsafat barat yang lebih sistematis dan rasional dan bertedensi dalam matirealism atau nihilism, itu lebih terlihat keren dan menjual, daripada pemikiran Timur yang lebih berbau mistik.

Kritik saya terhadap pemikiran islam liberal ini adalah mereka tidak seleberal yang kita lihat, mereka cenderung pilih-pilih, saya tidak meragukan mereka akan menjadi konsevatif dengan caranya sendiri suatu hari nanti tapi yang pasti mereka sedang mencari bentuknya sendiri, ini manusiawi.

Saya mengagumi Gusdur sebagai salah satu tokoh yang dapat memadukan dan meresapi pandangan traditional, moderat dan liberal dan sebagainya, dengan pengaruh yang dia miliki sebagai salah satu cucu tokoh ulama besar Indonesia, baik ketika dia memimpin NU dan ketika Menjadi Presiden Republik Indonesia, beliau seolah mempunyai keunikan tersendiri dengan pengaruh yang dia miliki ketika memutuskan dan mencetuskan pemikiran-pemikirannya bahkan dalam kebijakan-kebijakan yang dia ambil dan putuskan. Gusdur seseorang yang dianggap mempunyai pengaruh mistik namun juga dianggap terkadang berpikir liberal, sebagai pemimpin beliau harus mengambil sikap dan memutuskan sesuatu bukan?

Ada sebuah pengalaman menarik yang pernah saya alami, dan rupanya hal ini juga pernah dialami beberapa kenalan saya. Dalam sebuah pembicaraan, saya langsung di sekak sebagai “belum sampai” dan itu dilakukan ditengah-tengah orang, saya akhirnya tak mampu membuka mulut lagi, se logika apapun logika saya, semanis apapun sejarah yang saya ungkapkan, sekuat dalil yang saya ingin katakan seolah mental dengan mudahnya, saya dianggap belum sampai, belum sampai ilmunya, belum tahu apa-apa tentang tuhan dan agama, hal ini bukan seperti bercengkramanya Rumi dan kekasihnya, apa mau dikata, saya hanya terdiam, dan membiarkan dia menceritakan tentang dirinya dan tuhannya dengan caranya sendiri, dan jujur saya menikmatinya.

Itulah mungkin sebuah agama dalam menjadikannya penuh pesona, rasionalitasnya sendiri yang menghanyutkan, Tuhan diketahui jarang atau bahkan hampir tidak pernah menurunkan sebuah agama melalui rasulnya tanpa sebuah Mukzijat yang menyertai pembuktiannya.

Agama mempunyai isi sebagai fitrah manusia yang ingin selalu kembali kepada Tuhannya.

Kita mungkin bisa mengatakan sembahyang, puasa, berhaji itu tiada gunanya bahkan hanya seremonial yang melelahkan, ibadah yang tidak masuk akal, ibadah seharusnya bisa dimaknai bukan dalam batasan ritual belaka, iya jika kita melihat dengan telanjang sahaja, memang begitulah, argumentasi diatas terasa masuk akal sekali, selanjutnya sembahyang tidak lah perlu harus selalu dilakukan dengan gerakan dan waktu yang diatur ketat, puasa tidak selalu harus bulan ramadhan, dan berhaji harus direformasi dengan tidak harus berhaji ke mekkah dan dalam bulan haji. Hal ini pun punya potensi untuk dijabarkan lebih bebas lagi, seperti sembahyang seharusnya tidak lah diperlukan lagi, puasa bukanlah sesuatu yang diharuskan atau berhaji adalah sebuah kebodohan, liberalism tanpa dasar tentu akan sangat liar bukan. Bukan saja menyebar dalam masalah furu’ tapi bahkan ke masalah ushul.

Sejatinya, pemikiran liberalis dalam islam bukan sesuatu yang tanpa kritik, dialektika ini akan menarik jika kita mempunyai dasar keilmuan yang memadai sehingga diskusi pun akan dalam tataran yang imbang dan ideal. Sangat tidak nyaman memang mendengar misalnya seorang mahasiswa tingkat satu sudah berani dengan lantang berucap dengan percaya diri dalam pola pikir liberalismnya, saya tidak meragukan keilmuan yang dia miliki, tapi tatacara dan etikanya saja yang tidak manis, sedangkan kita tahu agama itu sebagian besar bermain dalam akhlaki dan etiket.

Alih-alih orang yang memiliki dasar pendidikan islam saja disarankan untuk lebih teliti dan etiket yang baik, maka mereka yang tanpa dasar itu pun pasti akan sangat menyenangkan apabila mereka juga bermanis-manis.

Saya tentu saja orang yang percaya diri dalam membela Agama saya, saya yakin orang-orang berkoar liberal itu pun masih membutuhkan Tuhan dan agama dihatinya, meski dengan cara dan gaya yang mereka inginkan sendiri, sebagian mereka lebih terlihat ingin mendikte Tuhan dan agama dari pada membuka lembaran baru bagi pemikiran agama islam yang lebih humanis, pluralis dan sebagainya.

Semoga bermanfaat.

*barabai

juga dipublis di kompasiana.com tanggal 29 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: