Posted by: alfigenk | February 26, 2016

Tentang Kalsel 2015

1426062532768121098

Tentang Kalsel 2015

Oleh: Andin Alfigenk Ansyarullah Naim

Tahun 2015 ini akan menjadi tahun politik bagi Kalimantan selatan, pemilihan gubernur baru dan pemilihan beberapa kepada daerah kabupaten dan kota.

Saya agak bimbang ketika terlintas niat hati ingin menulis tentang tahun politik daerah saya ini, menulis tentang daerah sendiri kadang kala menjadi bias yang takarannya sulit diperkirakan. Teman-teman saya dalam berdiskusi biasanya meghindari diskusi tentang daerah yang sesungguhnya kami cintai ini, sinisme dan apatisme terlihat sangat samar namun mendominasi, dengan tegas bisa dikatakan perpolitikan daerah sangat tidak menarik untuk dibicarakan dan didiskusikan diantara kami, apakah yang menjadi penyebabnya? Salah satu jawabannya mungkin adalah hal itu tidak banyak berguna bagi kami ditengah-tengah karakter masyarakat dan kalangan elit yang jarang bisa menerima tanggapan dan tulisan atau sesuatu yang kritis diluar komunitas mereka, karakter masyarakat daerah khas adalah sangat tidak nyaman dengan seseorang atau kelompok baru yang mencoba-coba ikut andil dominasi yang sudah ada yang sudah mapan. Kami berpikir hal ini akan membuang-buang waktu saja, tidak ada salahnya membiarkan apa yang sudah mapan kenyang dengan kemapanannya sendiri.

Politik Nasional terasa lebih memikat dengan beberapa batang rokok dan kopi susu. Ahh bagaimana dengan Rumah kaca Abraham Samad, ahh apakah mungkin penulisnya membaca rumah kaca pramoedya?

Bagi saya pribadi, tidak masalah siapapun yang akan menjadi gubernur, ini sangat diplomatis bukan haha

Sebagai masyarakat yang baik tidak salahnya saya punya impian mempunyai daerah yang lebih baik dan terus lebih baik, yang bukan saja masalah fasilitas dan infrastruktur tapi juga masyarakatnya berkembang semakin baik, iya, dengan kata lain saya ingin mengatakan bahwa kedua hal diatas perlu dibangun kembali.

Mari kita ambil contoh, meski pemangku kebijakan kita sering ke luar negeri, melihat indahnya dunia, mengagumi kemegahan kota-kota yang dilalui, kadang mereka berbagi kepada kita melalui fhoto-fhoto mereka yang mereka pajang diberbagai tempat, termasuk dimedia social jika mereka punya, namun sayang seribu kali sayang mereka tidak mampu mengaplikasikannya didaerahnya sendiri dimana kebijakan malah ada ditangan mereka sendiri, ironis bukan, tata kota amburadul, alam hancur, ekosistem kita berguncang-guncang, jalanan tidak bersih, lalu lintas kita sangat kasar, dan sebagainya. Apakah ada didaerah kita seaman dan senyaman kota-kota diluar negeri yang telah mereka kunjungi, berharap berjalan dengan aman dan nyaman tidak ada sampah dan preman serta pemandangan arsitektur yang bagus ahh itu adalah mimpi saja.

Kira-kira apakah gubernur nanti berani memperdayakan Satpol PP sebagai polisi masyarakat yang sebenarnya, siap patroli siang malam menjaga dan melayani masyarakat, juga membuat Satpol PP khusus mengatur lalu lintas, ini akan banyak membentuk badan penyidik di Satpol PP untuk tindak pidana ringan supaya langsung bisa diajukan ke kejaksanan, ini akan sangat membantu masyarakat, karena POLRI lagi sibuk berpolitik dan Gubernur juga tidak punya kekuasaan apa-apa terhadap POLRI.

Sayup-sayup kita mendengar ada tokoh nasional yang orang asli kalsel ingin dicalonkan menjadi gubernur, beliau selalu vokal terhadap pemerintah yang berkuasa, beliau juga merupakan tokoh reformasi yang diakui perannya, jarang sekali orang banjar yang menasional mau kembali membangun daerah, politikus lokal akan punya lawan yang menarik, sehingga tebar pesona mereka selama ini akan mendapatkan tantangan yang benar-benar mumpuni.

Ahhh menulis ini membuat saya mengantuk, apa juga guna saya menulis panjang-panjang lagi. Tapi politik tetaplah sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, para pengamat akan terlihat sangat cerdas dengan celotehannya masing-masing, dan para politik itu sendiri bermain cerdik dengan kecerdikannya sendiri-sendiri, sedangkan masyarakat bawah menjadi penonton yang lebih sering bermain dengan emosi serta materi daripada logika dalam menikmati peraduan politik, hingga seringkali menjadi korban politik lagi dan lagi tanpa tahu kapan untuk tidak menjadi korban kegombalan politik tersebut.

Tapi begitulah adanya, politik dengan system yang telah disepakati, aturan main yang telah ditetapkan menjadi sarana pelampisan salah satu hasrat dasar mahluk hidup yaitu kekuasaan sebagai puncak cita-cita sifat politik yang dominan, hal tersebut tidak terlepas juga meleka pada manusia, seperti sering kita dengar manusia adalah mahluk politik, begitu lah.

dipublis juga di Kompasiana.com/alfigenk
tanggal: 10 Maret 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: