Posted by: alfigenk | March 11, 2016

Apakah kita membenci dokter?

1385559391572334775

Apakah kita membenci dokter?

Oleh: Alfianoor Ansyarullah Naim

Saya adalah seorang dokter, tepatnya Dokter Kecil, saya mendapatkan gelar tersebut saat saya masih di Sekolah Dasar setelah mengikuti sebuah pelatihan kesehatan diibukota kabupaten selama beberapa jam, gelar itu rasa-rasanya belum ada yang mencabutnya dari diri saya. Meski saya kesulitan membuktikannya karena serfitikatnya sudah hilang lama sekali.

Kita kembali ke pertanyaan diatas, apakah anda membenci dokter?.. jika iya, aduh, anda membenci saya juga dong.

Melihat perkembangan berita hari ini dimana demo para dokter telah menghasilkan lebih banyak cacian daripada dukungan. Lihat saja berbagai tulisan serta komentar-komentar yang ada lebih banyak kontra dan menilai negative kepada para dokter. Maka Fenomena ini saya sebut sebagai bentuk rasa kebencian masyarakat kepada para dokter atau seseorang yang berprofesi kepada dokter.

Komentar-komentar negative serta cacian yang terlontar itu memang lebih terlihat sangat emosional dan menuntut. Emosial karena biasanya berdasarkan pengalaman dia yang tidak menyenangkan ketika berinteraksi dengan dokter dan menuntut ketika mereka juga mengutarakan agar dokter lebih memperhatikan tanggung jawab profesinya yang diatas sumpah itu serta memberikan pelayanan yang lebih sempurna. Saat ini dianggap saat yang tepat untuk menghujat dokter secara bersama-sama dan meluapkan segala rasa kebencian sepuasnya.

Sungguh kasihan nasib dokter saat ini, ternyata banyak masyarakat membenci mereka

Fenomena ini menjadi menarik karena kita semua tahu bahwa dokter adalah Subjek vital dalam ranah kesehatan, masyarakat sebenarnya membenci seseorang dimana mereka sangat ketergantungan terhadapnya, membenci seseorang yang sebenarnya mereka sendiri tidak pernah lepas daripadanya. Lihat saja, ketika seseorang sakit maka kita biasanya menyarankan dia agar pergi ke dokter untuk memeriksa sakitnya, ketika anak kita sakit, kita membawanya ke dokter, apakah ada diantara kita yang membawa anak kita ke dukun? Atau menyarankan teman kita yang sakit agar sesegera mungkin membawanya ke dukun untuk diobati ? saya yakin orang-orang akan mengerutkan dahinya ketika mendengar pendapat anda. Bisa jadi teman anda atau istri atau suami kita langsung membenci kita dengan pendapat kita untuk membawa anak ke dukun.

Namun melihat komentar dan cacian yang ada, sepertinya rasa benci itu sudah terlanjur ada dan tumbuh. Sungguh saya menyarankan kepada mereka yang merasa ada rasa benci kepada dokter agar jangan berobat kepada dokter, berusahalah untuk menghindari dokter, saya takut rasa benci anda akan menjadi sesuatu yang berubah negative yang nyata dalam perilaku anda, seperti anda akan memukul dokter itu ketika anda tidak puas terhadap pelayanannya atau ketika penyakit anda tidak sembuh, atau bisa saja anda akan menuntutnya secara pidana. Sangat disarankan mulai sekarang dan secara secepatnya agar anda mencari alternative  pengobatan lain selain dokter. Hal lain yang patut dipertimbangkan adalah rasa harga diri anda sebagai seseorang yang mempunyai rasa benci agar tidak menelan ludah sendiri. Sungguh malu rasanya jika hal itu terjadi.

Jika ada pertanyaan lagi seperti apa sih yang salah jika para dokter berdemo? Apalagi jika itu adalah sebagai bentuk solidaritas kepada teman mereka. apakah seseorang yang berprofesi sebagai dokter akan dicabut hak mereka untuk berdemontrasi di jaman kebebasan berpendapat dan mengungkapkan pendapat, dijaman demokrasi seperti saat ini?  Apakah dokter akan disamakan dengan TNI yang saat ini dinegara kita tidak mempunyai hak suara?

Jika kita membenci polisi, kita dapat menuntut mereka untuk dibubarkan digantikan dengan institusi Negara yang lain, seperti satpol PP atau TNI. Apakah kita bisa menuntut dokter dihapuskan dan digantikan dengan yang lain? Bagaimana jika nanti kita sakit?..bagaimana nanti jika anak kita nanti sakit?..

Para dokter memang terkadang menyebalkan, mereka kadang melayani kita tidak terlalu baik, mau gimana lagi, mereka manusia juga, lelah dan capek melayani pasien yang antre banyak, kita juga sama menyebalkannya bagi mereka, berbicara panjang lebar berkeluh kesah tentang penyakit kita, tidak patuh akan nasehat-nasehatnya, curhat kepada dokter dengan tanpa ingat waktu, tidak taat minum obat dan sebagainya, kadang kita marah dengan obat yang diresepkan dokter yang mahal, namun kita juga marah jika diberi obat yang murahan yang tidak paten. Para dokter yang kita benci itu rupanya memberikan sangat banyak untuk kita.

Atau jangan-jangan kita hanya cemburu dan iri dengan mereka,  sewaktu kecil di sekolah taman kanak-kanak ketika ditanya apa cita-cita kita? Jika jujur menjawab, sebagian dari kita mungkin memberi jawaban ingin menjadi dokter. Orang tua kita pun dengan bangganya dengan cita-cita tersebut. Ketika waktu berlalu kita-kita ini malah gagal mencapai cita-cita atau malah bermimpi dengan impian cita yang lain. Kecemburuan dan rasa iri dengki adalah sungguh bukan lah hal yang baik, itu memakan kebaikan kita sendiri sendiri.

Menjadi dokter? Apa sih enaknya jadi dokter? Kuliahnya lama, ada yang mengatakan kuliah dokter itu mahal pula? Setelah lulus kuliah harus ikut KOAS selama beberapa tahun sebagai syarat profesi, haa katanya capek dan lelah luar biasa, siang dan malam di rumah sakit dibawah bimbingan, kadang gagal kadang berhasil mendapat nilai yang baik dan lulus. Saat ini katanya ada tambahan lagi, setelah KOAS harus magang selama beberapa tahun untuk mendapatkan gelar Dokter. Saya pribadi tidak mau menjadi dokter, untuk apa juga, saya tidak sanggup dan tidak senang dengan pekerjaan dirumah sakit yang bau obat dan bau darah, apalagi jika ruangan saya bersebelahan dengan kamar mayat. Saya akan senang jika ada surat resmi yang bisa mencabut gelar Dokter kecil saya agar saya bisa terbebas dari beban saya dan saya tidak perlu terikat dengan yang namanya kemanusiaan lagi. Apalagi saya juga dibenci orang dengan gelar itu.

Atau apakah kita boleh atau dapat berpikir kembali akan rasa benci kita terhadap para dokter ini? Apakah rasa benci kita ini adalah benar? Apakah rasa benci kita ini adil pada mereka atau diri kita sendiri?

Bagaimana jika kita juga bisa melihat tuntutan mereka dalam demo tersebut ? mungkin saja tuntutan mereka untuk lebih bisa menenangkan hati mereka dalam melayani kita, agar mereka tidak takut mengobati anak kita, agar mereka tidak takut menyuntikkan obat kepada kepada kita yang sakit dan sebagainya. Bisa saja tuntutan mereka itu adalah untuk kebaikan kita juga. Maka berikan lah mereka kesempatan untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Tidak lah usah kita mencaci mereka, jika saja mereka berpaling arah membenci kita maka tidak lah selama ini mereka berusaha mengobati kita, mengobati anak kita, mengobati keluarga kita, mereka menyayangi kita dengan keterbatasan mereka, tidak ada dokter yang ingin pasiennya terus sakit, maka tidak ada dokter yang senang ketika pasiennya mati, itu akan selalu menghantui mereka.

Penilaian saya selanjutnya akan berbagai komentar negative dan cacian kepada para dokter ini adalah bahwa rasa benci itu merupakan bagian dari rasa cinta, masyarakat sebenarnya membenci dokter karena mereka mencintai dokter, dokter adalah jantung hati masyarakat, seperti nama jantung itu sendiri dalam bahasa arab disebut Kalbu, artinya adalah sesuatu hal yang berbolak-balik, kadang-kadang hati kita senang dan sesaat kemudian hati kita menjadi sedih. kadang benci kadang cinta, Dokter dan masyarakat sebenarnya saling mencintai satu sama lain.

Kenapa kita tidak jujur, ini sungguh indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: