Posted by: alfigenk | April 1, 2016

Jalan Ironi Rumah Tradisional Banjar

Jalan Ironi Rumah Tradisional Banjar

Oleh Andin ALfigenk Ansyarullah Naim

Rumah tradisional merupakan masterprice budaya sekaligus manivestasi peradaban, sebuah perlambang penting yang bukan hanya penuh makna dan simbol, tapi sesungguhnya juga sejarah dan ilmu karena dibangun dan disempurnakan dalam perjalanan panjang sehingga menjadi sempurna dalam bentuk dan guna serta simbol dan filosofisnya.

Mendiskusikan rumah tradisional Banjar sungguh telah menjadi ironi tersendiri, seperti juga banyak terjadi pada rumah tradisional lain di Tanah Air. Untuk generasi muda, alangkah sulitnya jika ingin melihat atau mengetahui rumah tradisional Banjar, misalnya ingin melihat rumah bubungan tinggi ke mana kita harus mencari? Haruskah pergi ke Jakarta sana ke Taman Mini Indonesia Indah jika ingin melihat rumah bubungan tinggi yang megah besar dan indah itu?

Beberapa waktu yang lalu ada kabar tentang Pemerintah Daerah Hulu Sungai Selatan (Kandangan) yang ingin membeli rumah bubungan Tinggi di Desa Habirau Nagara. Berita ini tentu menggembirakan dan seyogyanya juga ditiru oleh pemerintah daerah lain. Rumah Banjar balai laki dan balai bini di Desa Pamangkih seharusnya dapat diakusisi pemerintah daerah Kabupaten Hulu Sungai Tengah sehingga rumah-rumah tersebut bisa dipugar ke bentuk aslinya yang lebih besar. Saat ini salah satu rumah di Pamangkih sedang dalam proses dibongkar atau dihancurkan.

Rumah Banjar bubungan tinggi di Desa Tarangan, Kabupaten Balangan seharusnya juga dapat menjadi simbol oleh pemerintah balangan. Termasuk rumah-rumah Banjar di Desa Sungai Durian di Kabupaten Tabalong jangan sampai hilang atau dibongkar oleh pewarisnya, seperti kasus rumah Banjar bubungan tinggi satu-satunya di Kabupaten Amuntai yang dibongkar beberapa tahun lalu tepat di perbatasan Desa Sungai Turak Dalam wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Sungai Durian Kabupaten Tabalong, itu sebuah musibah bagi bukti-bukti sejarah masyarakat Banjar.

Beberapa rumah Banjar juga dilaporkan masih berdiri kokoh di Desa Babuas di Margasari dekat perbatasan dengan Negara Daha di Kabupaten Tapin. Sayangnya desa itu sulit dimasuki karena harus menggunakan kapal, sedang jalan darat tidaklah aman dilalui meski di siang hari.

Seperti pengalaman selama bertahun-tahun, tidaklah nyaman jika menggantung harapan pelestarian cagar budaya dan sejarah rumah-rumah Banjar ini di tangan pemerintah. Karena harapan itu selalu saja berakhir tragis dalam kekecewaan, jalan terbaik adalah jangan pernah bekerja sama dengan mereka.

Di satu sisi juga sulit untuk kita berharap pemeliharaan rumah tradisional kepada pemilik atau pewarisnya, biasanya karena sudah tua umurnya banyak pihak yang merasa berhak dan akhirnya bersengketa.

Dengan membangun suatu organisasi berbentuk yayasan dan sebagainya di daerah juga biasanya membikin gundah hati, karena seringkali sumber daya manusia yang tidak selalu tulus.

Harapan terakhir kita terpaksa mencari atau menawarkan sebuah harapan kepada orang lain di luar komunitas suku Banjar sendiri untuk dapat memelihara atau mengakusisi rumah-rumah Banjar tersebut sebagai warisan budaya nasional, sebagai sebuah koleksi seni yang harus dipelihara, atau sebuah warisan peradapan dunia yang dapat dikagumi.

Jalan ini adalah jalan ironi rumah tradisional Banjar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: