Posted by: alfigenk | May 13, 2016

Aku Pulang

[FDR] Aku Pulang

sungai Barito...koleksi Pribadi

Aku Pulang

No: 57

Oleh: Andin Alfigenk Ansyarullah Naim

Aliran air mulai kelihatan menghitam, berbaur bersama warna biru, angin terasa segar bearoma dedauan dan tanah. “Muara Barito” kata temanku ..

Aku dan para penumpang lain sengaja menuju ke anjungan, memandangi airnya, kemudian memandangi jauh keasal air itu mengalir, aku harus menunggu beberapa jam lagi untuk sampai ke pelabuhan. Aku bersiap diri namun akhirnya mematung, membiarkan angin mengibar-ngibarkan semuanya dari tubuhku, pakaianku dan rambutku, aku berusaha cukup sabar. Laut jawa begitu besar dan cerah di belakang dan tanah kalimantan sebentar lagi aku injak.

Teman-temanku ada disekitarku dan beberapa dari mereka mencoba mengambil gambar dengan kamera mereka masing-masing. kami selau pulang dengan kapal laut,dalam perjalanan sehari semalam mengarungi laut, semenjak pesawat terbang semakin murah dan lebih nyaman lebih banyak mahasiswa yang menyukai terbang, tapi pelabuhan laut tak berubah menjadi lebih baik, tak ada persaingan dan kalah.

Penumpang di kapal ini lebih banyak para Sopir truk barang antar pulau, kapal ini merupakan rumah bagi mereka beristirahat, selain itu banyak penumpang yang minim uang yang rindu pulang membawa seluruh keluarga mereka untuk menginjak tanah leluhur, dan kami para mahasiswa yang memang tak mampu membeli tiket pesawat yang bagi kami tetap tak terjangkau.

Hati ini rasanya takut, tapi juga senang, kadang ingin mundur tapi tetap harus maju, rindu yang besar dan kadang juga mengecil, tidak pasti, hati berdegup-degup.

“Kita telah sampai”

Bandar masih, dipinggir sungai barito, bagaimanapun ada sesuatu yang berdebar kecil di dada, yang ingin orang-orang disini ingin miliki dan rasakan, kapal yang berangsur-angsur menyusuri dengan lambat serta merta juga membawa diri yang rindu dengan kecepatan yang sama, menikmatinya dengan lembut dan bertanya-tanya, membayangkannya dengan penuh rasa was-was akan gembira dan sedih akan kenangan dan harapan, penuh romansa, disuasana yang sebenarnya religios tetapi terasa mistik, perasaan campur daur seperti ini lah yang di ingini, ketika tidak mungkin untuk dapat berbalik arah, tapi juga memberikan banyak waktu menikmatinya dalam tanda tanya masing-masing.

Kami turun, setelah mempersilahkan orang lain lebih dahulu turun saling berebut

“santai saja kawan, kita akan tetap turun meski lebih lambat” aku katakan itu pada teman-temanku, hari sudah semakin senja.

“Kita lebih baik sabar, agar kita bisa menikmati moment seperti ini, kita akan jarang merasakannya”

“kita pulang kawan”

“aku akan ke pasar wadai

Kami sepakat akan pergi ke pasar wadai dekat gubernuran, menaiki angkot yang kami bayar bersama, sepuluh orang seratus ribu rupiah langsung ke tempat tujuan, kami sadar kami tidak ada yang puasa tapi kami lapar.

Aku memandangi semuanya dalam perjalanan, memandangi sungai, memandangi tanah lapang, memandangi rumah-rumah, bangunan-bangunan yang ada, memandangi orang-orang, pakaiannya, kendaraannya, perilakunya, gaya berjalannya, tersenyumnya, dan memahami pandangan matanya.

“Rasanya aneh bukan berada di daerah sendiri, tanah kelahiran sendiri”

“kita seperti orang asing, atau kita memang telah benar-benar menjadi asing”

“harus ada sebab bukan?”

“tetapi mengapa?”

“kumis kalian yang semakin panjang mungkin, disini tidak ada anak muda yang berkumis”

“mereka tidak seramah dulu”

“kamu mengharap terlalu banyak, kamu yang harus ramah terlebih dahulu”

“kamu tidak keren, kamu harus keren untuk mendapat simpati”

“lihat saja aku tidak percaya disini banyak plat kendaraan DA

“kita mungkin akan menjadi gila disini”

“kita sudah mulai gila dengan pembicaraan ini”

Kami berbincang dengan bercanda dan jujur, mengusap muka kami sendiri dan mengkritisi keadaan, sopir angkot hanya diam saja tidak berani bicara, dan itu membantu kami untuk tetap beradu pertanyaan dan jawaban.

Namun mungkin ada ketakutan dan kegembiraan dan ekspetasi yang berlebihan, menghadapi semuanya, dengan kepanikan yang wajar dan bertanya-tanya.

“ramadhan ini sungguh mistik, perasaan yang sama selalu kurasakan setiap kami menghadapinya”

“dari awal bulan dulu aku merasa ingin pulang tapi aku takut”

“apakah aku akan bertemu dengan mantan kekasihku lagi?”

“aku gembira akan bertemu ayah ibuku dan adik kecilku”

“aku merasa tidak ada apa-apa, tapi aku rindu ini”

Semuanya menjadi diam sampai kami merasa sunyi di tengah ramainya pasar wadai

“di sini banyak gadis cantik, dan sedari dulu aku selalu menginginkan salah satu dari mereka menjadi teman hidupku”

“mereka mempunyai bahasa yang indah, seperti kita” “ aku setuju”

Kami berpisah disebuah persimpangan, menuju rumah masing-masing dengan jarak yang jauh, menaiki angkutan lain dengan perhitungan akan uang yang semakin sedikit dan pertanyaan tentang harga sampai tujuan.

Semuanya ini ruyam, berkabut. Tak percaya diri dalam menjawab semua pertanyaan tentang rasa ragu dan bimbang.

Bulan Ramadhan membawaku pulang, membuatku bertanya tentang diri, harusnya aku dapatkan keinsafan, harusnya aku raih itu, ramadhan selalu memberiku pertanyaan akan aku lebih baik tahun ini dari tahun kemarin.

Di dalam mobil angkutan yang penuh orang ini aku merasa sendiri, Aku membuka sebuah buku kecil dari tas-ku, sebuah puisi pendek yang ku tulis dahulu

Aku melangkahkan kaki, ,

tiba di sudut pelabuhan

sungai barito yang segar,

energi kehidupanku yang dulu seperti merayapiku,

seolah-olah terjebak kenangan dan nostalgia,

memberi tenaga yang jauh merendahkan hatiku,,

perasaan kembali pulang, setelah rindu-rindu itu

………………..

angin disini membuai

matahari menyengat, mengiris

aroma daun-daun busuk rawa gambut yang harum

………………………………………….

aku menunduk untuk tersenyum

manakala suatu dulu

pernah bersedih ketika pergi

manakala suatu dulu

pernah menangis ketika hilang di pandang

……………………………….

sekarang aku kembali

aku  datang….menemuimu

—Muara Sungai Barito

—Pelabuhan Bandar Masih di Banjarmasin yang berada di Tepi sungai Barito, Dahulu bernama pelabuhan Trisakti

–Bahasa Banjar, Wadai: Kue.. pasar Wadai adalah pasar penjualan Kue basah khas banjar biasanya di buka selama Bulan Ramadhan saja

—DA: Tanda Nomor Polisi plat kendaraan Kalimantan selatan

Untuk membaca karya peserta lain silahkan menuju akunFiksiana Community dengan judul : Inilah Perhelatan & Hasil Karya Peserta Event Fiksi Drama Ramadhan

Silahkan bergabung diFB Fiksiana Community

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: